Translate this page:

Pernikahan Melati Dira


kompetensi

Bagian (01)
Aku gemetar menghadapi semua ini. Jantungku berdetak sangat... sangat kencang.

"Kenapa harus Dira sih Ma yang gantikan pengantin prianya," bisikku pada Mama, "kan masih banyak yang lain."
"Sudahlah Dir. Kamu gak akan rugi menikah dengan Melati. Dia gadis yang baik. Kasihan Om Sholeh. Undangan sudah pada datang. Bayangin gimana malunya mereka kalau sempat pestanya gak jadi. Penghulunya sudah nunggu dari tadi. Ayo pakai jasmu!" 

Ibu meyakinkan ku untuk menggantikan pengantin pria yang tidak jadi datang karena kecelakaan dalam perjalanan ke mari.
Aku merasa seperti tidak menapak bumi. Sebagian undangan tercengang kok pengantinnya ganti. 

Mendadak kakiku seperti sulit digerakkan. Lemas. Jantungku terlalu cepat berpacu. Keringat mulai membanjiri tubuhku.

"Ayo maju Dir!" desak Mama.
Aku maju juga memasuki ruangan. Duduk di tempat yang telah disiapkan.
"Gimana? Kamu sudah siap?" tanya penghulu.

Aku tidak bisa menjawab. Lidah keluh. Mama menyenggol lenganku mengisyaratkan agar aku menjawab pertanyaan yang diajukan penghulu. Ingin rasanya aku kabur. Berlari sekencang mungkin. 
Kulirik mempelai wanita. Matanya berkaca-kaca dan berusaha menahan tangisnya. Aku jadi kasihan.

"Bagaimana? Sudah siap?" Penghulu bertanya sekali lagi.
Dengan ragu aku menjawab, "Saya siap pak."
"Anda sudah siap?" tanya penghulu pada pengantin wanita yang agak jauh dariku.
"Siap pak," sahutnya. Suaranya begitu berat.

"Saya terima nikahnya Aisyah Melati binti Sholeh dengan mahar lima gram emas dan seperangkat alat shalat dibayar tunai."
"Gimana saksi?"
"Sahhh...."

Aku sepertinya mau pingsan tapi gak bisa. ALLAHU AKBAR! pekik sebagian undangan kaget mengetahui apa yang terjadi.

Setelah akad nikah dilanjutkan dengan resepsi. Banyak tamu bertanya heran kenapa pengantin prianya berganti. 

Aku sendiri tidak percaya dengan apa yang kualami sekarang. Andai waktu bisa diulang, aku tidak akan menghadiri pernikahan putri teman Papa itu. Bagaimana aku menjelaskan semua ini pada Mira, wanita yang sudah kupacari lebih dari setahun. Aku mencintainya.

Acara yang melelahkan itu pun selesai. Kami membawa Melati dengan berurai air mata. Om Sholeh dan istrinya tidak dapat menahan tangis melepas kepergian Melati.

"Terima kasih Feri atas bantuannya. Bagaimana aku membalas jasamu?" kata Om Sholeh sambil memeluk Papa.
"Sudahlah. Tidak usah berterima kasih seperti itu. Aku senang bisa membantumu," jawab Papa.
"Aku tidak bisa bayangkan bagaimana malunya kami jika putramu tidak menggantikan pengantin prianya."

*
Kamarku berantakan sekali. Aku memberesinya. Lalu mempersilahkan istriku masuk. Dia duduk di tepi ranjang. Aku duduk di sofa. Dia menangis. Aku terdiam tidak tau mau berbuat apa. Lama-lama aku kesal lihat dia menangis terus. Dia pikir aku juga senang dengan pernikahan dadakan ini. Aku juga korban. Aku tak tahan lagi.

"Hei..., siapa namamu? Hentikan tangisanmu! Bising tau...."
Bukannya diam malah tangisannya tambah kencang. Aku paling tidak bisa melihat wanita menangis. Kasihan bercampur kesal. Dia melihat ke arahku. Tatapannya itu. Akhh..., membuat emosiku melemah. Lalu aku duduk di dekatnya.

"Udah dong. Jangan nangis terus."
"Maafin aku bang."
"Udahlah. Gak perlu minta maaf gitu."
"Abang boleh ceraikan aku besok. Terima kasih sudah mau menyelamatkan nama baik Papaku."
Aku menarik napas dalam-dalam.

"Kita tidak mungkin bercerai besok. Apa kata orang-orang nanti. Lagian udah jelas orangtua kita tidak setuju."
"Jadi bagaimana bang?"
"Kita jalani aja selama beberapa bulan. Lepas tu baru kita bercerai."
"Tapi...."
"Tenang aja. Aku tidak akan menyentuhmu. Aku juga punya pacar. Sebenarnya kami akan segera menikah."

"Maafin aku bang."
"Ya sudahlah. Gak usah dibahas. Oh ya siapa nama kamu?"
"A'isyah Melati bang."

WUUIIIH!, kok ada ya  pengantin Cowok  diganti? dan kok pada mau ya? Cantik nggak ya Ceweknya? Tapi yang pasti perempuan tho@... masak banci jadi pengantin!
Terus bagaimana malam pengantinnya? Tunggu saja sambungannya besuk di nomor 02 ya Sobat


Bagian (02)
Hari ini aku dan Melati pergi ke KUA untuk mengambil buku nikah. Karena pernikahan kami mendadak dan tidak ada persiapan dariku, penghulu tidak bisa mengeluarkan buku nikah kami pada saat pernikahan.

Sepanjang perjalanan aku dan Melati diam saja. Kami langsung menemui pak Toha begitu sampai. Dia pun menyerahkan buku nikah itu.

"Pak bolehkah pasangan yang baru menikah bercerai?" tanya Melati.
Pertanyaan Melati membuat aku dan pak Toha terkejut.
"Kenapa kalian ingin bercerai?" pak Toha balik bertanya.

"Pernikahan ini bukan keinginan kami pak. Seperti yang bapak ketahui dari awal bukan bang Dira calon suami saya."

"Hmmm..., begini Melati, tidak semua keinginan kita itu baik untuk kita. Saya sangat terkejut ketika Orang tuamu membisikkan ke telinga saya calon mempelai pria kecelakaan. Saya katakan baik kita tunggu dulu kabar apakah pria tersebut masih hidup. Lalu Kakak kandungnya menelpon yang mengatakan calon suamimu sudah meninggal."

Pak Toha berhenti sejenak. Lalu melanjutkan kata-katanya.
"Orangtuamu panik. Yang hadir pada saat itu belum ada yang tau kecuali Ayahnya nak Dira. Lalu dia berbisik pada saya. Dia tanyakan bagaimana kalau Dira saja yang menggantikan mempelai pria agar tidak kacau. Saya katakan apakah anak bapak setuju. Dia bilang setuju. Saya masih ragu."

"Lalu Ayah nak Dira dan nak Melati berkata dari awal sebenarnya mereka berniat menjodohkan kalian. Tapi sebelum niat itu terlaksana, seorang pria baik datang melamar nak Melati. Jadi Ayahmu menyetujui lamaran itu dan batallah perjodohan kalian. Dan tidak disangka-sangka calon nak Melati meninggal pada saat ijab kabul akan dilaksanakan. Jadi ini semua skenario Alloh. Dia sudah atur semua. Kalian emang berjodoh dengan jalan seperti ini."

"Tapi pak, kami tidak bisa menjalaninya," sambung Melati. Aku diam saja. Malas berkomentar.
"Kenapa tidak bisa?"
"Sebelumnya kami tidak saling kenal."

"Kan bisa kenalan setelah menikah. Ayah kalian berteman baik. Perceraian itu halal tapi dibenci Alloh. Apalagi kalian ingin bercerai tanpa alasan yang bisa diterima. Kenapa tidak kalian jalani saja sebagai pasangan suami istri? Cobalah menerima takdir yang Alloh berikan. Yakinlah Alloh selalu memberi apa yang terbaik untuk kalian."

Melati terdiam. Aku mulai bosan.
"Ya sudah kami permisi dulu pak," aku menyela.
"Baiklah. Perbanyak shalat malam. Minta petunjuk dari Alloh," sambung pak Toha.
"Iya pak. Terima kasih sebelumnya," sahut Melati.

Kami keluar. Langsung menuju parkiran. Dan mobil yang kubawa meluncur.
"Hei Melati..., aku kan sudah bilang, kita tidak bisa bercerai sekarang. Bukan karna aku suka padamu. Tapi coba pikirkan kembali orangtua kita. Mereka pasti kecewa jika kita bercerai sekarang," kataku sambil mengemudi.

"Aku tidak siap jadi istri abang."
"Aku juga tidak siap tuk jadi suamimu. Kenapa kamu egois sekali. Kamu pikir aku senang dengan semua ini?  Aku juga punya pacar yang kucintai. Aku sampai gak berani angkat telpon dia. Aku gak bisa bayangkan bagaimana sedihnya dia jika tau aku sudah menikah."

"Jadi bagaimana?"
"Ya kita jalani aja dulu. Aku tidak mau buat Orangtuaku bersedih dengan perceraian kita. Dan kita juga tidak punya alasan kan untuk bercerai? Asal kau tau aku sudah janji besok akan melamar Mira, pacarku."
"Aku sudah jadi penghalang kebahagiaan abang."
"Makanya setidaknya kau jangan buat Orangtuaku bersedih. Kenapa kau tidak menghargai pengorbananku?"

Melati terdiam. Matanya berkaca-kaca. Aku benci ini. Aku paling tidak bisa melihat wanita menangis.
"Kita jalani aja dulu sampai 6 bulan. Bagaimana?"
"Baiklah bang. Tapi...."
"Aku tidak akan menyentuhmu." Aku memotong ucapan Melati. Aku tau arah pembicaraannya. 
"Satu lagi, aku tidak bisa meninggalkan Mira. Jadi aku tetap akan menemuinya."

"Itu tidak masalah bang."
"Bagaimana kalo kita pindah rumah saja?"
"Kenapa harus pindah rumah?"
"Emangnya kau mau tidur satu ranjang denganku? Kalo kita lain rumah dengan Papa dan Mama, kan bisa lain kamar."
"Iya juga. Aku tak jamin pria bisa menahan napsunya jika tidur berduaan dengan wanita. Apalagi kau cantik begitu"
"Kau....."

Aku kesal dengan ucapan Melati. Emang kuakui dia cantik. Tapi aku bukan type lelaki yang mau tidur dengan wanita yang tidak kucintai. Emang dia pikir aku lelaki murahan?
*
"Apa...? Bulan madu?" aku dan Melati serentak bertanya ketika Mama menyuruh kami berbulan madu ke Bali.
"Loh..., kenapa? Kalian kan sudah menikah jadi supaya hubungan kalian semakin dekat, kalian harus berbulan madu. Mama sudah siapkan semua," jawab Mama.

"Tapi Ma...?" aku protes.
"Gak ada tapi-tapian."
"Kapan Ma?" tanyaku kembali.
"Besok."
"Ya udah. Terserah Mama saja. Oh ya Ma, Dira dan Melati ingin pindah rumah."
"Kenapa?"

"Ya... supaya... supaya kami bisa berduaan terus. Iya kan Mel?" aku melirik ke arah Melati. Berharap dia juga meyakinkan Mama dengan keputusan kami.
"I... i... iya Ma," jawabnya gugup. "Kami kan butuh pendekatan Ma supaya kami saling mengenal lebih dalam."

"Biarkan saja Ma supaya mereka lebih leluasa saling mengenal," Papa menyela. Dia setuju dengan keputusan kami.
*
Aku dan Melati berangkat ke Bali untuk berbulan madu. Walaupun aku tidak menginginkannya. Kami menginap di Hotel Candi Beach Resort and Spa di kamar Ocean View Suite. Dari balkon bisa melihat pemandangan laut Bali yang jernih. Romantis sekali untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Tapi tidak menurutku. Semua ini Mama yang atur. Kalau saja aku bulan madunya denga Mira pasti sangat menyenangkan.

"Apa sebelumnya kau sudah pernah ke Bali?" tanyaku pada Melati ketika sudah sampai di kamar.
"Belum bang. Aku tidak pernah pergi kemana-mana."
"Oh ya?"
"Iya. Tempat tidurnya cuma satu. Gimana dong?"
"Ya udah. Kita tidur di situ."
"Berdua?"
"Ya iyalah. Kita kan suami istri."
"Tapi...."

Wajah Melati berubah. Terlihat tidak senang. Aku tersenyum melihatnya.
"Aku hanya becanda. Kau tidur saja di tempat tidur itu biar aku tidur di sofa," jawabku.
"Aku aja yang tidur di sofa. Abang tidur di tempat tidur."
"Lelaki jadi harus ngalah sama perempuan."

Aku keluar meninggalkan Melati. Aku berniat ingin menemui temanku di sini. Aku kembali masuk ke dalam kamar ingin ganti baju lalu pergi.

Aku melihat Melati menangis. Aku kasihan padanya. Jadi tidak tega meninggalkannya sendiri di dalam kamar.
"Jalan-jalan yuk!" ajakku.
"Kemana?" tanya Melati sambil menyeka air matanya.
"Kemana aja yang penting menyenangkan. Masak kau udah jauh-jauh datang ke Bali cuma bengong aja di kamar. Yang ada kau nanti malah tambah sedih. Ntar bunuh diri pula. Aku yang repot."

Melati kesal mendengar ucapanku. Tapi dia tetap mengikut kemana aku pergi. Kami jalan-jalan ke pantai. Lalu duduk di sebuah bangku.

"Kenapa kau menangis tadi?" tanyaku.
"Aku teringat Ridho, calon suamiku. Dia berjanji kalo kami sudah menikah bulan madunya ke Bali. Tapi...."

Melati terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Dan mewek lagi dah. Kenapa sih dia gampang kali nangis? Aku menghapus-hapus pundak Melati. Dan menyandarkan kepalanya di pundakku.

Selama di Bali, Mira terus menelpon tapi tidak ku angkat. Aku bingung mau jawab apa jika dia menanyakan aku ada dimana.

Pulang dari Bali, aku dan Melati langsung menempati rumah baru. Kami tidur di kamar yang berbeda.
Aku bangun tidur pukul 06.00 dan langsung mandi. Selesai mandi dan berpakaian, aku menuju dapur. Kulihat Melati duduk termenung di meja makan. Kulihat makanan sudah terhidang.

"Cepat sekali kau bangun," kataku padanya.
"Aku udah terbiasa bangun cepat. Tadi aku ingin bangunkan abang tapi gak jadi."
"Kenapa?"
"Hmmmm.... Abang mau makan?"
"Aku udah terlambat nih, gak sempat."
"Oh...."
"Aku pergi."
Sepeninggalku, Melati sarapan sendiri. Setelah itu dia membersihkan rumah.

Sampai di kantor, aku menelpon Mira tapi tidak di angkat. Lalu kucoba lagi dan lagi tapi tidak pernah diangkat. Perasaan jadi tidak enak. Jadi tidak konsentrasi bekerja. Aku menemui sekretarisku.

"Rani..., saya mau keluar," kataku.
"Tapi bapak ada meeting hari ini," sahut Rani.
"Batalin aja. Aku lagi ada urusan"

Aku langsung menuju Restaurant Mira. Sampai di sana, aku langsung menuju ruangannya.
"Hai sayang..., sapaku pada Mira. Aku ingin memeluknya tapi dia menghindar.
"Jangan sentuh aku," balas Mira dengan tatapan penuh amarah.
"Kamu kenapa sayang?" tanyaku heran.
"Kok malah nanya kenapa."

Jangan-jangan Mira sudah tau aku menikah. Tapi darimana dia tau. Tidak ada yang tau kalau aku sudah menikah.
"Sayang, tenang dulu ya. Kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Keluar sebelum aku menyuruh scurity menyeretmu dari sini."
"Oke aku keluar. Besok aku datang lagi buat jelasin semua."
Aku meninggalkan Mira dan segera pulang ke rumah.

Sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan berbaring di atas ranjang.
"Pasti Mira sudah tau kalau aku menikah," aku bicara sendiri. 

Aku mandi. Selesai mandi, perutku terasa lapar. Aku segera menuju meja makan. Tidak ada makanan di sana. Aku menemui Melati yang sedang menonton.

"Kau gak masak?" tanyaku.
"Nggak. Emangnya abang belum makan ya?"
"Belum."
"Tapi makanan tadi pagi masih ada. Gimana kalo abang makan itu saja?"
"Apa? Yang benar aja dong."
"Aku kira abang pulang sore makanya aku gak masak. Kan gak apa-apa abang makan makanan tadi pagi. Masih bagus kok. Sebentar ya aku ambilkan."

Melati menuju dapur. Aku mengikutinya. Lalu aku duduk. Melati menghidangkan makanan di meja. Nasi goreng.

"Nah..., silahkan makan bang," Melati mempersilahkan.
Aku tidak selera tapi karena perutku sudah lapar, terpaksa kumakan juga. Aku menyuap satu sendok dan..., aku membuangnya dari mulutku.

"Makanan apa sich ini?" tanyaku.
"Masak abang gak tau ini nasi goreng," jawab Melati.
"Aku tau ini nasi goreng tapi rasanya aneh. Lagian mana ada orang makan siang pakai nasi goreng."
"Ya apa salahnya."

"Sebenarnya kau pandai masak atau nggak?" aku kesal melihatnya.
"Ya pandai. Baru belajar kemarin."
"Apa? Kemarin? Pantas rasanya aneh."
"Jujur sebenarnya aku gak pernah masak."
"Jadi kenapa kau bilang pandai masak waktu Mama tanya?"
"Kalau aku bilang gak pandai, Mama gak akan ngijinin kita pindah rumah."

"Dasar.... Aku kira wanita berpenampilan seperti kau tau segalanya."
"Emangnya harus, orang pandai berhijab? Aku berhijab karena ini perintah dari Alloh. Pandai atau tidak memasak tetap wajib pakai hijab. Tidak ada hubungannya antara hijab dengan masak. Hanya karna aku tak pandai masak, abang jadi mempersoalkan penampilanku," Melati marah.

Dia berlari sambil masuk ke kamarnya. Nangis lagi dia. Aku salah bicara lagi. Padahal tadi bukan itu maksutku. Aku jadi merasa bersalah walaupun sebenarnya kesal.

Ooo Melati yang cantik ternyata sholekhah, Dia pakai jilbab... Tapi sayang ya cantik-cantik tapi nggak bisa masak! Ya sudah besuk kursus masak dulu atau bayar pembantu.
Tunggu ya Kawan sambungannya besuk  di nomor 03... Masih tidak disentuhkah itu si Cantik Melati?

Bagian 03
Sampai malam hari, Melati tidak keluar dari kamar. Sebentar-sebentar Aku menatap ke arah pintu kamarnya berharap dia keluar dari sana. Aku tidak tahan lagi. Segera saja kuketuk pintu kamar itu.

"Melati..., kamu ngapain? Masih marah ya?" tanyaku dari luar.
"Udah tau nanya," jawabnya.
"Iya deh. Aku minta maaf. Lagian kau sich gak mau jujur. Kalo emang gak pandai masak bilang aja. Aku kan bisa ngajari kamu."

Kepala Melati nongol dari balik pintu.
"Emang abang pandai masak?" tanyanya.
"Ya pandai. Aku kan dah biasa hidup mandiri. Bagaimana kalau kita makan malam di luar?"
"Hmmmm..., gimana ya?"

"Sebagai permintaan maafku."
"Boleh. Kalo gitu aku ganti pakaian dulu."
"Jangan lama! Aku tunggu di bawah."

Restaurant yang kami kunjungi lumayan ramai.
"Apa pacar abang sudah tau soal pernikahan kita?" tanya Melati.
"Sepertinya sudah. Bukan aku yang ngasih tau. Mungkin Mama."
"Dia marah?"
"Iya. Dia gak mau bertemu denganku."
"Gimana kalo aku yang jelaskan semuanya?"
"Gak usah. Ini urusanku. Biar aku yang nyelesaikan sendiri."

"Tapi kan semua gara-gara aku."
"Ntar juga baikan lagi kalo dia sudah tau semua."
"Gimana kalo dia gak percaya sama abang terus nyari pacar baru?"
Aku jadi kesal lihat Melati nyerocos aja dari tadi.

"Kalo kau merasa bersalah lebih baik kau diam aja. Gak usah ikut campur. Itu udah cukup."
"Ya sudah kalo gak mau dibantu. Gitu aja marah."
Akh..., dia benar-benar menyebalkan. Mimpi apa aku bisa menikah dengan wanita seperti dia.

Aku terkejut melihat kedatangan Mira dan Dafa. Mira hendak pergi, melihat aku dan Melati ada di sini. Aku segera menghampirinya.
"Kita pindah aja Daf!" ajak Mira pada Dafa.
"Tunggu Mir. Kamu jangan pergi." Aku menarik tangan Mira.

"Mau apa lagi kamu?" tanyanya sinis.
"Kita harus bicara biar jangan ada kesalah pahaman."
"Kamu mau jelaskan kalo kamu sudah menikah secara diam-diam. Gitu...? Jadi itu istri kamu? Cantik.... Ayo Daf kita pergi dari sini!"
Mira menarik tangan Dafa keluar.

"Maksud kamu apa Mir? Emangnya Dira sudah menikah ya?" tanya Dafa heran.
"Iya. Dia menikah diam-diam," jawab Mira. Air matanya sudah menetes.
"Kamu tau darimana?" tanya Dafa balik.
"Hape Dira gak pernah diangkat saat kutelpon. Lalu aku datang ke rumahnya. Dan Mamanya bilang, dia lagi berbulan madu ke Bali."
*
Seperti biasa, jam 05.00 subuh, Melati sudah bangun dari tidurnya. Dia mandi dan shalat Subuh. Setengah jam kemudian baru aku bangun. Olahraga sebentar lalu segera mandi. Aku bergegas ke kantor.
"Bang..., sarapan dulu!" ajak Melati.
"Nasi goreng lagi?" tanyaku.
"Nggak. Abang mau selai apa? Coklat, kacang, atau strawbery? Aku beli roti tadi."
"Itu lebih baik daripada nasi goreng buatanmu. Tak layak dimakan manusia."

Melati cemberut. Aku duduk lalu memakan roti yang ia berikan.
"Aku berangkat dulu," pamitku setelah selesai sarapan.
"Bang..., dasinya kurang rapi. Aku rapikan ya?"
"Kamu apa-apaan sich? Gak usah."
"Emang kenapa? Aku kan pengen jadi istri yang baik."
"Pernikahan kita bukan sungguhan. Kau lupa ya? Jadi kau tak perlu jadi istri yang baik."

"Ya baguslah kalo gitu. Jadi aku tak perlu masak, nyuci pakaian dan membersihkan rumah."
"Terserah...."
"Aku gak suka lihat rumah berantakan jadi gak apa-apalah kalo rumah tetap kubersihkan."
Aku mendekatkan wajahku ke wajah Melati.
"Terserah.... Oke...?"

Aku meninggalkan Melati. Masih sempat ku dengar ocehannya. 
"Dasar lelaki menyebalkan. Aku pikir dia itu pria yang baik dan lembut. Ternyata salah," katanya. Aku hanya tersenyum melihat dia marah.
Melati masuk ke kamarku.

"Ihh..., jorok banget," dia berkomentar, "berantakan lagi." Lalu dia membersihakan dan merapikannya semua isi kamarku.

Setelah selesai, Melati berbaring di sofa depan TV. Karena kecapaian, dia tertidur.

Aku pulang dari kantor. Kulihat di lemari dapur tidak ada makanan. Aku membangunkan Melati.
"Heiii..., bangun."
Melati terbangun.
"Aku tertidur ya?" tanyanya.
"Nggak. Kau tadi lagi jalan-jalan."
Dia cemberut.

"Masak ditanya lagi tidur apa nggak. Kalo mau tidur TV dimatikan dulu. Bukannya nonton malah TV yang nonton kau."
"Cerewet."
"Aku lapar tapi tidak ada makanan."
"Aku kan bukan istri sungguhan jadi ngapain aku masak."
Aku mulai kesal lihat Melati.

"Jadi kau makan apa kalo lapar?"
"Aku beli di Restaurant dekat pos depan sana."
"Ya udah cepat beli sana! Aku lapar."
"Kita makan di sana aja!"
"Malas. Udah..., beli aja. Bawa ke mari!"
"Aku juga malas jalan kaki ke sana. Capek."
"Bawa mobil."
"Emm... aku... aku gak pandai bawa mobil."
"Apa??"

Aku tertawa. Melati cemberut lagi.
"Kenapa ketawa?" tanyanya kesal.
"Masak kau gak bisa bawa mobil? Kan lucu."
"Papa gak ijinkan aku belajar nyetir. Dia takut aku jatuh."
"Itu karna kau bodoh makanya gak diijinin."
"Abang yang bodoh."
"Kau...."
"Abang...."
"Kau..., dasar Melati bodoh."
Melati memukul kepalaku pakai remot.
"Kau...." suaraku meninggi karena kesal.
"Apa..." dia malah nantang.
"Dasar Melati bodoh."

Dengan wajah cemberut, Melati meninggalkanku. Lucu kalau dia cemberut gitu. Dia duduk di teras depan. Aku mendatanginya.
"Ya udah. Ayo kita makan di sana!" ajakku.
"Nggak.... Abang aja yang pergi." Dia buang muka dengan wajah cemberutnya.
"Gitu aja marah. Buruan...! Aku lapar."
"Kan sudah kubilang nggak."
"Benar nih? Ya udah. Aku pergi. Selamat berlapar-lapar."

Aku berjalan menuju mobil lalu naik. Melati berlari mengejar.
"Tunggu..., aku ikut," katanya lalu dia naik ke mobil.
Aku tersenyum. Sampai di sana, kami langsung pesan makanan. Setelah pesanan datang, kami langsung menyantapnya.
"Gimana masakannya? Enak kan bang?" tanya Melati.
"Nggak."
"Nggak enak tapi kok habis."
"Lapar."
"Hmmm..., bilang aja enak. Dasar...."

*

Aku hampir tertidur kalau tidak karena suara Melati memanggil-manggil. Dengan malas aku membuka pintu.
"Apa sih? tanyaku, "Aku hampir tertidur tapi gara-gara suara jelekmu itu, jadi terbangun."

"Mamaku tadi nelpon. Dia khawatir karena kita gak pernah datang setelah menikah. Ngasih kabar pun gak pernah."
"Itu sih salahmu kenapa kau gak pernah nelpon."
"Besok kita ke sana ya bang!"
"Iya tapi tunggu aku pulang kerja dulu."
"Jangan lama pulangnya!"
"Iya. Udah cepat keluar. Aku ngantuk."

Melati keluar. Aku mengunci pintu kamarku lalu menghempaskan tubuh di ranjang.
*
Teguran Adam mengejutkanku ketika aku sampai di kantor.
"Kau jahat banget ya Dir, nikah gak ngundang-ngundang," kata Adam.
"Apa?" Aku heran karena Adam mengetahui pernikahanku.
"Dari mana kau tahu?"
"Dari Mamamu lah. Mau sampai kapan kau sembunyikan? Dasar kau gak setia kawan. Gak mau berbagi kebahagiaan."

"Pernikahanku bukan seperti yang kau bayangkan. Aku tidak menginginkannya."
"Kenapa? Bukankah menikah dengan Mira adalah impianmu?
"Tapi...."

Belum sempat aku menjelaskan, Adam sudah berteriak.
"Teman-teman..., dengarkan aku. Dira sudah menikah."
"Apa...? Menikah?" tanya teman-teman yang lain. Mereka terkejut. Adam mengangguk. Semua staf dan pegawai menyalami aku dan memberi ucapan selamat. Pak Dira nikah kok gak bilang-bilang? Kok pernikahannya dirahasiakan? Begitulah pertanyaan mereka.

"Apa...? Pengganti pengantin pria?" Begitulah tanggapan Adam ketika aku menariknya masuk ke ruanganku dan menjelaskan semua padanya.
"Aku gak ada pilihan. Mama dan Papa terus mendesak agar aku mau menggantikan calon suaminya."
"Kau benar-benar seorang kesatria."
"Apaan sih...."

"Kasihan juga ya istrimu."
"Yang harus kau kasihani itu aku Adam begok."
"Lebih kasihan istrimu. Dia kehilangan orang yang dicintai dan terpaksa menikah dengan orang yang tidak dikenalnya."
"Kan sama juga dengan nasibku."
"Terus Mira gimana?"
"Dia marah padaku. Aku belum bisa menjelaskan semuanya."

Kita tinggalkan dulu teman teman Dira di Kantor yang rame tahu kalau Dira sudah nikah tapi bukan dengan Mira pacarnya selama ini.
Besuk kita ikuti lagi sambungan ceritanya di nomor 4 ya Sobat


Bagian 04
Hari ini aku bertemu dengan relasi di Restaurat Mira. Membicarakan kontrak kerja.

Setelah semua selesai, aku menyuruh sekretarisku balik ke kantor. Aku tidak langsung balik karena ingin menemui Mira dulu.Tanpa permisi, aku langsung nyelonong masuk ke ruangan Mira dan mengunci pintu. 

Mira terkejut melihat kedatanganku.
"Kamu apa-apaan sih Dir? tanya Mira gusar.
"Dengan begini baru aku bisa bicara denganmu," jawabku.
"Aku gak mau dengar apa pun."
"Mir..., aku menikah kerena terpaksa."

"Mamamu yang maksa kan? Emangnya kau gak bisa menolak?"
"Sayang..., dengar dulu. Saat itu aku menghadiri pernikahan putri teman Papa. Ketika akad nikah akan dimulai, datang kabar bahwasanya calon suaminya tabrakan dan meninggal. Bayangkan gimana kacaunya kalau sempat acara pernikahan itu batal. Undangan sudah ribuan yang datang. Lalu Papa dan Mama mendesak aku supaya menggantikan calon suaminya."

"Lalu?" tanyanya penasaran.
"Dengan sangat terpaksa aku mengikuti saran Mama."
Mira terdiam mendengar penjelasanku. Dia mulai melemah. Perlahan air matanya mengalir. Aku mendekat lalu memeluknya.

"Sayang..., kamu tenang aja. Kami sudah buat kesepakatan dalam waktu 6 bulan, kami akan bercerai," sambungku.
"Tapi hubungan kalian.?"
"Kami juga sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing dan tidak ada hubungan fisik."

Aku mencium kening Mira sambil berucap.
"Aku hanya mencintaimu, sayang."
"Kenapa harus 6 bulan?" tanyanya.
"Aku gak mau hubungan keluarga kami retak kalo kami langsung cerai. Kan yang penting aku masih bisa menemuimu."
"Hmmmm...."
"Udah jangan sedih lagi. Aku merindukanmu sayang."

Sementara Melati mulai gelisah menunggu aku pulang. Dia sudah siap-siap untuk mengunjungi rumah orangtuanya. Sudah beberapa kali dia mencoba menelpon, tapi tidak kuangkat. Aku asik bermesraan dengan Mira.
Telponku terus berdering. Dengan kesal aku mengangkat telpon dari Melati.

"Apa sih? Dari tadi nelpon-nelpon?" tanyaku kesal.
"Abang di mana?" tanya Melati.
"Bersama Mira."
"Abang lupa ya?"
"Apaan? Sudahlah..., jangan menggangguku. Aku baru baikan dengan Mira."
Aku memutus telpon dari Melati.

Melati pergi ke rumah orangtuanya tanpa aku. Sampai di sana, dia pasang wajah cemberut. Ketika ditanya tante Wina, mamanya Melati, apa yang membuat dia cemberut, dia bilang tidak ada apa-apa. Dan ditanya kenapa aku tidak ikut, dia katakan aku lagi sibuk.

Sampai malam, Melati tidak pulang. Tante Wina mulai curiga. Dia masuk ke kamar Melati.
"Sebenarnya ada apa Mel? Kenapa kau gak pulang?" tanya tante Wina.
"Melati gak mau lagi balik ke rumah itu Ma. Melati balik aja kemari," jawabnya
"Kalian bertengkar ya?" selidik tante Wina.
"Iya.... Aku benci Dira."

Tante Wina mengelus rambut Melati.
"Sayang..., Mama ngerti pernikahan ini mendadak. Kalian belum saling mengenal dan memahami. Butuh waktu untuk kalian. Tapi cobalah untuk menerimanya sebagai suami."
"Bagaimana kalo kami bercerai aja Ma?"

"Melati..., Alloh sangat membenci perceraian walaupun itu diperbolehkan."
"Ma..., kami selalu bertengkar."
"Ya kamu harus ngalah dong. Sayang, Papa dan Mama saja menikah atas keinginan kami terkadang ada juga pertengkaran. Apalagi kalian. Mama paham. Tapi cobalah untuk lebih bersabar. Sebenarnya Dira itu lelaki baik."

Melati tidak berkomentar lagi. Dia hanya menarik napas. Dia dari kecil tidak pernah membantah semua ucapan Mamanya. Tante Wina merasa lega. Dia tau, Melati akan menuruti semua yang dia ucapkan.

"Ma..., malam ini Melati tidur sini ya? Besok baru pulang," pinta Melati.
"Ya sudah. Gak apa-apa. Asal jangan minta cerai."

Aku jadi gelisah karena Melati tidak pulang sampai malam. Bukan karena aku merindukannya tapi aku gak mau aja dimarah Mama kalau sampai Melati hilang. 

Kucoba tuk menelponnya tapi tidak diangkat. Lalu kucoba lagi tapi tetap tak diangkat. Aku tidak putus asa. Terus kutelpon. Akhirnya diangkat juga.

"Kau di mana?" tanyaku.
"Apa peduli abang aku di mana?" jawabnya ketus.
"Gak masalah kau mau tidur di mana yang penting kasih tau aku."
"Nggak...." Suara Melati meninggi.
"Heiii..., Melati...." Aku mulai kesal.
"Kita kan udah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing."

"Dengar ya Melati, aku tidak mencampuri urusanmu. Aku gak peduli kau di mana pun. Aku hanya gak mau orangtuamu khawatir kalo kau hilang. Aku pasti dimarah mamaku," suaraku juga meninggi.
"Kalo abang gak mau mamaku khawatir seharusnya abang ingat janji kita tuk datang ke tempat mama."
"Apa....?"

Astaga.... Aku lupa janji untuk ke rumah orangtua Melati. Pantesan Melati marah-marah dari tadi.
"Mel..., aku benar-benar lupa. Maaf ya?" mohonku, " aku datang sekarang ya?"
"Gak perlu. Aku mau tidur."
Melati memutus panggilan kami.

Aku menuju garasi. Mobilku langsung meluncur menuju kediaman orantua Melati. Sampai di sana pintu pagar sudah dikunci. Sepi....
Aku melompat dari atas pagar. Lalu memencet tombol bel masuk. Berulang-ulang. Lalu pintu terbuka. Ternyata yang buka tante Wina, mamanya Melati.

"Loh..., Dira. Kan sudah larut malam. Gak perlu datang ke mari. Besok juga Melati balik," kata tante Wina.
"Gak apa-apa kok tante. Tadi aku sibuk banget sampai lupa janji tuk datang ke mari."
"Pantas Melati gak mau pulang. Mari masuk!"
"Sebentar Tan..., mobil saya masih di luar."
"Security ketiduran tu. Ya sudah."

Aku memasukkan Mobilku. Lalu segera masuk ke dalam rumah.
"Jangan panggil tante. Panggil mama aja!" kata mama mertuaku.
"Baik Ma."
"Melati tu paling gampang memaafkan kesalahan orang lain. Ntar juga dia lupa tu kalo kamu lupa ma janji. Mari mama antar ke kamar Melati!"

Aku mengikuti Mama dari belakang. Sampai di depan kamar Melati, dia mengetuknya. Tapi ternyata kamar Melati tidak dikunci.
"Kebiasaan tu anak dari dulu gak pernah ngunci pintu kamarnya. Selalu lupa." sambung Mama, "masuk aja Dir!"
"Iya Ma."

Mama pergi. Melati tertidur pulas. Baru kali ini aku melihat dia tidak memakai jilbab. Cantik, ayu. Rambutnya hitam dan panjang.
Entah mengapa aku sudah berada di samping Melati. Seolah terhipnotis melihat kecantikan Melati tidur seperti anak-anak.

Melati terbangun. Dia kaget melihat aku berdiri di sampingnya.
"Abang ngapain dekat-dekat?" tanyanya, "jangan macam-macam ya!"
Aku menunduk. Melati semakin ketakutan. Semakin dekat dan.... Aku menarik bantal yang ada di sampingnya lalu menghempaskan tubuh di Sofa.

"Gak usah gr deh. Kau itu bukan tipe cewek yang kusuka," sahutku
"Lelaki itu ibarat kucing. Gak akan menolak jika dikasih ikan jenis apa pun. Keluar dari kamarku" Melati mengusirku.
"Apa kata Mama nanti kalo aku tidur di luar? Kau mau kesepakatan kita terbongkar?"
Melati diam.
"Jangan brisik. Aku mau tidur," sambungku.

Adzan subuh berkumandang. Melati membangunkanku.
"Apa sih?" tanyaku
Bangun!" jawab Melati
"Masih ngantuk."
"Papa menyuruh aku bangunin abang. Ayo shalat subuh."
"Tapi...."
"Gak ada tapi-tapian. Buruan mandi bang. Papa dan Mama sudah menunggu tu. Di sini emang gitu. Shalat berjamaah."

Dengan malas aku beranjak. Ke kamar mandi. Untuk pertama kalinya aku shalat subuh. Shalat berjamaah bersama Mertua dan istriku. Sebenarnya aku shalat karena segan dengan mertua.
Setelah selesai, kulihat Mama mencium tangan Papa. Aku pun menyodorkan tanganku pada Melati. Dengan canggung Melati menciumnya mengikuti apa yang dilakukan Mamanya.

Kami pulang setelah selesai sarapan bersama. Aku mengantar Melati ke rumah sedangkan aku langsung berangkat ke kantor. Sampai di kantor baru aku ingat labtop ketinggalan di rumah. Mau balik gak sempat. Masih ada pekerjaan lain yang harus kukerjakan. 

Aku memutuskan untuk menelpon Melati. Cari kontak atas nama Melati dan tersambung. Dia mengangkatnya.
"Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Mel..., aku boleh minta tolong?" tanyaku balik.
"Minta tolong ke kantor polisi sana!"
"Aku serius nih Mel. Tolong ambilkan labtop di kamarku dan antar ke mari!"
"Aku lagi sibuk," jawab Melati.

Aku tersenyum geli dengar alasan Melati karena tau paling kerjanya cuma nonton.
"Sibuk apaan?" tanyaku.
"Buruan ya! Ntar aku beliin es krim."
"Emangnya aku anak-anak dijanjiin es krim?"
"Kali aja."

"Tapi aku malu."
"Malu kenapa?" tanyaku.
"Malu sama teman-teman abang."
"Seharusnya yang malu itu aku. Malu kalo teman-teman lihat istriku sejelek kau."
"Dasar menyebalkan. Ya sudah..., kalo malu punya istri kayak aku, ngapain aku datang?" Melati mulai kesal. Aku paling senang melihat dia kesal.

"Jangan gitu dong Mel. Aku cuma becanda. Kau itu istri yang sangat cantik kayak bidadari yang turun dari pohon jengkol. Aku tunggu ya istriku yang cantik."

Aku tertawa dan memutus panggilan. Aku tau pasti Melati lagi kesal. Tapi aku yakin dia akan datang.

Dan benar saja. Setengah jam kemudian, Melati sudah sampai. Sialnya dia datang pas Adam berada di ruanganku.
"Kok lama?" tanyaku.
"Mau masuk ke sini aja pakai ditanya-tanya sudah buat janji atau gak sama abang. Makanya lama. Terpaksa deh aku ngaku istri abang," jawabnya.

"Jadi ini istri kamu Dir?" tanya Adam berbisik, "cantik sekali."
"Biasa aja."
"Oh ya mbak, kenalin aku Adam, temannya Dira," kata Adam sambil mengulurkan tangan.

"Maaf bang, aku gak bisa bersalaman dengan abang," balas Melati.
Aku tertegun mendengar jawaban Melati. Bersalaman dengan pria saja dia tidak mau, sementara aku, sudah sering bercumbu dengan Mira walau tidak sampai melakukan hubungan suami istri.

"Ya udah aku pulang bang," pamitnya.
"Tunggu dulu!" Adam menyela. 
"Jangan cepat-cepat pulang mbak. Karena sudah di sini, bagaimana kalau kita makan dulu di kantin?"
"Boleh."
"Ayo Dir!" ajak Adam.
"Malas. Kalian saja," sahutku
"Ya sudah. Mari mbak!"

Melati dan Adam keluar dari ruanganku. Aku lirik jam sudah waktunya istirahat. Aku menyusul. Mereka sudah duduk dan aku pun duduk dekat Melati.
"Katamu malas tapi kok nyusul? Cemburu ya?" tanya Adam.
"Apaan sih? Aku gak peduli Melati mau jalan ma siapa saja. Terserah...."

"Kalo gitu ngapain abang ikut ke sini?" tanya Melati.
"Aku lapar. Emang salah aku makan di kantin ini?" tanyaku balik.

"Gak salah sih tapi abang kan bisa nyari bangku lain. Jangan di sini!"
"Terserah aku dong mau duduk di mana."
"Oke abang duduk di sini. Ayo bang Adam kita cari bangku lain!" ajak Melati pada Adam.
Mereka pindah ke bangku lain.

Pesanan mereka datang. Mereka makan sambil becanda. Sesekali terdengar tertawaan mereka. Pesananku pun datang. Aku jadi tidak selera makan. Ntah kenapa aku gak suka lihat Melati tertawa bersama Adam. Aku mendatangi mereka.

"Kalo udah siap makannya ayo aku antar pulang," ajakku.
Aku tidak yakin Melati si keras kepala itu mau kuajak pulang. Dan benar saja.
"Aku masih mau di sini. Abang pulang aja sendiri. Nanti aku naik taxi. Atau diantar bang Adam."
"Benar tu Dir," sambung Adam.

Aku menarik tangan Melati dan meyeretnya. Dia berusaha melepas tangannya tapi aku semakin mempererat cengkramanku.
Aku terus menariknya menuju parkiran mobil. Kubuka pintu dan mendorongnya masuk.

Belum sebulan, Dira mulai cemburu ketika melihat Melati dekat-dekat Adam. Bagaimana ya apa kuat itu kucing nggak colek-colek ikan di rumahnya selama 6 bulan?... HALAL LAGI!
Ditunggu yo Konco, sesuk nomor 5 diterusaké manèh cemburuné Diro yo

Bagian 05
Aku masuk ke dalam mobil dan bersiap menjalankannya tapi tidak jadi karena Melati menangis. Aku memperhatikan dia menangis.

"Kenapa nangis?" tanyaku.
"Lihat nih tanganku merah," jawab Melati.
"Gitu aja udah nangis. Ntar juga hilang."
"Sakit tau...."
"Dasar cengeng."
"Dasar menyebalkan. Sakit sekali," jawabnya.

Tangis Melati semakin kuat. Aku jadi merasa bersalah. Emosiku langsung hilang.
"Coba lihat!" pintaku.

Aku ingin meraih tangan Melati tapi dia menepisnya. Segera saja kujalankan mobil dan meluncur di jalanan. Mobil kami berhenti di depan sebuah klinik milik Dafa temannya Mira.

"Ayo turun!" perintahku.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Ya ngobatin tangan kamulah. Katanya sakit."

Aku keluar dan membukakan pintu untuk Melati. Lalu dia mengikuti langkahku masuk.
"Dafa ada?" tanyaku pada salah satu perawat.
"Di ruangan pak. Lagi ada pasien di dalam. Bapak menunggu saja." sahut perawat tersebut.
Aku tidak memperdulikan ucapan perawat itu. Kami langsung menuju ruangan Dafa.

Kulihat Dafa lagi memeriksa seorang pasien. Melihat kedatanganku dan Melati, dia menghentikan kegiatannya.
"Ada apa Dir?" tanyanya.
"Tu..., tangan Melati sakit. Tolong obati!" jawabku ketus. Aku tidak pernah suka dengan Dafa karena aku tau dia mencintai Mira.

"Sebentar ya, aku selesaikan dulu pemeriksaanku," jawabnya.
"Duduk dulu Dir, mbak Melati."

Dafa kembali memeriksa pasiennya. Lalu memberikan penjelasan dan arahan. Setelah itu dia memberikan resep obat. Lalu pasiennya pun keluar.
"Coba saya lihat dulu tangannya mbak Melati," kata Dafa.

Melati mengulurkan tangannya yang sakit.
"Maaf ya mbak. Saya lihat dulu," sambung Dafa lalu memegang tangan Melati, "ini kenapa mbak?"
"Gara-gara dia," jawab Melati sambil menunjuk aku, "dia tarik dan cengram kuat sekali."

Dafa melihat ke arahku. Aku memalingkan wajah ke arah lain. Pura-pura tidak dengar.
"Bagaimana pak dokter?" tanya Melati.
"Ini tidak apa-apa kok mbak. Hanya lecet sedikit. Dikasih anti septik ntar juga baik."
"Kan sudah aku bilang nggak apa-apa. Kau aja yang cengeng," sahutku.

Dafa memberi beberapa obat pada Melati.
"Mel..., kau keluar duluan. Ada yang mau aku bicarakan dengan Dafa,"
"Jangan lama!" sahut Melati sambil keluar.
"Istrimu cantik Dir. Kamu beruntung dapat istri secantik dia," kata Dafa.

"Beruntung apanya? Oh ya apa Mira sudah cerita padamu soal pernikahanku?"
"Sudah. Dia bilang kau menikahi Melati karena calon suaminya meninggal ketika ijab kabul akan dilaksanakan."
"Baguslah kalo kau sudah tau. Jadi kau jangan coba-coba rayu Mira karena aku akan segera bercerai."

"Dir..., kamu kan tau aku dan Mira cuma sahabat. Sahabat dari kecil."
"Aku juga tahu kalo kau mencintai Mira."
"Bagiku kebahagiaan Mira adalah segalanya."
"Ya bagus kalo gitu. Udah ya..., aku permisi."

Aku dan Melati meninggalkan klinik Dafa. Sampai di rumah, Melati langsung membersihkan rumah. Dia paling gak tahan melihat rumah berantakan.

"Hei Melati, kau setiap hari membersihkan rumah tapi kamarku gak pernah kau sapu."
"Loh..., itukan kamar abang jadi abanglah yang bersihkan," jawabnya enteng.
"Itukan pekerjaanmu."
"Waktu itu abang yang bilang kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing."

"Apa hubungannya dengan membersihkan kamar?" tanyaku heran.
"Kamar itukan tempat pribadi abang berarti aku dilarang masuk."
"Jangan banyak alasan. Mulai sekarang kau harus membersihkannya."
"Kalo sempat."
"Ya jelas sempatlah. Kau kan gak punya kerja."
"Iya...iya."

Hari sudah malam. Sepertinya akan turun hujan. Aku hendak mematikan televisi karena khawatir akan ada petir.
Duaarrr....
Benar dugaanku. Petir berbunyi. Kulihat Melati berlari ke arahku dan langsung memelukku yang sedang berdiri.

"Ada apa?" tanyaku heran.
"Aku takut sekali bang. Petirnya kuat. Cepat matikan TV nya!"
"Iya tapi lepaskan dulu pelukanmu supaya aku bisa matikan TV."

Melati melepas pelukannya. Kulihat wajahnya memerah, hatiku berdesir, betapa cantiknya Dia. 
Dia duduk di sofa. Aku mematikan TV dan duduk di dekat Melati.
"Jadi kau takut suara petir?" tanyaku.
Dia mengangguk. Aku tersenyum. Galak tapi kok takut sama suara petir. Tiba-tiba muncul dipikiranku untuk mengerjai Melati.

"Aku ngantuk. Mau tidur dulu," kataku.
"Jangan tidur dulu. Abang sini aja."
"Kalo mau ikut ke kamarku, boleh... Kita tidur bersama." 

Aku tersenyum. Aku yakin Melati pasti kesal.
Aku berjalan menuju kamar. Dengan ragu Melati mengikutiku dari belakang.
Duaarrr....
Suara petir terdengar kembali. Kuat sekali. Melati berlari ke arahku. Melihat dia berlari mendekat aku pun berlari menjauh darinya. Dia tampak ketakutan dan pucat. Dan...,
Braakkk!.

Melati terjatuh. Dia menagis. Aku berlari mendekat dan mengangkatnya ke sofa.
"Udah jangan nangis. Aku hanya becanda," bujukku.
"Kenapa abang jahat kali padaku. Senang ya buat orang menangis?" tanyanya sambil terus menangis.

"Ya maaf deh. Udah jangan nangis lagi."
"Aku benci abang... benci... benci."

Dia memukuli dadaku pelan. Suara petir terdengar sahut-sahutan. Gerimis mulai turun. Melati memelukku, tangannya halus dingin. 

Hujan turun dengan derasnya. Cuaca bertambah dingin. Aku balas pelukan Melati. Aku merasa nyaman dengan pelukan hangatnya.
"Aku takut bang," katanya.
"Kan ada aku. Tenang saja."
Aku mengelus-elus kepalanya agar dia tenang. 

Lama seperti ini. Kulihat Melati sudah tertidur dalam pelukanku. Dia istriku, tidur manja dalam pelukanku, tercium bau perempuan, harum, dan ada rasa berdesir mengalir di dada.
Dua jam sudah duduk sambil berpelukan seperti ini. 

Hujan sudah reda dan petir tidak terdengar lagi. Aku menepuk-nepuk bahu Melati agar dia terjaga. Tapi dia tidak terbangun. Tidurnya pulas sekali. Aku jadi tidak tega membangunkannya. Rasa kantuk mulai menyerangku. Aku pun tertidur berpelukan dengan Melati istriku.

Adzan subuh berkumandang. Aku terbangun karena Melati mendorong tubuhku agar terlepas. Aku heran kenapa kami bisa tidur berbaring di sofa sambil berpelukan.
"Kok aku tidur di sini? Abang kesempatan ya?" tanya Melati.
"Enak aja. Yang duluan peluk itu kau."
"Iya tapi kenapa abang gak lepasin pas aku sudah tertidur?"
"Aku sudah bangunin tapi kau tidur pulas sekali. Aku gak bisa melepas pelukanmu."
"Alasan...."

"Gak tau berterima kasih. Masih baik aku mau nemenin. Kalo gak kau bisa pingsan karena ketakutan." Aku mulai kesal.
"Jangan-jangan tadi malam abang ngambil kesempatan waktu aku tidur. Ayo ngaku..., apa yang abang lakukan waktu aku tidur?"

"Heiii Melati.... Kau itu bukan tipe cewek yang kusuka. Kalo aku mau, kau udah dari dulu aku perkosa. Kau itu selalu lupa ngunci pintu kamar kalo mau tidur. Kau gak akan mampu melawan kalo aku paksa. Kita itu sah pasangan suami istri jadi gak masalah kalo aku memperkosamu. Dasar wanita gak tahu terima kasih. Selalu bikin kesal." sahutku dengan nada tinggi. 

Aku begitu emosi.
Aku mandi dan bergegas berangkat kerja tanpa sarapan dulu. Aku malas bertemu dengan Melati.
*
Aku heran melihat Melati dan Adam berdiri berjauhan tepat di depan pintu ruanganku. Aku mendekat.

"Ngapain kalian di sini? tanyaku.
"Eh..., abang. Tadi aku gak lihat abang di dalam, aku keluar dan bang Adam datang. Nih..., aku bawain Soto Medan."
"Apa..., soto Medan? Dari mana kau tahu aku suka soto Medan?" tanyaku.
"Dari mama Rani. Tadi aku ke sana dan temenin Mama pergi ke pameran lukisan."

"Aku sudah makan siang."
"Oh ya? Trus gimana dong sotonya?"
"Buat aku aja," seru Adam.
Adam ingin meraihnya dari tangan Melati. Dengan cepat aku menghalanginya dan langsung mengambil soto itu dari tangan Melati. Aku menarik tangannya masuk ke ruanganku.

"Abang suka kali narik-narik tanganku. Sakit...." seru Melati.
"Kenapa kau datang ke mari?" tanyaku.
"Ya buat ngantarin soto lah."
"Tumben."
"Kan gak apa-apa. Sesekali."
"Pasti ada sesuatu."
"Sesuatu apa sih? Dasar aneh. Kalo gak mau ya sudah.... Aku kasih bang Adam aja."
"Enak aja."

Aku membuka bungkusan yang dibawa Melati dan memakannya dengan lahap.
"Katanya udah makan tapi kok lahap?" tanya Melati.
"Sebenarnya aku belum makan."
"Jadi kenapa tadi bilang udah makan?"
"Supaya kau marah."
"Apa???"
Aku tertawa melihat wajah kesal Melati. Aku suka bikin dia marah. Lucu.... 

Sekretarisku datang. Wajahnya kelihatan pucat.
"15 menit lagi bapak ada meeting dengan klien di Restaurant Mira Food," katanya.
"Ya sudah persiapkan semuanya."
"Maaf pak..., perut saya sakit sekali."
"Udah minum obat?" tanyaku khawatir.
"Udah tapi sakitnya belum hilang."

"Ya sudah, kau istirahat saja biar saya sendiri ke sana."
"Pak..., bagaimana kalo bapak ditemani bu Melati saja?" tanyanya.
"Apa...? Dia...?" aku menunjuk Melati, "tu gak mungkin."

"Kenapa gak mungkin, pak? Semua udah siap kok. Saya terangkan sedikit pasti bu Melati bisa," jawab Merry sekretarisku.
"Dia gak akan bisa."
"Aduhhh.... Maaf pak saya permisi dulu ke kamar mandi."

Mery setengah berlari pergi meninggalkan kami menuju kamar mandi.
"Aku kuliah jurusan sekretaris dulu," kata Melati.
"Tapi aku gak yakin kau bisa. Masak aja gak bisa."
"Gak ada hubungannya jadi sekretaris sama masak?"

"Jelas ada dong. Untuk hal gampang seperti masak aja kau gak bisa apalagi jadi sekretaris."
Tidak berapa lama, Mery datang.

Dira sudah peluk-peluk Melati dan Dia suka nggodain Melati Dia senang lihat Melati cemberut... apa Dia mulai senang sama istrinya ya?
YO WIS, besuk saja di nomor 06, disimak  perkembangan hati mereka... terus gimana donk Mira?

Bagian 06
Ada saja hal-hal yang membuat aku dan Melati bertengkar. Rasanya tiada hari tanpa bertengkar dengannya.
Selesai meeting dengan klien, Mira menghampiri kami.

"Hai..., Dir. Udah siap meetingnya?" tanyanya.
"Sudah Mir."
"Ke ruangan aku yuk! Aku kangen. Akhir-akhir ini kau jarang mampir ke sini."

"Melati...." aku memanggil Melati, "kau pulang aja duluan. Aku ada perlu dengan Mira."
"Mel..., maaf ya? Dira ikut aku. Gak apa-apa kan?" tanya Mira.
"Gak apa-apa kok. Baiklah kalo gitu. Aku permisi." balas Melati.

Dia meninggalkan aku dan Mira. Lalu kami masuk ke ruang kerja Mira.
"Tahu gak Dir? Aku tu cemburu kalo aku ingat kamu satu rumah dengan Melati. Kalian pasti tiap saat ketemu. Bangun tidur ketemu, sarapan bersama," kata Mira.

"Udah dong sayang..., jangan diingat terus soal itu."
"Gak bisa Dir. Aku kepikiran terus."
"Jadi aku harus gimana?" tanyaku, "sayang..., aku hanya mencintamu."
Aku meraih tangan Mira lalu mengecupnya.

"Aku takut Dir."
"Takut kenapa?"
"Suatu saat kamu tu jatuh cinta sama Melati. Bukankah cinta itu bisa tumbuh karena sering bersama?"

"Hmmm..., jangan mikir macem-macem. Oke...? Aku akan berusaha supaya jarang ketemu dengan Melati."

"Emang bisa?"
"Bisa dong. Aku pulang disaat Melati sudah tidur dan pergi pagi sekali supaya kami gak ketemu."
"Baiklah."
"Senyum dong! Biar kelihatan cantiknya."
Mira tersenyum.
"Makan yuk! Lapar nih," ajakku.
"Ayo."
*
Aku pulang ke rumah larut malam. Kulihat lampu kamar Melati sudah mati. Dia pasti sudah tidur.
Dan pagi sekali aku sudah berangkat ke kantor tanpa permisi padanya. Mobil meluncur menuju Restaurant Mira Food. Restaurat itu belum buka. Ku lihat ada beberapa office boy sedang melakukan pekerjaannya. Aku ambil duduk di pojokan. 

Doni, salah satu office boy menyapa.
"Kok pagi sekali pak? Belum buka loh," tanyanya. Dia mengenalku karena sering datang ke mari.
"Gak apa-apa. Mau nunggu Mira."
"Mau saya buatkan teh atau kopi pak?" tanyanya lagi.
"Boleh. Teh aja ya Don!"

Dia mengangguk lalu pergi ke dapur. Tidak berapa lama dia datang membawakan secangkir teh. Bersamaan dengan itu Mira datang.

"Dira..., kok pagi sekali sudah datang?" tanyanya heran.
"Kan aku sudah janji tuk menghindari bertemu dengan Melati.
"Kamu serius?" tanyanya lagi.
"Emang aku pernah main-main dengan ucapanku?" tanyaku balik.

"Udah sarapan?"
"Belum."
"Ya udah. Aku bikinin ya?"
"Boleh. Makasih ya sayang...."

Setelah sarapan, aku berangkat ke kantor. Malamnya aku pulang larut malam setelah yakin Melati sudah tidur. Aku terus menghindari Melati. Walau aku tidak yakin dengan ucapan Mira bahwa cinta bisa tumbuh karena sering bertemu.

Terkadang muncul keinginan untuk menyapa Melati tapi aku tahan. Biarlah kami tidak pernah bertemu. Bahkan hari Minggu pun aku berangkat ke kantor. Aku melihat Melati menatapku. Mungkin dia heran lihat aku pakai pakaian kerja di hari minggu. Langkahku terhenti karena Melati memanggil.

"Kan minggu bang kok ke kantor?" tanyanya.
"Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."
"Abang pulang jam berapa?"
"Belum tahu."
"Bang..., cepat pulang ya!"

Aku menatapnya. Heran kenapa dia menyuruh cepat pulang. Sudah seminggu aku menghindar terus darinya tapi sepertinya dia gak peduli.

"Mama dan Papa mau datang ke sini bang. Aku gak mau mereka bertanya kenapa hari minggu pun abang gak di rumah. Takut mereka curiga." sambung Melati.

Aku terdiam dan menatap manik matanya. Aku tak bisa mengartikan tatapan itu. Ingin rasanya ku bilang tidak tapi...
"Jam berapa mereka datang?" tanyaku.
"Mama gak bilang jam berapa. Nanti aku telpon kalo mereka sudah sampai."
"Baiklah."

Aku berjalan keluar. Setelah sampai di depan mobil, aku berubah pikiran. Ntah kenapa rasanya aku ingin di rumah saja. Tapi aku ingat janjiku pada Mira agar menghindar dari Melati.
Aku buka pintu mobil dan... kembali menutupnya. Aku masuk ke rumah menuju kamar.

Aku berganti pakaian. Tiba-tiba pintu terbuka disaat aku belum sempat memakai celana. Melati hinteris melihat aku hanya memakai celana dalam.

"Ngapain masuk ke kamarku?" tanyaku pada Melati sambil memakai celana. Aku yakin dia masih di depan pintu.

"Aku mau membersihkan kamar Abang. Kok Abang gak jadi pergi?"
"Tiba-tiba aja malas."
Aku keluar dari kamar diam-diam. Dan...

"Duarrr..., aku menjerit tepat di dekat telinga Melati.
Dia kaget dan menjerit. Aku tertawa.
"Kangen..., pengen buat kau marah," kataku
"Huhhh..., dasar."

Senang rasanya melihat Melati cemberut. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak membuat Melati marah tapi ntah kenapa begitu melihatnya, langsung muncul ide jahilku. 

Terdengar bel berbunyi. Melati membuka pintu. Yang datang Mama Wina. Mereka berpelukan. Aku pun mendekat dan menyalam Mama Wina. Lalu kami masuk dan duduk di kursi.

"Kok sendiri Ma? Papa mana?" tanya Melati pada Mamanya.
"Mendadak ada urusan ke luar kota," jawab Mama.

"Mama sudah makan?" tanyaku, "bagaimana kalo kita makan di luar aja Ma?"
"Gak usah Dira. Mama pandai masak kok. Mama masakin makanan kesukaanmu. Kau suka apa?"
"Dira suka makan soto Medan Ma?" seruku.
"Nanti Mama masakin."

"Tapi kok Melati gak pandai masak Ma? Pasti dia malas iya kan, Ma?"
Mama tersenyum lalu berkata.
"Melati emang tidak pernah belajar masak. Kami yang memanjakannya."
Kulihat rona wajah Melati berubah. Mungkin dia malu. Tapi ntahlah.

"Dir..., kamu pasti kecewa karna Melati gak pandai masak," sambung Mama.
"Mama kok ngomong gitu sih? Dira sudah menikahi Melati berarti harus nerima semua kekurangannya," jawabku.

Aku berbohong soal perasaanku pada Mama. Terkadang kita terpaksa berbohong untuk menyenangkan orang lain. Padahal jika sampai mereka tau apa yang sebenarnya terjadi, pasti rasanya dua kali lebih sakit daripada tahu di awal.

Malamnya terpaksa Melati tidur di kamarku dan kamarnya ditempati Mama. Aku tidur di ranjang dan Melati tidur di sofa. Kuperhatikan Melati, sepertinya dia tidak bisa tidur. Aku mendekat ke arahnya.

"Kenapa belum tidur?" tanyaku.
"Eh..., abang juga belum tidur."
"Udah tidur tadi tapi terbangun. Apa karna tidur di sofa makanya kau gak bisa tidur?" tanyaku.

"Nggak kok bang. Bukan karna itu."
"Lalu...?"
"Tiba-tiba aja aku ingat Ridho."
"Hmmmm..."

Aku ikut sedih melihat Melati tapi gak tau mau berbuat apa. Ternyata dia belum bisa melupakan calon suaminya yang sudah meninggal.
"Kau tidur di tempat tidurku aja biar aku di sofa!" tawarku.
"Gak apa-apa kok aku tidur di sini."

Aku menarik tangan Melati dan membawanya ke tempat tidur. Dia berbaring sambil terus menatapku. Aku menyelimutinya.

"Bang... terima kasih...."
"Terima kasih untuk apa?" tanyaku
"Karna abang sudah baik pada Mamaku. Dia terlihat bahagia sekali."

Aku duduk di sisi tempat tidur. Melati menggeser tubuhnya agar aku punya tempat duduk.
"Aku suka Mama. Dia manis gak kayak kamu," balasku.
"Hmmm...."
Melati cemberut.

"Aku gak bisa bayangkan gimana kecewanya Mama kalo kita bercerai nanti," sambungnya.
"Mamaku juga pasti kecewa." Aku menarik napas. 
"Dia juga menyukaimu."

Entah kekuatan apa yang menggerakkan tanganku menyentuh rambut Melati. Dia juga tidak berontak. Aku membelai rambutnya. Melihat Melati dengan jarak yang begitu dekat, membuatku tidak bisa berpaling untuk tetap menatapnya....
Dia cantik sekali. Serrr..., aku merasakan debaran jantungku kian cepat. Ingin rasanya aku cium bibirnya yang merah itu. Aku yakin bibir itu belum pernah ada yang menjamahnya. Akh... andai saja pernikahan kami berjalan normal aku pasti sudah melampiaskan hasratku padanya.

Melati sudah tidur. Aku ingin berdiri tapi tidak jadi karena dia memeluk pinggangku. Dia kelihatan nyenyak. Tanganku gemetar menyentuh pipinya. Halus sekali. Perlahan ku dekatkan wajahku ke wajahnya. 

Tiba-tiba saja bayangan wajah Mira muncul dibenakku. Aku mengurungkan niatku untuk mengecup bibir Melati. Lalu beranjak dari sisinya dan merebahkan tubuh di sofa.
*
Aku sudah selesai berpakaian kerja dan segera menuju dapur. Kulihat Mama dan Melati sudah menunggu di meja makan.
"Sarapan dulu Dir...," ajak Mama.
"Iya Ma."
"Kenapa barang-barang Melati ada di kamar yang Mama tempati?"

Aku kaget. Melati melihat ke arahku. Bingung mau bilang apa.
"Gini Ma...," Melati gugup.
"Jadi kamu belum pindahin lagi barang-barangmu ke kamar Mel?" tanyaku pura-pura.
"Apa...? Oh iya.... Aku lupa," jawabnya.
"Ada apa ini?" tanya Mama heran.

"Ma..., kemaren itu Melati marah padaku lalu dia angkat semua barangnya ke kamar itu dan dia tidur di sana." Aku berbohong.
"Iya Ma. Melati lupa mindahinnya lagi."

"Pertengkaran itu biasa terjadi dalam rumah tangga. Apalagi pernikahan kalian tidak direncanakan. Mama ngerti kalian butuh waktu untuk saling memahami dan mengerti. Lain kali kalo selisih paham jangan pakai pisah kamar!" seru Mama.

"Iya Ma," aku dan Melati menjawab serentak.
"Oh ya Ma, Dira berangkat kerja dulu," pamitku.
"Hati-hati di jalan."
Aku menyalam Mama lalu hendak pergi tapi dihalangi Mama.
"Kok kamu gak salam tangan suamimu Mel?" tanya Mama.
Aku dan Melati saling tatap.

"Iya Ma... biasanya di pintu nyalamnya."Melati berbohong.
Mama dan Melati mengantarku ke depan pintu. Dia menyalam dan mencium tanganku. Spontan aku mencium keningnya. Dia kaget lalu menginjak kakiku.

"Auuu...." Aku menjerit kesakitan.
"Ada apa?" tanya Mama.
"Maaf bang..., gak sengaja."
"Kamu ada-ada saja Mel. Ya sudah Mama mau ke dapur," pamit Mama.
Mama pergi meninggalkan kami.

"Kau pasti sengaja kan?" tanyaku kesal.
"Ngapain tadi pake cium-cium kening segala?"
"Supaya Mama gak curiga."

Sobat-Sobat semua, besuk saja ya di nomor 07 sandiwara kepura-puraan Melati-Dira di depan Mama Melati kita teruskan. Akan terbongkarkah sandiwaranya?... Sabar saja ditunggu besuk ya Sobat

Bagian 07
Sampai di kantor, aku berjalan menuju ruanganku sambil bersiul-siul. Beberapa orang menatap dengan pandangan seperti tidak pernah melihatku saja. Aku cuek saja dan terus berjalan. Adam mengikutiku.

"Sepertinya hari ini ada yang bahagia," katanya.
"Biasa aja."
"Tumben bersiul-siul."
"Hmmm...."
Aku dan Adam sampai di ruanganku.
"Kau datangkan nanti malam?" tanya Adam.
"Kemana?" tanyaku balik.
"Lupa ya?"
"Apa sih?"
"Undangan pernikahan Susi."
"Untung kau ingatin. Aku benar-benar lupa. Nanti malam ya?"

Adam menunjukkan sebuah undangan padaku.
"Lihat nih!" serunya.
Aku melihatnya. Ternyata benar undangannya nanti malam.
"Kau ke sana dengan siapa?" tanya Adam.
"Tentu saja dengan Mira. Emangnya kenapa?" tanyaku balik.
"Istri kamu tu Melati bukan Mira."
"Tapi aku cintanya sama Mira."
"Kalo gitu boleh dong aku ajak Melati."

"Apa?? Tidak boleh."
"Loh..., kau kan pergi bersama Mira jadi apa salahnya aku ajak Melati."
"Gak boleh."
"Aku tunggu kau pergi dari rumah baru aku datang."
"Awas ya kalo sampai kau ngajak Melati."

"Waw..., ada yang marah nih.... Jujur Dir, aku suka lihat Melati. Dia cantik dan baik."
"Apa??" Aku kaget.
"Kenapa? Kok kaget gitu?" tanya Adam.

"Gak kenapa. Itu karna kau belum kenal Melati lebih dalam makanya kau bilang dia baik. Dia itu menyebalkan dan cengeng sekali. Manja. Bikin repot."

"Cieee..., ternyata kau sudah tau banyak soal Melati."
"Apa sih...?"
"Aku suka Dir tipe cewek Manja. Dengan kemanjaannya aku merasa dibutuhkan."

Perkataan Adam ada benarnya juga. Tiba-tiba aku merasa khawatir tapi gak tau kenapa.

Aku pulang ke rumah. Kupanggil-panggil Melati tapi tidak menyahut. Aku masuk ke kamarnya tapi dia juga tidak ada di sana. Akhirnya kupilih duduk di sofa depan TV. Melati datang.

"Kau dari mana?" tanyaku.
"Dari kamar mandi."
"Mama mana?"
"Mama sudah pulang. Abang sudah makan?"
"Kalo aku bilang belum emangnya kau bisa buatkan?"
"Tadi sebelum Mama pulang, dia masak dulu untuk Abang."

"Nanti ajalah. Masih kenyang."
"Bang..., tadi bang Adam nelpon ngajak pergi ke pesta nanti malam."
"Apa??? Jadi kau sama dia sudah tukaran nomor Hp ya?" tanyaku.
"Loh..., katanya dia dapat nomorku dari Abang."
"Hmmmm...."

Aku ingat, seminggu yang lalu Adam meminta nomor Hp Melati dan aku memberinya.
"Lalu kau jawab apa ajakannya?" tanyaku.
"Aku bilang, aku gak bisa pergi tanpa ijin dari Abang."
"Baguslah.... Kau tidak boleh ke sana."
"Iya bang."

Aku tersenyum Melati menurutiku. Tapi aku tidak yakin dengan Adam. Bagaimana kalau dia benaran datang ketika aku sudah pergi dari rumah.
"Mel...."
"Ya...."
"Kau ikut aku nanti malam."
"Kenapa?"
"E...e... begini...."

Aku gugup tidak tau mau buat alasan apa.
"Aku malas ikut," Melati menimpali.
"Mama pasti datang. Apa alasanku nanti kalo dia tanyakan kenapa kau gak ikut?" tanyaku.
" Emangnya Mama datang ya ke pasta itu?"
"Tentu saja."
"Hmmmm... ya sudah. Aku ikut."

Aku tersenyum penuh kemenangan. Lalu aku masuk ke kamar dan menelpon Mira untuk membatalkan pergi bersamanya dengan alasan takut dilihat Mamaku.

Aku sudah siap untuk pergi ke pesta dan menunggu Melati di samping mobil. Dia datang. Dan... cantik sekali, ayu, manis. Aku memandangnya tanpa berkedip.

"Bang..., kok lihatin aku kayak gitu? Lucu ya penampilanku?" tanya Melati.
"Iya... jelek tau...."
"Kalo gitu aku ganti baju dulu."
"Gak usah. Udah gak sempat. Lagian kau mau pakai baju apa pun tetap jelek."
"Huhhhh...."

Melati cemberut. Kami masuk ke dalam mobil dan segera meluncur.
Sampai di sana, aku membukakan pintu mobil. 

Melati keluar dan aku menggandengnya masuk ke Hotel tempat resepsi pernikahan.
Kami bertemu dengan Mira dan Dafa. Aku melepas tangan Melati.

"Hai...Mir," sapaku, "udah lama?"
"Barusan. Hai Melati..., bagaimana kabarnya?" tanya Mira.
"Baik.... Bang, aku mau ke toilet dulu," pamit Melati.
Lalu dia pergi. 

Aku khawatir dia pergi sendiri. Aku pun mengikutinya. Melati lama sekali keluar dari toilet. Aku mulai kesal. Akhirnya dia keluar juga.
"Lama banget di dalam!" seruku.
"Aku kan gak nyuruh abang nungguin aku."
"Kalo kau hilang gimana? Ntar Mama marah padaku."
"Aku bukan anak kecil."
"Udah ayo!"

Aku menarik tangan Melati. Kami bertemu dengan Adam. Dia sedang ngobrol dengan pak Agung, klien yang beberapa hari lalu kutemui di Restaurant Mira Food bersama Melati.

"Hai pak Dira," sapanya.
Kami bersalaman
"Bagaimana? Kontrak kerjanya sudah sampai ke tangan bapak kan?" tanyanya lagi.
"Sudah pak."
"Bu Melati..., gimana kabarnya?" tanya pak Agung.
"Baik pak. Jadi referensi kami diterima ya pak?" tanya Melati.

"Tentu saja."
"Kok kemaren kata abang semua berantakan gara-gara aku?" tanya Melati padaku.
Aku tersenyum. Melati mendengus kesal.

"Bagaimana kalau Ibu kerja di perusahaan kami?" tanya Pak Agung, "kebetulan lagi membutuhkan sekretaris."
"Maaf pak, saya tidak mengijinkan istri saya bekerja," aku menimpali.

"Istri Bapak berbakat."
"Tapi saya tidak mengijinkannya."
"Kalo jadi sekretarisku boleh gak Dir?" tanya Adam.
Aku menatap Adam kesal.

"Maaf... kami permisi dulu pulang duluan. Ayo Mel!" seruku.
Aku menarik tangan Melati meninggalkan Adam dan Pak Agung.

"Beneran mau pulang bang?" tanya Melati, "cepat banget."
"Kenapa? Kau masih pengen ngobrol dengan mereka ya?"
"Ya nggak juga. Heran aja."
"Bilang aja kau suka dengan Adam."
"Apaan sih?"

"Melati, kau gak kenal siapa Adam. Dia itu playboy."
"Emangnya kenapa kalau playboy? Aku kan nggak ada hubungan apa-apa dengannya."
"Nanti kau disakitinya."
"Kok bisa nyakitin?"
"Ya iyalah. Makanya jauhi Adam. Aku kasihan padamu."

"Sejak kapan abang punya rasa kasihan. Abang itu selalu menyebalkan."
"Ya kan... aku gak mau dengar kau menangis ketika Adam mempermainkanmu. Bising... dengar tangisanmu nanti."

"Dasar aneh.... kenapa juga aku harus menangis karna bang Adam."
"Bukankah kau menyukai Adam?"
"Nggak lah. Pulang aja yuk!" ajak Melati.
"Ayolah..."

Kami berjalan menuju parkiran mobil. Melati masuk ke dalam. Tiba-tiba Mira muncul.

"Dir..., antarin aku pulang. Aku tadi gak bawa mobil," kata Mira.
"Tadi kau ke sini naik apa?" tanyaku.
"Aku ke sini bersama Dafa. Tapi aku pengen diantar kamu."
"Ya sudah. Ayo...."

"Bang..., jadi gak pulangnya?" tanya Melati.
"Mir..., kamu tunggu aku di sini ya! Aku antar Melati dulu."
"Ya sudah kalo kamu gak bisa ngantarin aku. Biar aku naik taxi aja," kata Mira.
Mira pergi meninggalkan ku. Lalu aku mengejarnya.

"Jangan gitu dong Mir."
"Dir..., kau lebih milih dia. Ya sudah aku naik taxi aja," kata Mira.
"Bukan begitu. Aku gak mungkin biarkan Melati naik taxi malam-malam begini."
"Ya sudah biarkan dia pulang sendiri bawa mobilmu."

"Dia gak bisa bawa mobil. Begini saja, aku antar dia dulu. Setelah itu jemput kamu lagi ke sini baru kita pergi kemana pun kamu mau."
"Ya sudah. Tapi jangan lama."
"Iya. Jangan kemana-mana. Tetap di sini."

Aku meninggalkan Mira dan masuk ke mobil. Lalu aku mengantar Melati pulang. Selama di jalan, aku dan Melati diam saja. Sampai di rumah, Melati turun dari mobil. Aku meninggalkannya di rumah dan menuju dimana Mira berada.
*
Pagi hari, aku pulang ke rumah. Kubuka pintu kamar, betapa terkejutnya aku melihat Melati di dalam kamarku.
"Ngapain kau di sini?" tanyaku.

"Aku membersihkan kamar Abang. Kenapa Abang tadi malam gak pulang? Abang bersama Mira ya?"
Aku diam saja. Malas tuk menjawab pertanyaan Melati.

"Kenapa Abang diam saja? Benarkan, Abang bersama Mira?" tanyanya lagi.
"Apa urusanmu?"
"Tentu saja urusanku. Aku ini istri Abang."
"Sejak kapan kau merasa jadi istriku?"
Melati terdiam.
"Lagian sebentar lagi kita akan bercerai. Kau jangan lupa itu," sambungku.

"Tentu saja aku tidak lupa. Aku... aku... aku cuma ingin mengingatkan kalo Abang dan Mira itu belum menikah jadi gak boleh tinggal bersama."
"Aku tau."
"Jadi kalo tau kenapa nginap di rumah Mira?"

"Siapa juga yang nginap di sana. Tadi malam aku tidur di Apartement. Udah... keluar sekarang dari kamarku karna aku mau mandi. Atau kau mau mandi bareng. Boleh..., dengan senang hati."

"Dasar genit."
"Loh... kita kan suami istri jadi gak masalah. Ayo dong istriku. Temani abang mandi."
"Mesum."

Melati setengah berlari keluar dari kamar. Aku tersenyum karena sudah berhasil bikin dia kesal.
*
Aku memanggil-manggil Melati dengan suara yang keras agar dia mendengarnya. Dia pun datang. Tanpa mengetuk pintu, nyelonong saja.

"Tidaaaakkkk...."
Melati berteriak dan keluar dari kamar. Ternyata aku hanya memakai celana dalam.
Kuraih handuk yang tergantung lalu memakainya. Aku menemui Melati di depan kamarku. Membawa beberap baju kemejaku

"Melati..., kenapa bajuku seperti ini?" tanyaku sambil memperlihatkan baju kemeja putih yang terkena luntur.
"Hehee..., aku menyucinya. Gak tau kenapa jadi seperti itu."

"Kalo gak bisa kerja gak usah dikerjakan. Lagian siapa yang nyuruh kau menyuci pakaianku?"
"Ya maaf."
"Enak aja bilang maaf. Kau selalu bikin kesal."
"Aku kan gak sengaja."
"Makanya jangan sok tau. Kau tu gak tau apa pun. Dasar payah...."

"Aku kan udah minta maaf. Kenapa marah-marah terus?"
"Supaya kau tau lain kali gak usah sentuh barang-barangku termasuk pakaianku."

"Apa salah aku mencoba tuk jadi istri yang baik?"
"Salah...."
"Baiklah. Aku memang gak pantas berada di rumah ini."
Matanya berkaca-kaca. Lalu dia keluar dari kamarku. Aku pun bersiap-siap berangkat kerja.

Seleseai berpakaian rapi, aku keluar. Kulihat Melati keluar dari kamarnya sambil membawa koper.
"Kau mau kemana?"
"Pulang.... Untuk apa aku berada di sini?"
"Ya sudah kalo mau pulang. Jangan balik lagi."
" Gak akan."
Dia keluar dari rumah. Aku terdiam menatap kepergiannya.

Nggak tahan juga ya akhirnya. Melati mau pulang meninggalkan Dira sebelum waktunya...Tapi apa iya begitu?
Tunggu ya besuk saya posting nomor 08 sambungan ceritanya. Apa betul Melati jadi pulang? Terus bagaimana reaksi Bapak Ibunya?

Bagian 8
Dengan wajah cemberut, Melati memasuki rumah Orangtuanya. Dia mengucapkan salam dan mencium tangan Wina, Mamanya. Tanpa permisi dan tetap dengan wajah kusut, dia meninggalkan Bu Wina.

Bu Wina sudah paham, pasti ada masalah yang Melati hadapi. Dia menarik napas dalam-dalam. 

"Pasti bertengkar lagi," dia bicara sendiri.
Bu Wina membiarkan Melati. Dia tahu betul watak putri semata wayangnya, jika sudah cemberut mending dibiarkan. Sebentar saja, suasana hatinya akan baik lagi. Melati mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Benar saja, 15 menit kemudian, Melati datang dan berbaring di pangkuannya. Bu Wina membelai rambut Melati.

"Ada apa?" tanyanya.
"Bang Dira, Ma," jawab Melati.
"Kalian bertengkar lagi?"
"Dia selalu bikin kesal."
Melati duduk dan menghadap Mamanya.
"Ma..., Melati ingin bercerai saja."
"Mel..., Alloh membenci yang namanya perceraian," sambung Bu Wina.

"Kenapa sih jodoh Melati itu bang Dira. Bukankah wanita baik-baik akan berjodoh dengan pria baik-baik juga."
"Ya itu benar."
"Trus kenapa Melati berjodoh dengan bang Dira. Dia itu shalat aja gak pernah. Sedangkan Melati shalat rajin dan gak pernah pacaran."

"Tu kesalahanmu. Melati bisa melihat kesalahan orang lain tanpa membaca diri sendiri. Tanyakan hatimu, apa yang salah padamu."
"Maksud Mama?" tanya Melati.

"Sayang..., apa kau sudah jadi istri yang baik untuk Dira?" Bu Wina balik bertanya.
Melati terdiam.

"Mel..., Alloh Maha Memberi apa yang terbaik untuk hambaNya. Dira itu jodoh yang Alloh pilihkan untukmu. Dialah yang terbaik. Masalah dia tidak pernah shalat, ya... kamu kan sebagai istri harus mengingatkannya dan ajak dia menuju jalan Alloh. Kalau Melati bisa mengarahkan dia ke jalan Alloh dan ikhlas menerimanya dan berusaha untuk jadi istri yang sholeha maka pernikahanmu akan jadi ladang amal buatmu," sambung Bu Wina.

Melati kembali berbaring di pangkuan Bu Wina. Dia diam saja.
"Sayang..., apa pernah kamu memperlakukan Dira sebagai suamimu? Tugasmu untuk melayani semua kebutuhannya. Mama tau, Melati gak pernah memasak untuknya. Iyakan?"
"Melati kan gak bisa masak Ma."

"Ya belajar dong, sayang. Cobalah untuk menerima semua takdir Alloh dengan ikhlas. Jadilah istri yang baik. Bisa saja hidayah datang untuk Dira melalui kamu. Jangan cari-cari kesalahannya tapi coba tanyakan apa yang salah padamu."

Mata Melati berkaca-kaca. Dan cairan bening mengalir dari sudut matanya. Bu Wina membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Tak baik seorang istri meninggalkan rumah," sambung Bu Wina.
*
Aku jadi gelisah memikirkan kepergian Melati. Bagaimana kalau dia benar-benar tidak balik lagi ke rumah. Kucoba untuk melupakannya. Tapi percuma. Aku tidak konsentrasi dengan pekerjaanku.

Aku berniat untuk menjemputnya siang nanti ketika jam istirahat. Tapi aku ragu. Dia pasti besar kepala kalau aku menjemputnya. Akhh..., biarkan sajalah.

Jam istirahat, aku memilih untuk pulang ke rumah dan menjemput Melati. Sampai di rumah, aku melihat ada Melati sedang menonton. Aku tidak tahu kenapa, senang aja melihat dia sudah pulang.

Tanpa bicara, aku duduk di dekatnya dan mencomot es krim magnum yang dipegangnya. Melati kaget.

"Ngagetin aja," katanya.
"Enak juga. Baru kali ini makan es krim," balasku.

Aku ingin menanyakan kapan dia balik tapi tidak jadi. Biar sajalah. Lebih baik aku tidak mengungkit kejadian tadi pagi.

"Kau sudah makan?" tanyaku.
"Belum."
"Kita makan di luar yuk!" ajakku.
Bukannya menjawab, Melati malah menatapku dengan tatapan heran.
"Kau harus sering-sering diajak keluar supaya gak lemot lagi," sambungku.

Melati kembali menatapku. Kali ini tatapannya menyeramkan. Bulu kudukku jadi berdiri. Aku jadi ingat berita yang barusan kulihat di medsos, seorang suami tewas di tangan istri karena sering membuat istrinya marah.

"Bang...," panggil Melati.
"Ya...."
"Apa Abang membenciku?" tanyanya.
Kali ini, gantian aku yang menatap ke arahnya. Kenapa dia bertanya seperti itu.

"Kok nanya gitu?" tanyaku.
"Ya aku pengen tau aja. Apa aku jadi beban dalam hidup Abang?"
"Tidak," aku menjawab dengan enteng.
"Lalu kenapa Abang suka marah-marah padaku?"
"Siapa yang marah?"
"Abang."
"Nggak lahh...."

Aku tidak pernah marah pada Melati. Hanya sedikit kesal. Aku senang menggodanya. Mungkin karena selama ini aku tidak pernah bercanda dengan siapa pun. Aku selalu tertutup pada orang lain bahkan dengan keluargaku. 

Sebenarnya aku pun tidak mengerti kenapa aku suka bikin Melati kesal. Bagiku itu lucu. Makanya kalau tidak melihatnya seperti ada yang kurang.

Aku malas balik lagi ke kantor. Perut berbunyi. Aku baru ingat ternyata belum makan. Dan kami tidak jadi makan di luar. Kulihat Melati tertidur. Kebiasaan..., kalau nonton suka tertidur.

Aku masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Aku berniat masak. Tapi di kulkas tidak ada bahan makanan. Hanya ada wortel, brokoli dan buncis. 

"Dasar wanita pemalas," bathinku.
Aku ingin membuat sayur capcai dari bahan yang ada. Aku terbiasa memasak sendiri sebab pernah tinggal sendiri di Apartement yang kubeli.
Ternyata Melati sudah bangun. Dia mendekatiku.

"Masak apa bang?" tanyanya.
"Masak sayur capcai. Kenapa bahan makanan tidak ada di kulkas?"
"Sering busuk tidak dimasak makanya jadi malas belinya."
"Itu karena kau tidak pandai masak. Makanya belajar."
"Iya deh. Aku mau belajar masak sama Mama. Boleh dibantu?"
"Gak usah. Bukannya bantu ntar kau malah bikin kacau."
"Huhhh...."

Melati cemberut. Aku tersenyum. Melati terus memperhatikanku masak. Dia menatapku.
"Mel..., tolong cucikan ya semua sayurnya!" seruku.
"Iya...."

Melati mengambil sayuran yang telah kusediakan. Lalu dia mencucinya. Setelah selesai dicuci, aku menyuruh Melati memotong-motongnya. Dia menuruti perintahku.
Aauuu....

Melati menjerit. Tangannya terkena pisau dan berdarah. Dia menangis. Aku kesal melihatnya. Kuperhatikan dia. Aku kasihan juga.

"Dasar cengeng....," kataku.
Aku mengambil kotak P3K. Lalu mengobati luka Melati.
"Motong sayur aja gak becus," sambungku, "apa sih bisamu? Dasar bodoh."

Tangis Melati tambah keras. Aku jadi gemas melihatnya menangis. Seperti anak kecil.

"Luka gini aja udah nangis," selaku.
"Aku gak suka abang bilang aku bodoh. Lebih sakit tau... dibanding luka tanganku."
Hahahaa.... Aku tertawa mendengarnya.

Yaaa tangan Melati berdarah teriris pisau!.
Diapakan ya sama Dira? Kalau Aku jadi Dira,  mestinya luka kecil gitu, langsung jarinya dimasukan mulut dan dihisap saja sambil dipandang matanya!.., dijamin berhenti pendarahan kecilnya. Mesra! kan?... dan Asiiin!
YO WIS sesuk waé di nomor 09 Dira olèhé ngemut drijiné Melati yang lentik itu... kan sudah saya  beri tahu!

Bagian 9
Akibat bangun kesiangan, aku jadi terburu-buru. Punya istri tapi tidak sekamar jadi tidak ada yang bangunin. Aku berjalan tergesa-gesa menuju dapur. Melati sedang membuat teh.

"Sarapan dulu bang!" ajaknya.
"Gak sempat. Ada meeting pagi ini."
Ku ambil segelas air putih lalu meminumnya. Belum sempat kuminum, Melati menyela.

"Bang..., minum itu gak boleh berdiri. Gak baik buat kesehatan."
Aku sedikit kesal tapi menuruti ucapan Melati.

"Hati-hati di jalan ya bang," sambung Melati.
"Apa?" aku menatapnya heran.
Melati tidak pernah mengatakan hati-hati padaku selama ini setiap aku hendak pergi. 

Tiba-tiba saja aku merasa pagi ini dia cantik sekali (memang sompah ku akui sejak awal dia itu ayu cantik kok) Aku suka dia bersikap manis seperti itu.
"Kok diam?" tanya Melati, "katanya ada meeting."
Aku tersadar dari lamunanku. "Eh... i... iya... hmmm.... Aku berangkat dulu."

Ya ampun... aku kok malah gugup. Kutatap dia kembali. Jantungku berdetak kencang. Ada apa ini? Aku tak mengerti.
"Bang..., kok malah bengong?" tanyanya lagi.

Astaghfirllah..., untuk kedua kalinya aku melamun. Padahal aku sudah ketinggalan. Aku segera pergi meninggalkan Melati sebelum aku terhipnotis lagi dengan tatapannya dan kecantikannya.

Selesai rapat, aku ingin balik ke kantor tapi menemui Mira dulu untuk permisi.
"Udah selesai sayang..., rapatnya?" tanyanya.
"Iya..., aku permisi ya, balik lagi ke kantor."
"Hati-hati di jalan! Jangan lupa nanti malam jemput aku.
"Iya."
"Cium dulu dong."

Aku mencium kening Mira. Biasanya aku sempatkan melumat bibirnya tapi kali ini aku enggan melakukan itu. Ntahlah..., aku pun tak paham.

Sampai di kantor, kulihat ada bungkusan di meja kerjaku. Penasaran apa isinya, kubuka. Ternyata Soto Medan. Masih panas. Aku segera keluar mencari Melati. Dugaanku pasti dia yang antar. 

Dan benar, kulihat Melati sedang ngobrol dengan Adam dan... loh..., itu kan pak Agung. Ngapain dia ke sini? Aku menghampiri mereka.
"Hmmmm...," aku berdehem agar mereka menyadari kedatanganku.

Tapi Adam terus nyerocos seolah-seolah sengaja agar Melati tidak menyadariku ada di situ. Ketika Melati melihat ke arahku, Adam nyerocos lagi dan kembali Melati melihat ke arahnya. Dan pak Agung juga ikut bicara. Sial..., bikin kesal aja. 

Aku tarik tangan Melati masuk ke ruanganku.
"Bang..., itu pak Agung dari tadi nungguin Abang," kata Melati.
"Alasan..., paling juga kalian janjian ketemu di sini. Iyakan?"
"Apaan sih?"
"Sepertinya dia baik banget padamu. Jangan-jangan kau ada hubungan dengannya. Dia itu kan duda."

"Jangan ngaco deh."
"Ngapain tadi kau ngobrol dengan Adam?" tanyaku ketus.
"Ya bang Adam menyapaku. Aku kemari tuk ngantarkan Soto untuk Abang. Tapi kata sekretaris Abang, lagi rapat di Restaurat Mira."

"Terus kau kesempatan pacaran dengan Adam."
"Apa sih...? Aku bukan kayak abang. Suka pacaran. Alasan rapat ternyata asik pacaran dengan Mira. Udah ahh... aku mau balik."

Melati meninggalkanku. Aku keluar dari ruangan untuk menemui pak Agung. Semoga saja dia belum pergi.
*
Aku ingat janji pada Mira untuk menjemputnya ke rumahnya malam ini. Dia ingin jalan-jalan. Cuaca kurang bersahabat, seperti mau hujan. Jadi malas hendak keluar. Tapi aku tidak mau Mira marah. Aku segera bersiap. Melihatku sudah rapi Melati bertanya.

"Mau kemana bang?"
"Mau jemput Mira."
Aku hendak pergi tapi Melati memanggil
"Bang...."
Aku menoleh
"Jangan pergi," katanya.
"Kenapa?" tanyaku.

Dia menatapku dan aku pun membalas tatapannya. Akhh... matanya selalu berhasil buat aku terpesona. Tanpa sadar, aku sudah dekat padanya dan menyentuh pipinya.

"Jangan pergi bang." Suara Melati menyadarkanku. Segera kutarik tanganku.
"Sepertinya mau hujan. Aku takut sendiri," sambungnya.

Benar saja. Sepertinya hujan akan turun. Melati takut petir. Padahal walau hujan belum tentu ada petir. Aku jadi tidak tega membiarkan Melati sendiri di rumah.
Aku masuk ke kamar untuk mengganti pakaianku. 

Bingung..., bagaimana dengan Mira. Dia pasti marah kalau aku tidak jadi datang. Biarkan sajalah.
Aku menemui Melati di kamarnya. Dia sedang berbaring dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Mel..., aku lapar. Kau masak sana. Ntar aku bantuin."
Melati diam saja.
"Mel...."
Melati tetap tidak menyahut. Dengan sedikit kesal kutarik selimut yang dipakai Melati. 

Dia menggigil. Kusentuh dahinya, panas. Aku panik.
"Badanmu panas Mel," seruku.
Melati menangis.
"Demam aja pakai nangis segala. Kayak anak kecil."

Melati tidak peduli ucapanku. Dia tetap menangis.
"Aku ingin pulang. Aku mau ketemu Mama," sahutnya.
"Ini sudah malam. Besok saja."
"Kalo gitu telponkan Mama."
"Akhhh..., kau tu sudah besar pun masih saja kayak anak kecil. Demam aja harus panggil Mama."
"Kepalaku sakit. Aku mau Mama."

Tangisnya tambah kencang. Dasar menyebalkan. Demam saja bikin repot, bathinku. Aku duduk di sampingnya dan mengusuk-kusuk kepalanya pelan.

"Aku beliin obat ya?" tanyaku.
"Nggak...."
"Biar sembuh."
"Kalo abang pergi, siapa temanku di sini?"
"Kan cuma sebentar."
"Gak mau. Abang harus di sini."
"Huhh.... Dasar cengeng."

Melati berbalik. Dia telungkup dan mengangkat rambutnya ke atas.
"Kusukin bang, kepalaku bagian belakang. Sakit!" serunya.

Aku menuruti permintaannya. Leher Melati putih dan jenjang. Serr..., timbul hasrat lelakiku. Aku coba berpaling dari pemandangan indah itu. Tapi tetap saja mengganggu pikiranku.
Pelan-pelan kugerakkan tanganku ingin menyentuh leher itu tapi..., Melati berbalik. Aisss..., ternyata dia sudah tertidur. 

Kusentuh dahinya. Masih panas. Aku pergi ke dapur mengambil air hangat dan handuk kecil lalu mengompresnya. Napasnya kencang pengaruh suhu badannya yang panas.
Aku pergi ke dapur dan memasak bubur. 

Setelah masak, aku melihat keadaannya. Dia masih tidur. Kuganti kopresannya lalu aku keluar rumah untuk membeli obat.
Sampai di rumah, aku terkejut melihat Melati berbaring di ruang tamu.

"Kenapa tidur di sini?" tanyaku.
"Abang ninggalin aku."
"Aku beli obat untukmu."
Kusentuh dahinya. Masih panas.
"Bang..., kepalaku masih sakit," rengek Melati.
"Panggil dokter aja ya?" tanyaku, "jangan-jangan tensimu turun."
"Iya...."
"Tidur di kamar saja!"

Melati mengulurkan kedua tangannya. Dia minta gendong. Astaga... nih anak manja banget. Aku kesal tapi kasihan juga melihatnya. 

Kuangkat Melati menuju kamarnya.
Tiba-tiba kakiku terlilit sesuatu. Aku terjatuh. Untung sudah di sisi tempat tidur. Kami berdua terhempas di atas tempat tidur dengan posisiku menindih tubuh Melati

"Akhhh...." Melati menjerit kesakitan. Aku duduk sambil berkata.
"Maaf... maaf Mel..., kakiku kesandung. Kau sih meletakkan handuk untuk ngompresmu tadi di lantai."

Aku menelpon dokter langganan Mama. Dokter datang dan memeriksa keadaan Melati. Ternyata tensinya turun makanya kapalanya sakit dan pandangan berkunang-kunang. Dia juga demam.

Setelah dokter pergi, aku ambilkan bubur yang kumasak tadi untuk Melati.
"Kau makan dulu buat minum obat," kataku.
"Aku gak suka bubur."
"Makan dikit aja biar minum obat!"
"Gak mau."
"Heii..., Melati, kau harus makan lalu minum obat. Kalo kau sakit aku juga yang repot. Cengeng...." aku setengah berteriak. Kesal melihatnya.

Kusodorkan bubur ke mulutnya. Dengan terpaksa dia membuka mulutnya yang mungil indah tapi agak pucat. Aku menyuapinnya. 

Selesai makan dia minum obat. Lalu berbaring lagi. Kuselimuti dia.
"Tidurlah....!" seruku.
"Abang jangan pergi. Aku gak mau sendiri."
"Iya bawel... Cepat sembuh biar aku gak repot."

Melati memejamkan matanya. Efek obat yang dia minum membuatnya cepat tertidur. Aku ingin keluar tapi tak sampai hati meninggalkannya. Aku mulai ngantuk. Kubaringkan tubuhku di samping Melati.
Kusentuh sekali lagi dahinya memastikan apakah panasnya sudah turun.

"Masih panas walau gak sepanas tadi," aku bicara sendiri.
Aku pun memejamkan mata sebelum hasratku datang lagi.

Namanya juga KUCING... walau takut-takut sama tuannya, pelan-pelan kucing itu mendekati ikan asin yang masih tersimpan rapat itu
Tunggu ya Mas & Mbakyu, besuk di nomor 10, coba kita intip kucing itu berani tidak membuka tutup saji yang menutupi ikan asin itu?

Bagain 10-11

Aku tidak menemukan Melati di rumah sepulang dari kerja. Dia pasti menjenguk Ridho. Aku mandi. Selesai mandi, nyalakan TV. Semua channel sudah kuputar tapi tidak ada yang menarik. 
Jadi kesal karena Melati tak pulang-pulang. Sepi rasanya tidak ada dia.

Sampai malam hari Melati tidak pulang. Aku sudah tidak tahan lagi. Kuambil hape dan belum sempat aku menelpon, dia sudah menelpon lebih dulu.

"Kau dimana Melati?" tanyaku kesal.
"Salam dulu. Kebiasaan deh," sahutnya.

"Kau pasti bersama Ridho kan?" Kataku tetap tanpa salam.
"Bang..., aku...."
"Kau istri macam apa? enak-enakan berduaan dengan mantan pacar sedangkan suamimu kelaparan di rumah."

"Sejak kapan abang nganggap aku istri?"
"Tetap sajakan kita itu suami istri," aku kesal.
"Abang cemburu ya?" dia tertawa.
"Cihhh..., gak usah kegeeran. Aku lapar."
"Ya datang ke sini!"serunya.
"Untuk apa aku datang ke sana? Mau pamer kemesraan ya?" aku emosi.

"Makanya dengarkan dulu penjelasanku. Aku tadi pergi ke sekolah Lija. Ada acara PENSI. Orangtua diundang. Mama dan Papa gak bisa datang makanya Lija ngajak aku ke sekolah."
"Jadi sekarang kau dimana?"
"Di rumah Mama. Udah cepat datang! Biar kita makan malam bersama."
"Ya sudah. Aku datang."

Aku segera meluncur ke rumah Orangtuaku. Sampai di sana, mereka sudah menunggu di meja makan. Aku duduk di dekat Melati. Kami pun makan malam bersama diiringi canda tawa Melati, Lija dan Papa juga Mama. Aku terharu, sebelumnya tidak pernah ada kehangatan seperti ini di rumah kami. Melati mampu buat suasana rumah jadi ramai.

"Pa... Ma..., kami pulang dulu," pamitku.
"Besok pagi saja pulang, Dir. Kalian nginap di sini malam ini," kata Mama.
"Lain kali saja Ma."
"Cieee..., Kak Dira pengen berduaan terus sama Kak Melati makanya ngajak pulang," sambung Lija.

"Huhhh...," cibirku, "anak kecil gak usah sok tau."
Melati tersipu.
"Ya udah kami pulang dulu," pamitku.

Aku dan Melati menyalam Papa dan Mama. Lalu kami pergi.
"Bang..., nanti singgah dulu ya di Apotik," kata Melati ketika sudah di Mobil.
"Ngapain?" tanyaku tanpa melihat ke arah Melati.
Aku menyetir dengan pandangan lurus ke depan melihat jalanan.

"Mau beli sesuatu," jawabnya.
"Beli apa?"
"Adalah."
"Apaan?" tanyaku balik.
"Huhhh..., kepo banget sih."
"Kalo gak mau bilang, aku gak mau berhenti."

Melati cemberut. Aku tersenyum sudah berhasil buatnya kesal.
"Beli pembalut," kata Melati pelan.
"Owhh.... Bilang pembalut aja susah."
"Malu tauu...."
"Hmmm...."

Aku menghentikan mobil tepat di depan sebuah Apotik. Melati turun dan masuk ke dalam apotik. Telponku berbunyi. Aku mengangkatnya.
Tidak berapa lama Melati datang. Dan mobil yang kukemudi kembali meluncur di jalanan.

Aku menghentikan mobil di sebuah Kafe.
"Kok berhenti bang?" tanya Melati.
"Mau temui teman sambil minum"
"Apa?" Melati kaget, "Abang pengen mabuk ya?"
"Negatif aja pikiranmu. Kopi kok atau apalah yang penting bukan alkohol. Kau mau ikut atau tetap di mobil?"
"Aku takut sendiri di sini."
"Ya sudah. Ayo turun!" seruku.

Aku dan Melati masuk ke dalam Kafe. Aku mencari Adam bersama tiga orang teman kami. Kami menemui mereka.
"Cieee..., Dira datang bersama istrinya. Benar-benar suami yang baik," seru Bisma.
"Suami yang setia," sambung Dhika.
Mereka tertawa.
"Apaan sih. Kami tadi lagi di jalan pas kalian telpon. Jadi sekalian aja mampir."

Kami ngobrol membicarakan pekerjaan diiringi canda tawa. Melati diam saja. Kulihat Adam memperhatikan Melati. Aku tidak suka. Aku merapatkan dudukku pada Melati.
"Bang..., aku ngantuk," kata Melati.
"Sebentar lagi. Masih ada yang mau dibicarakan," balasku.

Melati melipat tangannya di meja dan menyandarkan kepala di atas tangannya.
"Istrimu sudah ngantuk tuh, Dir," kata Bisma.
"Kalian pulang saja. Kasihan Melati," sambung Adam.
"Jadi nama istrimu Melati ya, Dir?" tanya Dhika, "nama yang cocok untuk wanita secantik dia."

Aku senang mendengar perkataan Dhika.
"Kenapa tidak aku ya yang menggantikan calon Melati pas pernikahan. Malah kau Dir," sambung Bisma sambil tertawa.
Kulirik Adam. Dia masih memperhatikan Melati. Aku kesal. Lalu kupeluk Melati dari belakang. 

Tiba-tiba...
"Auuuu..." jeritku tertahan.
Melati menginjak kakiku. Aku melepas pelukanku. Adam tersenyum melihat tingkahku. Aku tahu dia sengaja memperhatikan Melati ingin melihat reaksiku. Dia teman yang paling tahu apa yang kurasakan.

Kami terus mengobrol. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.15.
"Bro..., aku duluan ya. Kasihan Melati," kataku.
"Hadehhh... gitu tu kalo udah punya istri. Pengen di rumah terus. Gak betah di luar," goda Bisma.

Aku tertawa.
"Iya deh..., kasihan istrimu. Sepertinya sudah tertidur," sambung Adam.
Aku membangunkan Melati tapi dia tidak terbangun.
"Kasihan Dir. Udah tidur dibangunin gitu. Gendong aja," usul Dhika.
Benar kata Dhika. 

Aku juga tak sampai hati membangunkan Melati. Aku mengangkat tubuh Melati dan permisi pulang duluan pada mereka. Mereka meledekku.

Kami sudah sampai di rumah. Kulihat Melati tertidur pulas. Aku menatapnya lekat-lekat. Cantik sekali, aku tidak tahan. Pelan-pelan kugerakkan wajahku mendekat. Tidak ada jarak lagi. Dan tiba-tiba mata Melati terbuka.

"Aaaaakkkkk...." dia menjerit.
Aku terkejut. Dan langsung menjauh.
"Abang mau ngapain?" tanyanya.
"Bangunin.... Dari tadi gak terbangun," jawabku.
Aku keluar dari mobil. Melati juga.
*
Melati duduk termenung. Dia tidak menyadari kedatanganku. Aku lelah sekali. Hari ini pekerjaan banyak sekali. Aku duduk di dekatnya.

"Mikirin apa?" tanyaku.
"Eh..., abang....," dia terkejut.
"Kau gak ke rumah sakit?"
"Udah, tadi."
"Sendiri?" tanyaku.
"Sama Mama."
"Gimana keadaan Ridho?"
"Alhamdulillah..., udah membaik. Dia sudah tahu bahwasanya aku sudah menikah."
"Kok bisa?"
"Dia mendengar percakapan aku dan kakaknya."
"Ya baguslah. Kau tak perlu menjelaskannya lagi. Apa kau akan kembali padanya?" tanyaku.

"Hmmmm...." Melati berdehem, "ntahlah bang."
"Kenapa? Apa kau sudah tak mencintainya lagi?"
"Cinta sesama manusia itu ada batasnya bang. Kalo aku bisa milih, aku ingin mempertahankan rumah tanggaku."
"Apaa??"

Aku terkesima mendengar ucapan Melati.
"Alloh membenci yang namanya perceraian bang. Tapi sepertinya hubungan kita emang sulit dipertahankan," kata Melati.
"Maafkan aku Melati," sahutku.

Hanya itu yang bisa kuucapkan. Sebenarnya banyak yang ingin kukatakan tapi lidahku terasa berat. Setiap kali membicarakan masalah pernikahan, bayangan wajah Mira selalu muncul. Aku bingung apa itu cinta atau rasa kasihan.

Aku masuk ke kamar. Kutatap isi kamarku. Semua tersusun rapi. Semua ini Melati yang menatanya. Aku tersenyum.
Aku tak bisa tidur. Ku ambil hape dan mencari kontak nama Adam. Kusentuh tanda memanggil.... Adam mengangkatnya.

"Ada apa?" tanyanya.
Aku tersenyum. Adam paham setiap aku menelpon tengah malam, pasti ada hal yang mengganjal pikiranku.
"Ridho masih hidup," sahutku.
"Siapa Ridho?" tanyanya lagi.
"Calon suami Melati."
"Apa?" Adam kaget, "yang benar?"
"Apa kau pikir aku sedang bercanda?"

"Jadi itu yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya lagi.
"Nggak ah...."
"Kau jangan bohong. Aku tau kau mulai menyukai Melati."
"Sok tau...."
"Siapa lagi yang ngerti dirimu selain aku."

"Ntahlah, Dam. Aku senang aja gangguin dan bikin dia kesal. Kalo dia gak ada rasanya sepi."
"Itu artinya kau mulai menyukainya."
"Tapi..., tiap kali aku teringat pada Mira, aku mulai menjaga jarak dengan Melati. Aku gak bisa melepas Mira."

"Kau tiap hari ketemu dengan Melati. Wajar saja kau mulai merasakan arti hadirnya. Apalagi dia itu menyenangkan dan baik. Cantik pula."
"Ya dia baik dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Dan..., cantik."
"Nah..., kau akhirnya ngakui kalo Melati itu cantik," ledek Adam.

Aku tertawa.
"Apa kau menyukai Melati?" tanyaku.
"Ya aku menyukainya."
"Jujur banget."
"Ahahahaa..., tapi aku gak egois, Dir. Kalo kalian saling suka, aku gak akan mendekatinya. Tapi jika kau melepas Melati, aku akan mengejarnya."

"Aku gak akan bisa merebut hati Melati dari Ridho."
"Dasar pengecut. Dia kan istrimu. Milikmu. Kalo kau mencintainya ya perlakukan dia sebagai istri."
"Bagaimana dengan Mira?"
"Lepaskan."

Dira BINGUNG bangit! Bak makan buah "SIMALAKALA" Dia nggak biasa shalat sih, mestinya Dia bisa shalat istikharah kalau bingung menentukan pilihan begitu.

Kalau aku sih, pasti pilih Melati, walau sama-sama cantik, Melati itu kan wanita sholekhah yang bisa menuntun masuk syurga tho?
Oke, kita ikuti saja cerita selanjutnya. Kita saksikaan apa Dira nggak mau milih jalan ke syurga,? Besuk kita simak dulu sambungan ceritanya di nomor 12 ya

Bagian 12
Pulang dari lari pagi di hari Minggu, aku ambil air minum. Kulihat Melati seperti ingin pergi. Dia membawa tas kecil.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Ke rumah Mama."
"Ngapain?" tanyaku lagi.
"Ya main-main aja. Sekalian nanti belajar masak. Selama seminggu ini, aku rutin belajar masak."

"Paling juga nanti rasa masakanmu aneh. Gak cocok untuk dimakan manusia."
"Terserah mau bilang apa."
Dia cemberut. Aku jadi khawatir Melati bukannya ke rumah Mama Wina malah menjenguk Ridho.

"Kau gak boleh pergi," seruku.
"Kenapa?"
"Pokoknya gak boleh."
"Apa salahnya aku ke rumah Mama."
"Kalo aku bilang gak boleh ya gak boleh. Kau itu istriku jadi seorang istri dilarang keluar rumah tanpa ijin suami."

"Tapi bang...."
"Mau berdosa?"
Pertanyaanku membuat Melati terdiam. Dengan wajah masam dia masuk ke kamar. Hentakan kakinya ketika berjalan terdengar keras. Saking kesalnya. Aku tersenyum penuh kemenangan.

Aku duduk di sofa dan nyalahkan TV. Melati tak keluar-keluar dari kamarnya. Aku mendatanginya.
"Mel..., aku lapar."
"Ya abang sarapan aja. Kan sudah tersedia di meja," kata Melati dengan wajah yang masih cemberut.

Aku beranjak ke dapur. Kubuka tudung saji yang di atas meja. Di dalam ada nasi goreng. Kucicipi. Rasanya lumayan enak. Berarti Melati sudah mulai pandai masak.

Selesai sarapan, aku kembali menonton. Melati tak juga keluar dari kamarnya. Aku cari akal buat alasan agar Melati keluar. Ada yang kurang kalau tak menggodanya.

Baru saja aku berdiri hendak ke kamarnya, dia sudah datang membawa seember air dan kain pengepel. Aku kembali duduk dan menonton sambil makan kacang.

Melati diam saja. Dia masih cemberut. Aku mencari akal akal agar dia bicara. Kubuang kulit kacang dan bungkusnya ke lantai. Melati datang memungutnya. Aku pura-pura menonton. Dia tetap tidak bicara. Kubuang lagi kulit kacang ke lantai dan kembali Melati memungutnya. Kubuang lagi dan dia pungut lagi. Dan sekali lagi kubuang.

"Apa sih maksut Abang?" tanyanya kesal.
"Kenapa?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Dari tadi Abang terus buang sampah di lantai."
"Kau kan ada. Ya buang saja."
"Abang kan bisa ngumpulinnya. Jangan dibuang sembarangan di lantai."
"Ya kau pungut dong!"
"Sejak kapan aku tukang pungut sampah?"
Aku melihat ke arah Melati.
"Sejak kau tinggal di sini," jawabku santai.
"Dasar menyebalkan.

Melati mengambil keranjang tempat ia membuang sampah kulit kacangku. Dia menumpahkannya ke badanku. Aku berdiri agar sampah-sampah itu jatuh dari tubuhku.

"Kau apa-apaan sih?" tanyaku kesal.
"Kenapa? Marah?" tanya Melati.
Karena jarak kami cukup dekat, dia mendongak ke atas agar bisa menatapku. Kami saling tatap dengan mata menyala.
"Ayo bersihkan!" seruku.
"Nggak.... Bersihin aja sendiri."

Melati berjalan menjauhiku. Dia masuk ke kamarnya. Dan keluar membawa tas.
"Kau mau kemana?" tanyaku.
"Terserah aku mau kemana. 

Aku muak berada di sini."
Ingin rasanya kukatakan jangan pergi tapi egoku mengalahkan keinginanku.
"Jadi kau merasa muak? Ya sudah, pergi dari sini!" seruku.
"Baik. Aku pergi."
Melati berjalan keluar.

"Melati...," panggilku.
Melati menoleh. Aku jadi bingung mau bilang apa. Dan....
"Jangan lupa bawa pakaianmu!"
Akhh..., kenapa itu pula yang keluar dari mulutku, gerutuku dalam hati.
"Nanti sopir Papaku yang jemput," katanya.

Melati keluar dari rumah sambil membanting pintu. Aku kesal lalu kubanting semua bantal yang ada di sofa ke lantai. Kenapa jadi seperti ini. Padahal tadi niatku bikin Melati bicara.

Sampai sore Melati tak balik ke rumah. Berkali-kali kulihat daftar kontak di hapeku nama Melati. Tapi aku tak jadi menelponnya. Aku khawatir juga bagaimana kalau Melati pergi ke Rumah sakit. Ku ambil hape dan kutelpon Mama Wina.

"Asslamu alaikum," sapa Mama dari sana.
"Wa'alaikum salam. Ma..., ada Melati di sana?" tanyaku.
"Ada tapi udah pulang dari tadi."
"Oh gitu Ma. Mungkin lagi di jalan Ma. Ya udah dulu ya Ma. Assalamu alaikum."
"Wa'alaikum salam."

Panggilan terputus. Aku jadi bingung. Kata Mama Melati udah pulang dari tadi tapi tidak ada sampai di rumah. 

Enggan rasanya untuk menanyakan ke dia langsung. Ku kirim pesan pada Adam.
[Dam... coba tanyakan Melati ada di mana?]
Masuk balasan dari Adam
[Kenapa kau gak tanya langsung ma dia?]
[Dia gak mau balas pesan dariku]
Aku berbohong pada Adam.
[Kalian berantem lagi ya?]
[Gak usah banyak tanya. Cepat tanyakan sekarang]

Tidak ada lagi balasan dari Adam. Aku yakin dia sedang menelpon Melati. Jadi gregetan nunggu balasan dari Adam. Akhirnya masuk juga pesan darinya.
[Melati menjenguk Ridho. Tadi pergi bersama kakak Ridho]

Aku tidak balas pesan dari Adam. Segera saja menuju garasi dan menjalankan mobil dengan laju menuju Rumah sakit. Sampai di sana, langsung saja aku masuk ke ruangan tempat Ridho dirawat.

"Kau di sini rupanya," kataku pada Melati.
"Hai Ridho, bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah, sore ini aku sudah diperbolehkan pulang," jawab Ridho.
"Syukurlah," aku tersenyum walau dengan terpaksa.
"Bang Ridho..., kenalkan ini bang Dira, suamiku," Melati memperkenalkanku pada Ridho.
Aku mengulurkan tangan Ridho dan dia menyambutnya. Kami bersalaman.

"Terima kasih atas kunjungannya," sambung Ridho.
"Aku ke sini untuk menjemput Melati. Ayo Mel..., udah sore nih."
"Nggak...," jawab Melati setengah berbisik kepadaku.
Aku menarik tangannya keluar.

"Apa-apaan sih? Aku gak mau pulang," kata Melati.
"Apa kau ingin mengantar Ridho pulang ke rumahnya?" tanyaku.
"Ya..., emang kenapa?"
"Kau itu istriku. Seorang istri gak boleh menjenguk pria lain tanpa ijin suami."
"Ya sudah...., kita bercerai sekarang."

Kutatap Melati. Dia tidak pernah seperti ini. Apa dia benar-benar marah. Aku jadi merasa bersalah.

"Bukankah kau yang bilang gak boleh bilang kata cerai," balasku, "ayo pulang!"
"Aku gak mau pulang sama Abang. Aku mau pulang ke rumah Mama. Abang kan udah mengusirku."

Aku tidak tahu mau bilang apa. Kuangkat Melati dan membawanya keluar Rumah sakit.
"Turunkan aku..." Melati setengah berteriak.
Aku tidak mempedulikan teriakannya. Orang-orang melihat ke arah kami dengan heran. Aku tidak peduli. Ku turunkan Melati di depan mobil.

"Masuk!" seruku.
Melati menurut walau wajahnya seperti jeruk purut. Sampai di rumah, dia langsung masuk ke kamarnya. Sampai malam, Melati tidak keluar dari kamarnya. Aku mendatanginya ke kamar.

"Melati..., aku lapar. Masak dong!" seruku.
"Malas...."
"Hei..., aku suamimu jadi kau harus layani aku."
"Sebentar lagi kita akan bercerai."
"Sebelum bercerai, aku tetap suamimu. Jadi kau wajib memasak untukku. Cepat.... Atau kau akan berdosa."

Melati beranjak dari tempat tidur. Dia meninggalku. Aku tersenyum. Setiap aku katakan nanti berdosa, Melati pasti menuruti perintahku. Kata-kata itu jadi senjata andalanku.

Aku menyusulnya ke dapur. Kuperhatikan Melati yang sedang memasak. Dia kelihatan seksi ketika memasak. Selesai sudah masakan Melati. Dia menghidangkannya di meja dan mengambilkan piring dan gelas untukku. Dia duduk di depanku. Kami pun makan. Melati diam saja. Aku jadi merasa tidak enak.

"Mel..., masakanmu lumayan enak," kataku.
Melati tetap diam.
"Aku pikir orang sepertimu gak bisa belajar," sambungku.
"Emang Abang pikir Abang tu hebat sehingga Abang selalu menganggap aku bodoh."

Aku tersenyum.
"Kau masih marah ya?" tanyaku.
"Aku benci Abang," sahutnya.
"Tapi aku enggak kok. Iya deh..., aku minta maaf."
Melati diam. Dia cemberut. 

Aku mencari akal bagaimana agar Melati bicara.
"Mel..., ada kecoak," seruku sambil menunjuk ke arah tangannya.
Melati menjerit sambil mengibas-kibaskan tangannya. Dia berdiri.
"Itu dia...," aku menunjuk ke arah kakinya.
Melati melompat-lompat. Aku tertawa. Tanpa sadar, dia sudah duduk di pangkuanku. Kami saling tatap.

"Aku cuma becanda, Mel. Gak ada kecoak kok," kataku.
"Huhh.. dasar menyebalkan."
Melati memukul-mukul dadaku.
"Kau berat juga ya," balasku.

Melati tersadar kalau dia sedang duduk di pangkuanku. Dia langsung berdiri dan duduk di kursi yang dia duduki semula.

"Kau sih...,percaya aja. Mana mungkin ada kecoak di rumah ini. Kenapa kau belajar masak? Apa karna aku?" tanyaku.
"Ya.... Aku ingin masak sesuatu yang enak untuk Abang."
"Oh ya...?"
"Iya supaya Abang gak bilang aku bodoh lagi."
Aku tertawa

Asyik juga mengikuti canda tawa dan pertengkaran pengantin baru yang kawainnya terpaksa itu. Ya sudah  besuk kita lanjutkan lagi di nomor 13 pertengkaran mereka. Tunggu ya Kawan.

Bagian 13
Aku keluar dari kamar dengan pakaian sudah rapi menuju meja makan dan duduk. Melati menghidangkan nasi goreng ke hadapanku.

"Sarapan bang!" serunya.
"Nasi goreng ya? Ntar kayak yang kemaren-kemaren tu?"
"Cicipin dulu baru komen."
Kucicipi sedikit nasi goreng itu.
"Lumayanlah...,"sambungku, "lebih baik dibanding yang kemaren tu. Ini baru namanya nasi goreng."
"Jadi yang kemaren tu apa?"
"Nasi kucing," jawabku sambil tersenyum.
"Huhh... abang kan kucingnya."

Selesai sarapan, aku langsung berangkat kerja. Pagi ini ada meeting dengan klien. Ada banyak yang harus dipersiapkan untuk keperluan meeting.

Selesai meeting aku ke Restaurant Mira. Dia menelpon nyuruh aku datang. Kami ngobrol di salah satu meja. Biasanya kami di ruangan Mira.

"Dir..., aku ingin secepatnya kalian bercerai," kata Mira, "aku dengar calon suami Melati masih hidup. Itu bisa jadi alasan kalian bercerai."
"Sabar ya, Mir," balasku.
"Sampai kapan aku harus bersabar?" tanyanya.
"Pernikahan kami kan belum sampai 6 bulan."
"Apa harus 6 bulan baru bisa cerai? Kan nggak sih. Besok juga bisa kok."

"Tapi itu gak mungkin."
"Kenapa gak mungkin? Apa kau mulai menyukai Melati?"
"Kau jangan ngaco deh."
"Ya sudah kalo gitu segera ceraikan dia."
Mira berdiri.
"Jangan pernah temui aku lagi kalo kau gak mau ceraikan Melati," sambungnya.
"Jangan gitu dong, Mir."
"Sebelum kalian bercerai, aku gak mau bertemu denganmu."

Mira berjalan meninggalkan aku. Aku mengejarnya.
"Mir..., tolong mengerti posisiku."
"Kau juga harus ngerti aku, Dir. Selama ini aku sudah bertahan. Dan sekarang aku gak tahan lagi. Aku cemburu, Dir. Kalian setiap hari berduaan."
Mira meninggalkanku. Aku segera pulang. Pikiranku kacau jadi malas balik lagi ke kantor.

Sampai di kamar kulihat Melati duduk di kursi ruang makan. Makanan terhidang di meja depannya dan itu belum tersentuh.

"Kau belum makan?" tanyaku.
"Aku menunggu Abang."
"Kenapa kau menungguku?" tanyaku lagi.
"Apa salah aku menunggu? Telponku gak Abang angkat. Ternyata Abang berduaan dengan Mira."

Aku bingung kenapa Melati bisa tahu.
"Dari mana kau tahu?" tanyaku.
"Aku melihatnya."
"Ngapain kau ke sana?"
"Mama mengajakku ke sana. Sebenarnya aku menolak karna aku khawatir Abang berada di sana. Tapi aku tak punya alasan menolak ajakan Mamaku. Dan kami melihat Abang lagi berduaan dengan Mira."

"Seharusnya kau cari alasan agar Mama tidak ke sana."
"Apa alasanku? Lagian mana aku tahu Abang di sana," suara Melati meninggi.
"Akh...." aku menarik rambutku ke belakang.
Aku bingung dan mengkhawatirkan Mama Melati. Sungguh aku tak ingin menyakitinya.

"Kenapa Abang harus menemuinya? Apa dia begitu berharganya untuk Abang?" tanya Melati. Matanya menatapku tajam.
"Ya..., dia sangat berharga untukku." Aku diam sejenak. "Dibanding kau," sambungku.

Mata Melati berkaca-kaca. Dia setengah berlari meninggalkanku.
Aku masuk ke kamar. Pikiranku kacau. Bingung. Kubanting bantal untuk meluapkan emosiku.
Aku mengkhawatirkan Melati. Bagaimana kalau dia benaran belum makan dari tadi siang. Ini sudah malam.

Aku berjalan menuju kamarnya. Dia tidak ada di sana. Kulihat ke dapur, juga tidak ada. Aku membuka pintu. Melati ada di sana, di teras rumah. Duduk sambil melamun.
Kutarik napas dalam-dalam lalu bertanya.

"Apa kau sudah makan?"
Melati tidak menjawab.
"Kalo kau tak makan, kau bisa sakit, Mel," timpalku.
"Emang kenapa kalo aku sakit? Gak usah pedulikan aku."

Aku kesal mendengar jawaban Melati.
"Siapa yang peduli? Aku juga yang susah kalo kau sakit. Aku gak mau disalahkan. Makanya kusuruh kau makan. Udah cepat makan sana. Jangan menyusahkanku."

Melati berdiri lalu berkata, "Abang pikir aku bodoh, gak mau makan gara-gara Abang. Huhh..., aku gak peduli Abang tu mau kemana, menemui siapa." 

Dia meninggalkanku.
Melati berusaha menghidar. Dia tidak keluar kamar jika aku di rumah. Selesai memasak langsung masuk kamar. Seperti pagi ini, dia memasak untuk sarapan dan setelah menghidangkannya di meja, dia tak kelihatan. Aku sarapan sendiri.

Siang ini, aku berniat makan di rumah supaya bisa bertemu dengan Melati. Jam makan siang, aku pulang. Kulihat sudah tersedia makanan di atas meja. Masih panas. Tapi aku tak melihat Melati. Mungkin dia ada di kamarnya, batinku.

Aku mendatangi kamarnya. Pintu tidak dikunci. Melati ada di dalam. Aku ingin masuk tapi langkahku terhenti mendengar percakapan Melati. Dia sedang menelpon. Melati menghidupkan speker sehingga aku bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.

"Kalo kalian emang mau bercerai, aku siap menikahimu. Apa kau mau menikah denganku?" tanya si penelpon.
Suara pria dan aku yakin itu adalah suara Ridho.
"Apa?" tanya Melati.

"Aku masih mencintaimu, Mel. Kalo pernikahanmu tidak bahagia dan Dira berniat menceraikanmu, kembalilah padaku. Aku emang tidak bisa menjanjikan kebahagiaan tapi aku akan berusaha membuatmu bahagia karena aku mencintaimu."

"Tapi bang...."
"Apa kau mulai mencintai Dira?"
"Ntahlah Bang. Aku pun bingung tentang perasaanku. Setiap kami ketemu, pasti bertengkar. Dia selalu menyebalkan. Tapi sebenarnya bang Dira orangnya baik. Kadang dia bersikap manis. Aku bingung. Aku tak bisa memberi keputusan pada Abang."
"Aku akan menunggumu."

Aku tak suka mendengar percakapan itu. Ingin rasanya kurebut hape Melati dan membantingnya tapi aku tak melakukannya. Aku sadar, aku juga tidak bisa melepas Mira. Jadi aku berpikir, Melati juga berhak memilih jalan hidupnya. Aku merasa tak punya hak menghalangi Ridho menunggu.

Aku berjalan meninggalkan kamar Melati dengan langkah gontai. Selera makanku jadi hilang. Aku meninggalkan rumah.
Aku ke Restauran Mira karena perutku lapar. Setelah pesan makanan aku menelpon Mira.

"Kau dimana?" tanyaku.
"Di ruanganku."
"Cepat datang. Aku udah di sini. Aku tunggu."

Aku matikan telpon. Tidak berapa lama Mira datang. Dia duduk di hadapanku.
"Ada apa kau kemari?" tanya Mira, "kan sudah kukatakan, kau jangan temui aku sebelum kalian bercerai."
"Baiklah...."

Mira menautkan alisnya
"Maksudnya?" tanyanya bingung.
"Aku akan menceraikan Melati."
"Yang benar?"
"Iya..., dan kita menikah."
Mira mendekatiku lalu memelukku dari belakang.
"Makasih sayang...," serunya.

Aku hanya tersenyum. Tidak ada debaran itu lagi jika bertemu Mira. Aku tak berniat menciumnya seperti dulu.
*
Seperti biasa, sarapan sudah terhidang tapi Melati tidak kelihatan. Dia masih saja menghindar dariku. Aku jadi merasa bersalah. Apakah aku sudah menyakiti hatinya sampai dia tidak mau bertemu denganku. 

Aku sarapan sendiri. Lalu berangkat kerja. Kulihat Melati di teras depan sambil menyiram bunga-bunga yang ia beli.
"Kau sudah sarapan?" tanyaku.
"Ya...." jawabnya tanpa menoleh.
"Yang benar?"
"Ya....," jawabannya sama dan tetap tidak melihat ke arahku.
"Kenapa denganmu, Mel?" tanyaku.
"Maksud Abang?"
"Kau selalu menghindar dariku dan tak pernah menyapaku."

Melati berhenti menyiram bunga.
"Kita kan akan segera bercerai jadi mulai sekarang aku harus membiasakan diri untuk hidup tanpa melihat Abang. Dan abang juga harus belajar."

Emosiku naik mendengar perkataan Melati.
"Aku tak perlu belajar. A... aku pasti dengan gampang melupakanmu. Emang kau siapa?"
"Ya sudah..., jangan protes dengan apa yang kulakukan. Yang penting aku tetap menyiapkan makan Abang."
"Aku merasa gak enak aja serumah tanpa komunikasi."

"Emang kenapa? Aku kan bukan siapa-siapa bagi Abang. Yang penting dalam hidup Abang cuma Mira. Jadi untuk apa kita harus saling sapa."

Aku terdiam. Melati kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia menyirami bunga itu. Aku tersenyum melihatnya. Dari tadi dia terus menyiram bunga yang satu itu sampai airnya tumpah. Dia kaget melihatnya. Aku geleng kepala sambil tersenyum.

"Apa? Kenapa tersenyum?" tanyanya sambil berkecak pinggang seperti orang yang menantang berkelahi.
Aku hanya tersenyum. Lalu melangkah pergi. Tapi... aku balik lagi.
"Mel..., aku minta maaf jika sudah membuatmu tersinggung. Waktu itu aku lagi kesal jadi keluar kata-kata itu. Maaf ya...," kataku sambil mengacak-acak jilbabnya.
Mulutnya maju ke depan karena kesal. Aku tersenyum dan meninggalkannya.
*
Ada pekerjaan yang harus kukerjakan di luar kota. Aku menelpon Melati memberitahu padanya kalau aku tidak pulang. Mungkin dua hari baru pulang. Aku mengkhawatirkannya tinggal sendiri di rumah. Bagaimana kalau turun hujan. Melati pasti ketakutan.

Malam hari kutelpon dia.
"Kau dimana, Mel?" tanyaku.
"Aku di kamar Lija."
"Berarti kau di rumah Mamaku?"
"Iya..., tadi siang Lija menelpon nyuruh aku datang. Dia kesepian."

"Baguslah kalau kau di sana. Kau tidur di situ aja. Jangan di rumah."
"Iya...."
"Ya sudah ya..., baik-baik di sana. Jangan nakal."
"Apaan sih?"
Aku tersenyum.
"Jangan kelayapan ke rumah Ridho," sambungku lalu memutus panggilan sebelum Melati ngomel. Aku tersenyum membayangkan wajah cemberutnya.

Dua hari aku di luar kota. Aku merindukan Melati. Bayangan wajahnya selalu menghantui dalam ingatan. Aku senyum sendiri jika mengingat dia lagi cemberut karena kesal padaku. Akhh... kenapa aku harus merindukannya. Seharusnya aku merindukan Mira.
*
Aku sampai di rumah. Kulirik jam tanganku, sudah jam 20.00. Melati tidak ada di rumah. Kutelpon dia.
"Aku sudah nyampek rumah. Kau dimana?" tanyaku.
"Di rumah Mama. Nih lagi di kamar Lija."
"Aku jemput ya?"
"Iya...."

Mobilku meluncur di jalanan menuju rumah orangtuaku. Sampai di sana, kami pamit pulang. Tapi kami tidak langsung pulang. Aku menghentikan mobil tepat di depan sebuah kafe.

"Kita ngapain ke sini Bang? Apa Abang belum makan malam?" tanya Melati.
"Sudah. Duduk-duduk aja. Kita kan gak pernah keluar malam."
Melati mengikuti langkahku. 

Kami duduk di meja paling pojok. Sepi tidak ada pengunjung di sini.
"Kita pulang aja Bang!" ajak Melati.
"Loh..., kenapa? Apa kau tak suka tempatnya?" tanyaku.
"Suka.... Aku gak mau meninggalkan banyak kenangan selama kita menjadi suami istri. Itu akan membuat aku sulit melupakan Abang nantinya." 

"Kita kan gak perlu saling melupakan. Justru aku ingin mengingat saat-saat bersama kita setelah bercerai."
"Emang ada ya Bang kenangan indah saat kita bersama?"

Aku menatap Melati.
"Apa kau begitu tersiksa selama ini, Melati?" tanyaku serius.
"Maksud Abang?"
"Apa aku begitu buruk di matamu?"
Melati menggeleng pelan.

"Bagiku Abang orang baik yang rela menunda kebahagiaannya demi menikahi perempuan yang tidak dikenalnya. Kalau Abang tidak menikahiku mungkin Abang sudah hidup bahagia bersama Mira," jawab Melati.
"Apa ada jaminan aku bisa bahagia bersama Mira? Nggak kan? Bahkan aku mulai meragukan bisa hidup bahagia bersama Mira."

"Kenapa?"
"Mira perempuan egois yang sudah biasa hidup mandiri. Aku menginginkan wanita yang hanya di rumah mengurus keluarga. Wanita manja dan sholeha. Semua itu ada padamu bukan Mira."
"Apa???"

Aku terbawa suasana sehingga ucapan itu keluar begitu saja tanpa kusadari. Aku jadi malu. Kami terdiam.
"E... tapi... tapi aku akan mencoba menerima dia apa adanya," jawabku gugup.
Ahh...sial. Kenapa aku harus mengucapkan kata-kata tadi. Aku menyesal.

"Ya..., harus seperti itu. Abang harus menerima dia apa adanya," sambung Melati.
"Apa kau akan kembali pada Ridho setelah kita bercerai?" tanyaku.
"Aku gak tau Bang. Aku gak mungkin langsung menikah setelah bercerai. Aku butuh waktu untuk sendiri."

"Kau harus mencari kebahagiaanmu, Mel. Menikahlah dengan Ridho kalo itu bisa membuatmu bahagia. Dia itu lelaki impianmu. Aku yakin dia pasti bisa membahagiakanmu."

"Aku..., aku sudah tidak mencintainya."
"Kenapa?"
"Ntahlah...."

Kami terdiam dan saling menatap. Tatapan Melati selalu membuatku terhipnotis. Aku suka. Tanpa sadar, pelan-pelan aku mendekat. Dekat sekali hingga wajah kami tidak ada jarak. Aku mencium keningnya lalu turun kebibir. Ku kecup bibir berwarna pink yang hanya dioles pelembab. 

Melati diam saja dan membiarkannya. Aku langsung melumat bibirnya. Jantungku berpacu dengan cepat. Aku yakin belum pernah ada yang menyentuh bibir itu. Melati begitu kaku. Dia tidak membalas lumatanku. Dia hanya diam..

Akhh... aku menginginkan lebih dari ciuman. Tapi aku sadar kami berada di kafe bukan rumah. Tiba-tiba Melati mendorongku. Lalu dia berlari meninggalkanku.

Stop!! Jangan membayangkan jadi Dira yang mencium untuk pertama kali Melati istrinya. Jangan melamun berlebihan  ingat jaman pengantin baru!.... Ingat itu di Kafe lho!
Sabar ya Kawan melamunnya dilanjutkan di nomor 14 saja, mungkin suasana romannya Mekati Dira dilanjutkan dirumahnya... Asyik kali

Karya Rohana Rambe
Bagian 14

Bingung bagaimana menghadapi Melati. Gengsi masih saja menang dalam pertarungan bathin.
Sepanjang perjalanan pulang, kami diam membisu. Pandangan Melati lurus ke depan dengan ekspresi wajah yang tak dapat kupahami. 

Aku juga enggan tuk menyapanya.
Pikiranku tetap tidak enak. Apakah Melati marah? Aku harus menjelaskan semuanya tapi tidak tahu harus memulai kata-kata dari mana. 

Aku jadi kesulitan tidur. Pikiran selalu ingat adegan ciuman itu.
Akhirnya kuputuskan untuk menemui Melati. Lampu kamarnya sudah mati. Aku dorong pintu kamarnya, ternyata dikunci. Tumben, biasanya dia selalu lupa kunci pintu kamar. Aku mengurungkan niatku. Tapi... akhirnya kuketuk juga pintu kamar itu.

"Mel..., Melati..., apa kau sudah tidur?" tanyaku.
Kudengar suara langkah mendekat dan pintu terbuka.
"Ada apa?" tanyanya, "ganggu orang tidur aja."
"Mel..., aku... aku... apa ya?" aku gugup, "begini Mel..., sebenarnya... itu."
"Apaan sih? Ngomong yang jelas."

Aku jadi kesal. Aku sudah gugup tapi Melati santai saja. Apa dia sudah lupa?
"Aku mau jelasin soal ciuman tadi. Itu... itu bukan sengaja. Kau jangan salah paham."
"Owhh..., itu. Aku sudah lupa."
"Apa?" aku heran.
"Bahkan aku menganggap itu bukan ciuman. Anggap aja tabrakan. Misalnya aku lagi nabrak kucing trus terjadi deh...."

"Jadi kau anggap aku kucing?" tanyaku kesal.
"Ya" Melati mengangguk. Aku tambah kesal.

"Lalu kenapa kau menikmatinya?"
"Aku tidak menikmatinya."
"Aku lihat kau sampai mejamkan matamu. Itu artinya kau menikmatinya."

Wajah Melati memerah. Cantik!. Aku jadi punya ide tuk buat dia tambah kesal.
"Nggak...." suara Melati meninggi.
"Aku tau, Mel. Kau menikmatinya. Gimana? Asik kan? Gimana kalo kita ciuman lagi?"
"Apa?"
"Ayolah, Mel. Beri kucingmu ini satu ciuman lagi!"
"Huhhh... dasar menyebalkan."

Melati menutup pintu kamarnya. Aku tertawa sudah berhasil buat dia kesal. Aku senang lihat kalau dia cemberut. 
*
Melati memasak untuk sarapan pagi. Dia diam saja sampai selesai menyajikan semua hidangannya.
"Kenapa diam saja?" tanyaku.
"Emang salah?" tanyanya balik.
"Nggak sih. Setidaknya beri salam sama kucingmu yang manis ini. Dia kan udah kasih kau ciuman yang hangat."
"Diaaaaammmm...."

Aku kaget mendengar suara Melati dan memilih diam sampai selesai sarapan. Dalam hati aku senang sudah berhasil menggodanya.
"Aku berangkat kerja," pamitku, "jangan lupa masak yang enak untuk kucingmu yang manis."

Aku tersenyum. Melati cemberut karena kesal padaku. Aku meninggalkannya.

Sebelum jam makan siang, aku menelpon Melati untuk mengatakan kalau aku tidak makan siang di rumah. Aku sedang berada di sebuah kafe bersama Mira.

"Jadi sekarang kau harus lapor sama Melati kalau mau makan di luar?" tanya Mira.
"Supaya dia tidak menunggu."
"Dulu tidak seperti itu."
"Dulu Melati tidak pernah masak karena dia tidak pandai. Dia belajar dan sekarang masakannya enak."

"Kau begitu senang bicara soal Melati, Dir. Kau sudah berubah. Waktu itu kau berjanji padaku untuk menghindari Melati. Tapi kau menepatinya hanya sebentar."
"Maafin aku, Mir. Itu sangat sulit. Bagaimana mungkin aku bisa menghindar setiap hari selama kami masih satu atap."

"Kalau begitu kau harus menghindarinya untuk selamanya. Kau sudah janji padaku akan segera bercerai. Trus kapan?"

Aku menarik napas dalam-dalam lalu berkata, "Gak bisa secepat itu, Mir. Kami harus meyakinkan orang tua kami dulu."
"Alasan.... Atau jangan-jangan kau tidak mencintaiku lagi. Dan..., kau menyukai Melati."

"Bukan begitu, Mir."
"Kalau kau emang gak suka padanya, keluar dari rumah itu! Kau bisa tinggal di Apartement mu selama menunggu proses perceraian dengan Melati."
"Tapi...."
"Gak ada tapi-tapian...."
"Kenapa sih kau keras kepala?" tanyaku dengan nada tinggi.

Mata Mira berkaca-kaca. Lalu dia meninggalkanku. Dia menyetop taxi dan pergi. Sudahlah. Aku tidak berniat mengejarnya. Tapi aku jadi merasa tidak enak.

Mobilku meluncur dengan cepat menuju Restauran Mira. Sampai di sana, aku langsung menuju ruangannya. Terdengar suara percakapan dari dalam.
"Dira sudah berubah. Dia berani membentakku," kata Mira.
"Mungkin dia lagi ada masalah," sahut seorang pria. Itu suara Dafa.
"Dulu..., seberat apa pun masalah yang dia hadapi, dia tetap lembut dan hangat padaku. Aku rindu Dira yang dulu, Daf. Mungkin dia sudah mulai mencintai Melati."

"Mir..., Dira sudah menikah. Kau berharap pada suami orang lain sampai melupakan seseorang yang dari dulu mencintaimu."
"Maksudmu?" tanya Mira.
"Aku mencintaimu, Mir."
"Apa?" suara Mira seperti orang lagi kaget, "jangan menaruh kasihan padaku, Daf."

"Nggak, Mir. Aku emang dari dulu mencintaimu bahkan sebelum kau bertemu Dira. Makanya aku selalu ada untukmu tiap kali kau membutuhkanku."
"Dafa...."
"Bahkan Dira juga tau kalo aku mencintaimu. Aku juga pernah bilang padanya akan merebutmu kalau dia menyia-nyiakanmu."

"Tapi, Daf.... Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat."
"Gak apa-apa. Walaupun kau tidak bisa menerimaku, kita tetap bersahabat. Jadi jangan menghindar dariku. Aku selalu mendukung kebahagiaanmu."

Mereka diam. Tanpa sengaja, aku mendorong pintu dan terbuka. Mereka sedang berpelukan dan terkejut melihatku. Dafa langsung melepas pelukannya.

"Maaf kalo aku mengganggu," sahutku.
Aku hendak pergi tapi Dafa menghentikan langkahku.
"Tunggu, Dir! Kau jangan salah paham." kata Dafa.
"Gak apa-apa kok."
"Dir..., dulu jika kau lihat kami berduaan, kau langsung marah. Tapi sekarang...," sambung Mira.

"Apa aku masih berhak marah?" tanyaku, "bukankah aku juga tidak bisa memenuhi keinginanmu."

Aku meninggalkan mereka dan memilih balik ke rumah. Jadi malas balik ke kantor. Pikiranku sedang kacau.

Sampai di rumah, aku tidak menemukan Melati. Aku menghempaskan tubuhku di sofa. Setengah jam sudah tapi Melati tidak muncul-muncul. Kuambil hape dan menelponnya.
"Kau dimana?" tanyaku.
"Kebiasaan deh. Gak pernah ngucap salam."
"Maaf..., aku lupa. Assalamu 'alaikum"
"Wa'alaikum sallam. Aku di rumah Mama."
"Ngapain?"
"Gak ngapain. Rindu aja. Pas mau balik, Ridho datang, aku gak jadi balik."

"Cepat pulang!"
Aku langsung matikan hape dengan kesal. Emosiku langsung naik. Segera saja aku meluncur ke rumah mertuaku. Kelamaan kalau menungu Melati balik. 

Sampai di sana, aku cium tangan kedua mertuaku lalu permisi pulang. Masih bisa kutahan emosiku di depan mereka. Sampai di rumah, baru emosiku tumpah.

"Aku kan sudah bilang cepat balik tapi kau masih asik ngobrol dengan pria lain," kataku dengan nada tinggi.
"Dia kan ngobrol sama Papa dan Mama bukan padaku."
"Jadi kenapa kau gak balik? Kau suka keluar menemui pria lain tanpa pamit."
"Aku kan gak tau bang Ridho mau datang ke rumah."
"Bilang aja kalian janjian ketemu di sana."

"Apaan sih? Lagian apa salahnya? Kita kan udah sepakat boleh menemui siapa saja."
"Kecuali Ridho," sahutku.
"Kenapa?"
"Karena dia mantanmu."
"Apa bedanya dengan Mira?" tanyanya
"Ya bedalah. Dari awal kau sudah ijinkan aku menemui Mira. Tapi tidak dengan Ridho. Dia baru muncul sekarang."

"Alasan gak masuk akal."
"Hei..., Melati. Aku suamimu jadi kalo aku bilang kau gak boleh menemui Ridho, kau harus nurut. Lagian kau kan tau perempun yang sudah menikah tidak boleh menemui pria lain dan berduaan," nada suaraku meninggi.

"Aku tidak menemuinya. Kami hanya kebetulan bertemu. Dan kami tidak berduaan. Ada Papa dan Mama di situ."
"Sama aja," balasku.
"Ya nggak lah. Tapi kalo Abang baru namanya berduaan dengan Mira. Abang seperti orang yang cemburu saja."

"Apa...? Cemburu...? Untuk apa aku cemburu?"
"Jadi kenapa Abang marah?"
"Siapa yang marah? Aku... aku kan cuma e... hanya mengingatkan," jawabku gugup.
"Sudahlah bang..., aku bosan tiap hari berkelahi dengan Abang."

"Oh... jadi kau bosan denganku?" tanyaku emosi, "ya sudah pergi dari sini!"
"Jadi Abang mengusirku?"
"Nggak.... Kan kau yang bilang bosan."
Melati menatapku tajam lalu berkata, "baik..., aku pergi."

Dia masuk ke kamarnya.
"Akhhhh...," aku berteriak keras sambil membanting bantal-bantal yang ada di sofa. Aku masuk ke kamar. Belum puas lalu kutarik sprei tempat tidur dan membantingnya.
Melati tidak jadi pergi dari rumah tapi dia tidak keluar dari kamarnya sampai malam. 

Pikiranku benar-benar kacau karena berkelahi dengan Mira dan Melati. Ketika melihat Mira berpelukan dengan Dafa, hatiku tidak panas tapi melihat Melati bersama Ridho walau tidak berduaan, aku begitu emosi sampai lepas kendali. Aku marah-marah tak jelas.

Aku keluar rumah mencari ketenangan di luar. Duduk sendiri di sebuah kafe dan menyendiri di sana. Kupesan kopi. Kembali teringat pertengkaran dengan Melati. 

Tiba-tiba ingatanku melayang pada kejadian saat aku dan Melati berciuman di kafe tempatku sekarang duduk. Aku jadi tersenyum. Kulirik ke samping kanan. Astaga..., ada sepasang manusia tengah asik berciuman tanpa menghiraukanku. Sial...., gerutuku.

Aku balik ke rumah. Ketika melewati kamar Melati, jadi penasaran apakah dia di dalam atau pergi. Kudorong pintu kamarnya dan tidak dikunci. Ini kebiasaan Melati selalu lupa mengunci pintu kamar bahkan sejak ia remaja menurut cerita Mamanya.

Melati sudah tidur. Kupandangi dia lekat-lekat. Tanpa sadar, aku sudah berdiri di sampingnya. Dia cantik sekali. Mataku tak lepas dari wajahnya. Deg...deg...deg..., jantungku berdebar. Akh..., perasaan apa ini.

Kusentuh pipinya. Dia menggeliat membuat aku semakin gemas melihatnya. Entah dorongan dari mana, bibirku sudah tidak berjarak lagi dengan bibirnya lalu kukecup. Hasrat lelakiku datang menghampiri. Kulumat bibirnya. 

Melati terbangun. Matanya terbelalak kaget dengan tindakanku.
Aku tidak bisa lagi membendung hasratku.

Malam itu aku berhasil meniduri Melati walau dia berontak pada awalnya tapi akhirnya dia melemah dan mulai menikmati tiap sentuhan-sentuhanku. Setelah semua selesai, aku jadi merasa bersalah sudah memaksa Melati. Aku menyesal.

WUUAAH AKHIRNYA!...
Lelaki mana sih yang tahan serumah dengan wanita cantik ayu molek yang sudah sah lahir batin dunia akherat sebagai istrinya tanpa disentuh sekian lama?... Namanya juga KUCING sih!
Monggo monggo, mbenjang malih romannya dilanjutkan di nomor 15... oke?

Bagian 15
Melati meninggalkanku dengan mata berkaca-kaca. Kekhawatiran menghampiri. Dia tadi meninggalkanku dengan tangis yang ditahan. Pasti saat ini dia butuh penjelasan. Segera saja kuhampiri dia ke kamarnya.
Ternyata dia sedang shalat. 

Aku jadi malu pada diri sendiri. Lupa kapan terakhir aku menghadap Sang Pencipta. Inilah salah satu alasan aku ingin menceraikan Melati. Dia wanita yang sholeha sedangkan aku shalat pun jarang.
*
Diam-diam aku membenarkan perkataan Adam, seharusnya aku memantaskan diri bukan malah meninggalkannya. Sudah saatnya buang sifat ego dalam diri. Melati mengandung benih dariku. Dia membutuhkanku sekarang. Ya Alloh inikah rencanaMu agar aku dan Melati bersatu untuk selamanya?

Sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang terselubung dalam hati hambaNya. Ya..., walaupun aku mengatakan ingin bercerai dari Melati tapi di hati yang paling dalam, ada keinginan untuk bersama.

Kuambil wudhu lalu shalat Isya. Untuk pertama kalinya aku shalat selama menikah dengan Melati. Kucurahkan tangisan memohon ampunan karena sudah melupakannya. Tak lupa pinta petunjuk atas apa yang tengah kualami.

Selesai shalat, kembali kuhampiri Melati ke kamarnya. Dia tidak ada. Kucari ke teras depan. Ketemu..., dia duduk sambil menatap langit yang penuh dengan taburan bintang. Aku sudah paham dia pasti di sana jika sedang bersedih.

"Boleh aku duduk di sini?" tanyaku sambil duduk di samping Melati.
"Ngapain juga nanya. Belum dijawab pun Abang udah duduk."
Aku tersenyum. Sejenak kami terdiam.

"Aku udah memutuskan...," serentak kami bicara.
"Abang duluan ngomong," sambung Melati.
"Kau aja deh."
"Aku akan merawat calon bayi ini dengan atau tanpa Abang."
"Mel..., wanita hamil itu butuh dukungan dari suami. Aku tidak akan menceraikanmu. Kita rawat bersama anak kita. Mulai sekarang kau jangan banyak gerak."

Sorenya kedua keluarga kami datang berkunjung. Mereka tampak bahagia. Mama dan dan Mama Wina bergantian memeluk Melati.
"Ada apa ini?" tanya Melati heran.
"Kakak pura-pura gak tahu. Sebentar lagi Lija kan bakal punya ponakan," jawab Lija.
"Mama bahagia sekali. Setelah sekian lama akhirnya Melati hamil," sambung Mama.

"Sayang..., mulai besok biar buk Yum yang mengerjakan semua pekerjaan rumah," kata Mama Wina.
"Tapi, Ma..., Melati bisa kok mengerjakan semuanya."
"Wanita hamil gak boleh kecapekan, sayang," sambung Mama lagi.

Malam itu kami makan bersama. Setelah selesai, semua keluarga ngumpul sambil ngobrol diiringi canda. Sampai lupa waktu. Bahagia sekali bisa merasakan kehangatan keluarga. Berkah pertama atas kehamilan Melati. Jam 22.00 semua keluarga sudah balik.

"Kenapa Abang kasih tau mereka soal kehamilanku?" tanya Melati.
"Emang kenapa? Mereka kan berhak tau kabar bahagia ini."
"Apa menurut Abang ini kabar bahagia?"
"Tentu saja. Sebentar lagi aku akan jadi Ayah."
"Ayah anak dari wanita yang tidak Abang cintai."

Aku menoleh ke arah Melati. Kami saling tatap.
"Apa aku boleh pegang?" tanyaku.
"Apa?"
"Anak kita."
Kuelus perut Melati. Dia jadi gugup.
"Baik-baik ya Nak di dalam," kataku.

Melati tersenyum geli.
"Kok senyum sih?" tanyaku.
"Lucu. Udah ah..., aku mau tidur."
Melati berjalan meninggalkanku. Aku mengikutinya.

"Mulai sekarang kau tidur di kamarku!" seruku.
"Lalu Abang tidur dimana?"
"Ya di sini juga. Wanita hamil tidak boleh tidur sendiri."
"Hmmmm..., gak mau tidur dekat Abang."
"Kalo kau gak suka setidaknya pikirkan bayi dalam kandunganmu. Dia butuh kasih sayang dari Ayahnya."
"Alasan....," kata Melati tapi dia menurut ketika kubimbing masuk ke kamar.

Melati tidur membelakangi. Aku mendekat lalu memeluknya dari belakang tetapi dia menepis tanganku. Tidak berapa lama terdengar dengkuran halusnya. Melati tipe wanita yang gampang tidur. Kupeluk lagi dari belakang. 

Dia berbalik. Tiba-tiba....
"Aakkkk..." jeritnya.
"Ada apa?" tanyaku panik.
"Aku terkejut kok ada orang tidur di sampingku."
"Astaga Melati..., aku pikir ada apa."
"Aku kan gak terbiasa tidur bersama seseorang."

"Makanya mulai sekarang harus dibiasakan biar kau tau tidur bersama itu enak dan menyenangkan."
"Apaan sih....?"
"Kan sebelumnya kita pernah tidur bersama."
"Kapan?"
"Waktu kau ketakutan karena suara petir dan... saat kejadian itu."

Wajah Melati memerah. Aku tersenyum.
"Semoga malam ini turun hujan disertai petir," timpalku.
"Huhhhh..., dasar genit. Awas ya kalo macam-macam," sahutnya sambil mengambil bantal guling dan meletakkannya di antara kami.

Sepuluh menit sebelum adzan Subuh berkumandang, aku terbangun karena suara alarm yang sengaja dipasang. 

Belum terbiasa bangun sepagi ini, jadi aku butuh bantuan alarm.
Guyuran air di tubuh tidak membuatku kedinginan. Segar rasanya. Selesai mandi, aku berwudhu dan berniat shalat Subuh. Beruntung dulu sempat mengenyam pendidikan di pesantren jenjang Tsanawiyah walau hanya enam bulan. Setelah itu pindah ke sekolah umum karena tidak tahan mondok. 

Aku jadi tahu tata cara shalat dan juga baca Al-qur'an. Selesai Shalat, aku ke dapur untuk masak. Melati datang.
"Aku senang lihat Abang shalat," sahutnya.
Aku cuma berdehem.

"Biar aku saja yang masak, Bang."
"Udah gak apa-apa aku saja. Kau duduk aja sana!"
"Abang baik-baik saja kan?"
"Tentu saja. Ini semua kulakukan demi anakku."

Selesai sudah masakannya. Ku hidangkan untuk Melati dan menuang segelas susu.
"Ayo makan!" seruku, "kau harus banyak makan buah dan sayur biar bayi dalam kandunganmu sehat. Jangan lupa minum susunya. Itu khusus untuk wanita hamil."
"Gak selera bang."
"Makan dikit aja ya. Sini aku suapin."

Aku menyuapi Melati. Tapi hanya 5 sendok. Dia tidak mau lagi.
"Kalau kau pengen sesuatu bilang aja biar aku belikan. Wanita hamil biasanya banyak maunya."
"Abang kok tau banyak soal wanita hamil?" tanyanya.
"Tadi malam aku gak bisa tidur. Jadi aku nyari-nyari info di internet. Oh ya..., kata Mama buk Yum udah di jalan mau kemari jadi kau jangan mengerjakan apa pun."

Aku berangkat ke kantor setelah buk Yum datang. Sampai di sana sudah ada Mira menunggu dan membawa sesuatu.
"Kau ngapain, Mir, pagi-pagi begini?" tanyaku.
"Aku bawakan sarapan untukmu," jawabnya sambil memperlihatkan bekal yang dibawanya.
"Aku sudah sarapan."
"Dimana?"
"Di rumah."

"Jadi kau masih di sana? Kenapa gak jadi pindah?" tanyanya.
"Hmmmm...."
"Dir..., jangan bilang kau gak jadi menceraikannya."
"Sepertinya begitu, Mir."
"Kenapa?"
"Aku gak bisa."
"Benarkan dugaanku kau mulai mencintainya?"
"Bukan begitu."
"Lalu apa?" suara Mira meninggi.

Aku tarik napas dalam-dalam lalu menjawab, "Melati hamil jadi aku gak bisa menceraikannya sekarang."
"Apa? Hamil?"
"Iya."

Mira kaget. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Air matanya langsung mengalir.
"Maafin aku, Mir."
Mira berlari meninggalkan ruanganku. Aku mengusap wajahku. 

Adam masuk.
"Serius, Dir..., Melati hamil?" tanyanya.
"Kau nguping ya?" tanyaku balik.
"Gak sengaja. Kok bisa Melati hamil? Kalian kan pisah ranjang dan sudah berjanji untuk tidak melakukan hubungan suami istri."
"Aku memperkosanya."
"Apa...? Memperkosa?" Adam tertawa lepas.
"Dia itu istrimu jadi yang kau lakukan itu sah bukan memperkosa," sambungnya lalu tertawa lagi.

Aku tersenyum menertawakan kebodohanku.
"Aku memaksa untuk melakukan itu."
"Dasar..., kau gak ada romantisnya. Main paksa aja. Dirayu dong!"
"Aku khilaf malam itu. Gak bisa menahan hasratku."
"Ya jelaslah. Melati cantik dan kalian tinggal bersama. Aku malah heran kok kau bisa bertahan selama ini. Dir, udahlah..., akui saja kalo kau mencintainya dan jalani kehidupan normal layaknya suami istri. Jangan kayak Tom dan Jerry."

"Aku nggak mencintainya."
"Munafik loe..., buktinya aja Melati hamil. Okelah selamat kalo gitu. Akhirnya sobatku yang satu ini akan jadi Ayah. Jangan lupa traktir aku merayakan keberhasilanmu. Salut aku..., cuma sekali langsung jadi. Benar-benar bibit unggul," cerocos Adam sambil tertawa.
*
Jam makan siang, aku pulang ke rumah ingin pastikan apakah Melati makan atau belum dan membawakan buah untuknya. Dia tertidur di kamar. Aku berdiri di sisinya sambil menatap wajahnya lekat-lekat. Kusentuh pipinya. Melati terbangun.

"Abang...," panggilnya.
Tumben tidak menjerit, bathinku.
"Kau kenapa?" tanyaku khawatir.
"Pusing..."
Kutarik kursi ke dekat Melati lalu kupijat lembut pelipisnya.
"Sudah makan?" tanyaku.
"Belum."
"Aku suapin ya...?"
"Gak usah. Biar aku makan sendiri nanti."

Kubelai rambut Melati. Perlahan aku menunduk mendekatkan wajahku ke wajahnya lalu kukecup keningnya. Tidak ada penolakan dari Melati, bibirku turun ke bawah, berhenti tepat di bibirnya dan... aku kecewa. Melati menoleh ke samping. Aku jadi malu segera saja kualihkan perhatian.

"A... aku ambilkan makan untukmu," kataku.
"Gak usah. Aku mau makan di dapur saja," sahutnya gugup.
*
Selesai makan siang, aku kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan yang ingin kuselesaikan. Pekerjaan selesai, langsung pulang. Aku melewati Restaurant Mira dan singgah di sana. Aku harus menjelaskan semuanya. Di dalam ruangannya, Mira bersama Dafa.

"Aku lega, melepas Mira ke tangan orang yang tepat," sahutku.
"Apa maksudmu, Dir...?" tanya Dafa.
"Bukankah kau mencintai Mira? Aku yakin kau bisa membahagiakannya. Sebentar lagi aku akan jadi ayah. Jadi aku harus bertanggung jawab pada keluargaku. Aku tidak bisa lagi menjaga Mira."

Aku mendekat ke arah Mira. Kuraih tangannya lalu berkata.
"Maafin aku, Mir. Aku gak bisa tepati janji. Aku yang salah atas semua yang terjadi. Cobalah buka pintu hatimu untuk pria yang dari dulu mencintaimu."

Kulepas tangannya lalu meninggalkan mereka. Mira mengejarku lalu memeluk dari belakang sambil menangis.

"Jangan seperti ini, Mir," kataku.
"Jangan tinggalkan aku, Dir! Aku mencintaimu."
"Kita tidak bisa bersama."
"Aku bersedia jadi istri keduamu jadi kau tidak perlu menceraikan Melati.
"Apa???" aku melepas pelukan Mira lalu berbalik menghadapnya.

Ternyata ada ya wanita seperti Mira, karena cintanya pada Dira, dia bersedia menjadi istri keduanya Dira, padahal dia wanita cantik juga dan mandiri sebagai pengusaha rumah makan. Sebegitu tampankan Dira? Nggantengan mana sama kita?
Sabar ya Kawan tunggu sampai besuk di nomot 16, apa jawaban si Tampan itu ditawari beristri dua oleh Mira si Pengusaha Cantik itu?

Karya Rohana Rambe, Bagian 16
Aku terkejut mendengar permintaan Mira. Jadi ingat dulu aku yang memintanya agar bersedia menikah tapi dia selalu menolak dengan alasan belum siap. 

Disaat aku sudah beristri, justru dia mendesak agar aku segera menikahinya bahkan rela jadi yang kedua. Satu hal kusadari, Mira adalah wanita yang egois.

"Kau tidak usah menceraikan Melati," Mira mengulang kata-katanya.
"Itu tidak mungkin," sahutku.
"Kenapa tidak mungkin."
"Aku tidak pernah berniat punya dua istri."

"Kalo anak Melati sudah lahir kau bisa menceraikannya. Aku bersedia merawat bayi itu dan berjanji akan memperlakukannya seperti anak sendiri."
"Maaf, Mir, aku tidak bisa."
"Kenapa ....?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya."
"Kenapa tidak bisa?" suara Mira meninggi, "beri aku alasan yang jelas supaya aku mengerti dan akan mencoba menerimanya."

Aku terdiam. Sulit rasanya berkata yang sebenarnya. Aku tidak mau menyakiti hati Mira.
"Kenapa diam? Apa kau mencintai Melati?" tanyanya, "jawab ,Dir!"
Mira menarik kerah bajuku.
"Ya..., aku mencintai Melati. Aku sangat mencintainya. Maafin aku."

Mira melepas pegangannya. Air matanya menganak sungai. Aku meninggalkannya sebelum rasa kasihanku muncul.

Sebelum pulang ke rumah, kusempatkan mampir di Toko bunga dan buah. Juga membeli sebuah boneka Teddy bear . Begitu sampai di rumah kumasukkan semua buah ke dalam kulkas dan masuk ke kamar menemui Melati.
Ku serahkan bunga dan boneka padanya.

"Apa ini?" tanyanya.
"Boneka dan bunga."
"Ya aku tau tapi untuk apa? Aku tidak sedang ulang tahun."
"Supaya kau senang dan itu baik untuk kesehatanmu dan bayi kita."

"Oh .... Makasih."
"Hanya itu?" tanyaku.
"Apa lagi?"
"Cium."
"Apa...?" Melati kaget.
Aku tersenyum.
"Tapi bang..., aku tidak suka boneka."
"Kenapa?"
"Gak suka aja. Lagian di sini tidak ada anak kecil jadi gak baik ada boneka di rumah ini."

"Hmmm..., ya sudah ntar aku kasih ma anak tetangga."
"Mel..., apa kau bahagia dengan kehamilanmu?" tanyaku serius.
"Sebagai wanita tentu aku bahagia karna sebentar lagi akan jadi ibu. Tapi ...."
"Tapi apa?"

"Bagaimana nanti nasib anak ini. Bukankah kita bertahan hanya karna kehamilanku. Berarti kalo dia sudah lahir,
kita akan bercerai."

"Aku tidak akan membiarkannya besar tanpa Ayah."
"Berarti Abang ingin pisahkan dia dari ibunya?"
"Nggak..., aku akan mempertahankan rumah tangga kita agar dia tidak kekurangan kasih sayang."
Kuraih tangan Melati.

"Mel..., apa kau mau jadi istriku?" tanyaku.
Melati diam sambil melihatku. Tiba-tiba dia tertawa. Aku jadi merasa seperti orang bodoh. 

Akhh .... Aku jadi
kesal. Sekuat tenaga aku memberanikan diri mengatakan itu malah ditertawakan.

"Emang lucu ya?" tanyaku.
"Kitakan emang suami istri jadi kenapa Abang bertanya apa aku mau jadi istriku. Ahahahaa .... Itu lucu sekali."
Melati tertawa lagi. Aku tambah kesal padanya.

"Kau jangan baper. Ini semua demi anakku. Kau bukan tipe wanita yang kusukai. Huhh..., " aku mendengus kesal
lalu meninggalkannya.

Pagi sebelum berangkat kerja, kutemani Melati ke dokter kandungan. Pemeriksaan pertama setelah
kehamilannya. Dia masuk ke ruangan. Aku menunggu di luar. Tidak berapa lama dokter memanggilku.

"Bagaimana kondisi janinnya, Dok," tanyaku.
"Ibu dan bayi sehat. Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Syukurlah, Dok."
"Ibunya tidak boleh stres. Bapak harus kasih perhatian lebih. Wanita hamil muda biasanya emosinya labil jadi
bapak harus banyak mengalah."

"Baik, Dok."
"Untuk hubungan intim tidak masalah. Cari posisi yang nyaman," sambung Dokter.
Aku dan Melati saling tatap. Wajah Melati jadi merah. Setelah Dokter selesai memberi penjelasan, kami pamit pulang.

"Mel..., aku gak sempat ngantarmu balik ke rumah," kataku setelah mobil meluncur di jalan.
"Ya udah aku naik taxi aja."
"Jangan. Kau ikut aja ke kantor."
"Malas ah..., ntar bikin bosan."
"Sebentar aja. Nanti jam istirahat baru aku antar pulang ke rumah."

Melati duduk di sofa dekat meja kerjaku. Dia asik dengan hapenya. Aku fokus pada pekerjaan. Sesekali melirik ke arahnya. 

Sepertinya Melati mulai bosan. Malah tertidur.
Aku mendekat. Melati sungguh cantik walau tanpa make up. Kubelai pipinya. Dia menggeliat. Tambah gemas melihatnya. Aku tak tahan untuk tidak menciumnya segera saja kukecup keningnya sebelum dia terbangun.

Getaran itu, tidak bisa dipungkiri lagi, Melati sudah mengambil separuh jiwaku. Tiap kali berdekatan dengannya, jantungku berdetak lebih cepat. Dia membuka mata dan kaget melihat jarak kami sangat dekat.
"Ab ...."

Belum sempat dia menyiapkan kata-katanya, aku sudah lebih dulu melumat bibirnya. Melati berontak tapi tenagaku jauh lebih kuat. Dia memberi perlawanan tapi aku tidak memberi celah untuknya melepaskan diri.
Melati jadi pasrah dengan apa yang kulakukan. 

Terdengar ketukan pintu. Akh..., sial. Segera saja kulepas pautan bibir kami.
"Masuk...," sahutku setelah napas mulai teratur.

Tika masuk dan memberikan dokumen yang akan kutanda tangani. Dia tersenyum curiga melihat Melati merapikan jilbabnya. Aku cuek saja. Toh..., Melati istriku jadi tidak ada yang salah dengan apa yang kami lakukan.
Dia keluar setelah semua selesai.

"Kita makan di luar aja ya, Mel!" ajakku.
"Aku mau pulang aja," sahutnya.
"Kenapa?"
"Aku gak selera makan apa pun."
"Jadi seleranya apa? Atau seleranya seperti tadi ya?" tanyaku sambil tersenyum menggoda.

"Apaan sih?" tanya Melati sambil matanya melotot ke arahku.
"Kalo mau dilanjut di rumah dengan senang hati."
"Dasar genit."
"Kalo aku gak genit kan gak mungkin kau bisa hamil. Aku kan gak salah. Kau istriku."

"Salah."
"Dimana letak kesalahannya?"
"Seenaknya maksa-maksa. Udah ahh...."

Dia meninggalkanku. Aku yakin Melati malu. Terlihat dari rona wajahnya yang berubah. Aku senang Melati tidak marah setelah apa yang aku lakukan tadi.

Mira menelpon ketika aku dan Melati sudah balik lagi ke kantor. Ragu untuk mengangkatnya tapi hapeku terus berdering. Ku angkat.
"Halo, Mir."
"Kau lagi dimana?" tanyanya.
"Di kantor."
"Datang ya nanti malam ke rumahku."

"Aku gak bisa ninggalin Melati sendiri di rumah."
"Ajak dia."
"Emangnya ada apa?"
"Pertunanganku dengan Dafa."
"Apa?" tanyaku tidak percaya, "kau serius, Mir?"
"Tentu saja."
"Tapi kok mendadak?"
"Bukankah pernikahan kalian juga mendadak dan kalian bisa saling mencintai. Kenapa aku tidak?"
"Posisiku saat itu denganmu berbeda, Mir. Pernikahan itu bukan main-main. Pikirkan lagi!"

"Aku ingin secepatnya bisa melupakanmu dengan cara ini."
"Tapi ...."
"Tenanglah. Aku akan baik-baik saja. Jangan mikir macam-macam. Ini hidupku jadi terserah aku. Kita kan sudah punya kehidupan masing-masing."
"Baiklah, semoga kau bahagia. Dafa pria yang baik."
Lega akhirnya Mira menerima Dafa.

Mira mau tunangan sama Dafa. Tapi kok sepertinya Dira tidak rela ya, apa dia muanya dua-duanya seperti tawaran Mira kemarin?... Dasar Kucing! Sudah dikasih ikan asin, tempenya mau juga! ...
Tunnggu ya sampai besuk pada nomor 17, apa bener Dira tidak ridho Mira diambil Dafa?... Terus piyé donk?

Bagian 17
Melati fokus pada layar 42 inci di depannya sampai tak sadar aku sudah duduk di sampingnya. Aku terus memperhatikannya dari samping. Lama-kelamaan dia menyadari bahwa wajahnya jadi sasaran mataku.

"Ngapain lihat-lihat?" tanyanya.
Matanya tidak beralih dari apa yang ia lihat
"Cantik," gumamku.
"Dari dulu aku emang cantik."
"Geer. Aku bilang cantik sama pembawa acaranya," aku menunjuk ke arah TV, "Mira mengundang kita ke rumahnya," sambungku.

"Kita ...? Abang aja yang pergi sendiri. Nanti aku malah mengganggu."
"Cemburu ya?" tanyaku sambil tersenyum.
"Masa bodoh."
"Malam ini dia bertunangan dengan Dafa. Ganti baju! Biar kita ke sana."

Aku langsung meninggalkan Melati agar tidak mendengar penolakannya. Ternyata dia menyusulku ke kamar.
"Kenapa pakaianku tidak ada di kamarku?" tanya Melati.
"Pakaianmu di situ."
Aku menunjuk lemari besar di dekat lemari hias.

"Kenapa ada di sini?" tanyanya lagi.
"Aku pindahin ke sini supaya kau tidak bolak-balik ke kamar itu kalo mau ganti pakaian."
"Ya sudah, Abang keluar dulu! Aku mau ganti pakaian."
"Kenapa harus keluar. Ya ganti aja sini."
Melati menatap ke arahku.
"Kitakan suami istri," sambungku sambil tersenyum menggoda.

"Apaan sih? Abang genit."
Aku mendekati Melati. Dan berdiri persis di belakangnya.
"Sini aku bukain," aku menyentuh belakang Melati.
Dia berbalik ingin menepis tanganku tapi justru menubruk hingga dia jatuh ke dalam dekapanku. 

Sesaat kami saling pandang. Aku tergoda lagi. Dalam hitungan detik aku sudah berhasil menciumnya. Seperti biasa, dia berontak tapi aku tidak membiarkannya lepas.
"Au ...." Melati merintih kesakitan sambil memegang perutnya setelah pagutanku lepas.
"Kenapa, Mel?" tanyaku panik.

Segera saja kulepas dekapanku. Kutuntun Melati duduk di tepi tempat tidur. Aku jadi cemas
"Tolong ambilkan bajuku, Bang!" pintanya.
Segera saja aku membuka lemari.
"Yang warnah coklat muda itu!" serunya.

Kuambil sebuah gamis berwarna coklat muda sesuai intruksi lalu menyerahkannya.
"Kalo perutmu sakit lebih baik kita gak jadi pergi,"
"Aku gak apa-apa kok. Aku hanya pura-pura biar lepas dari Abang," Melati setengah berlari menjauh sambil tertawa.

Aku sedikit kesal tapi senang juga Melati tidak pernah marah lagi jika aku menciumnya walau dia menolak. Mungkin aku yang kurang usaha.
*
Suasa di rumah Mira tidak terlalu ramai. Acaranya pertunangannya sederhana yang hanya dihadiri keluarga dan teman dekat saja.

"Selamat ya, Mir. Semoga lancar sampai pada pernikahan," aku menyalami Mira.
"Terima kasih sudah hadir," balasnya.
"Selamat ya Pak Dokter," ucap Melati.

Rasa haus menyerang. Aku meninggalkan mereka untuk mengambil minum. Malah bertemu Adam dan ngobrol sebentar. Lalu kembali menemui Melati. Tapi aku tidak melihat Mira dan Dafa di sana. Deg ... Ada Ridho. Dia tersenyum menatap Melati. 

Panas menjalar di kepalaku. Aku terbakar cemburu. Tanpa permisi kutarik Melati menjauh.
"Ngapain kau ngobrol dengan Ridho?" tanyaku kesal.
"Kebetulan saja bertemu."
"Bohong .... Kau terlihat bahagia bicara dengannya. Jangan-jangan kalian janjian ya ketemu di sini?"
"Aku bahkan gak tau dia hadir di sini."

Ridho mendekat. Dia menatap aku dan Melati secara bergantian.
"Kalian baik-baik sajakan?" tanyanya.
"Baik-baik apanya?" tanyaku kesal, "Berhentilah menggoda wanita yang sudah bersuami."

"Dir, kau salah paham. Aku dan Melati hanya ...."
Belum sempat Ridho melanjutkan kata-katanya, tinjuanku sudah mendarat tepat di pipinya sebelah kanan.

"Abang .... Hentikan!" Jerit Melati sambil menarikku.
"Kenapa? Kau tak senang aku sudah memukul kekasihmu?" tanyaku dengan nada tinggi.

Melati menatapku. Ada kebencian di sana. Lalu dia berlari. Aku khawatir dan segera mengejarnya.
"Kau mau kemana, Mel?" tanyaku.
"Aku mau pulang."
"Ya sudah. Ayo kita pulang."
"Aku mau pulang ke rumah Mama."
"Nanti Mama khawatir."
"Aku gak peduli."
"Kita pulang saja ke rumah ya!" ajakku.
"Kalo Abang gak mau biar aku naik taxi."

Kutarik Melati menuju parkiran. Lalu memaksanya masuk. Mobil meluncur kencang di jalan. Sampai di rumah, Melati langsung menuju kamar. Aku menyusulnya.

"Kau tak senang ya karna aku sudah memukul Ridho?" tanyaku sinis.
"Aku malu lihat Abang buat keributan. Untung tadi gak ada orang yang lihat."
"Mulai sekarang kau tak boleh menemui Ridho."
"Siapa yang menemuinya? Kami hanya kebetulan bertemu."
"Tapi kau terlihat bahagia bertemu denganya terlihat dari cara kau memandangnya."
"Abang jangan ngacau."

Melati meraih baju yang terletak di atas tempat tidur. Dia ingin ganti pakaian. Tapi kucegat.
"Melati .... Aku serius. Jangan pernah temui lagi Ridho," suaraku meninggi.
Dia menatap membuat aku tambah kesal.
"Abang cemburu ya?" tanyanya.
"Ya aku cemburu," suara membentak, "jangan sampai aku berbuat nekat padanya."
"Ta ...."

Aku mendekat dengan tatapan penuh amarah. Emosiku benar-benar naik melihat Melati tadi tersenyum di depan Ridho. Aku tidak percaya jika mereka secara kebetulan bertemu. 

Melati terlihat ketakutan. Dia mundur. Aku terus mendekat sampai tubuhnya membentur tembok dan terjebak. Aku terus mendekat.
"Kau ngerti? Jangan pernah temui dia lagi."

Melati hanya mengangguk ketakutan. Aku makin merapat dan tidak ada jarak lagi. Aku berniat mencium tapi Melati menoleh kesamping menghindari. Aku kecewa. Kutarik tubuhnya ke tempat tidur dan menghujaninya ciuman dengan paksa.

"Bang ...," suara Melati lirih.
"Kenapa? Kau menolakku?" sorot mataku tajam. Melati kian ketakutan.
Kali ini aku berhasil. Tidak ada penolak darinya. Aku tahu saat ini dia ketakutan sehingga tidak berani berontak. Napasku sudah tidak beraturan lagi.

"Bang ...."
"Kenapa? Kau menolak lagi?"
Melati menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kupahami. Aku jadi menyesal telah berbuat kasar padanya.

"Kenapa? Mau sampai kapan aku harus menunggu?" sambungku.
"Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Baca doa dulu."
"Apa?"

Aku kaget. Tapi langsung tersenyum. Melati menunduk. Masih terlihat raut ketakutan di wajahnya bercampur dengan malu. Sekali lagi aku berhasil menjalankan ibadah dalam selimut bersama istriku.

Melati menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Aku ingin membuka bagian yang menutupi wajahnya tapi Melati menepis tanganku.

"Mel ..." panggilku.
"Hmmmm."
"Maafin aku ya karna sudah memaksa dan membuatmu ketakutan."
"Iya."
"Mel ...."
"Ya."

Aku sedikit kesal dengan ulah Melati. Kutarik selimut yang menutupi wajahnya. Melati berbalik membelakangiku.
Kubalikkan tubuhnya agar menghadap ke arahku. Dia malah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Mel,"
"Iya."

Kutarik lagi kedua tangannya, Melati langsung memejamkan matanya. Rona pipinya memerah. Cantik sekali.
Aku tersenyum lega. Sempat tadi berpikiran Melati sedang marah tapi tidak. Dia hanya malu.
"Aku cium ya kalo matanya tak dibuka," kata-kata spontan membuat Melati buka mata.
"Apa sih dari tadi gak melihat aku?" tanyaku.
"Malu, Bang."

Dia balik lagi menutupi wajahnya dengan selimut. Kupeluk tubuhnya, Melati langsung berdiri ingin menjauh tapi dia tersadar kalau belum memakai baju. Dia kembali berbaring dan menutupi tubuhnya. Aku tertawa melihat tingkah Melati.
"Mel ... aku ingin ngomong serius."
"Soal apa?"
"Soal hubungan kita."
"Emangnya kenapa kita?"
"Maukah kau jadi istriku?"

Melati menatap lalu tersenyum.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku kan emang istri Abang."
"Aku ingin kita jadi suami istri yang seutuhnya. Bukan seperti yang selama ini."

Aku pasang wajah serius. Melati menatap dengan tatapan yang tak dapat aku mengerti.
"Dengan satu syarat," sahutnya.
"Apa itu?"
"Abang harus berubah."
"Baiklah aku akan berubah. Aku janji. Tapi ...."
"Tapi apa?"

Melati menatapku sambil menunggu aku menyelesaikan kata-kata yang ingin kuucapkan.
"Tapi ... tapi aku gak tau mau berubah jadi apa."

Aku tertawa. Melati memukul dadaku dengan bantal dengan wajah cemberut.
"I am sorry my wife. Baiklah kali ini serius. Aku janji akan berubah agar menjadi suami yang lebih baik lagi. Aku
tidak akan meninggalkan shalat seperti yang selama ini. Aku berjanji lebih mendekatkan diri pada Alloh."

Melati tersenyum. Kembali kami saling menatap.
"Semua demi anak kita," sambungku.
"Hanya itu?"
"Demi cintaku padamu."
"Apa?"
Melati kaget mendengar ucapanku.
"Mel, aku mencintaimu. Aku janji akan berubah demi dirimu."
"Nggak boleh, Bang."
"Kenapa?"

Kali ini gantian aku menunggu Melati menyiapkan kata-kata darinya.
"Abang tidak boleh berubah demi aku tapi harus karna Alloh. Mari kita bangun rumah tangga kita agar menjadi keluarga yang sakinah semua karna Alloh agar menjadi ladang amal buat kita."

Kutatap Melati lekat-lekat dan menyentuh pipinya, betapa cantiknya istriku. Lalu mendaratkan ciuman di keningnya. Kuraih tubuh wanita yang sangat kucintai itu ke dalam pelukanku. Rasa hangat menjalar di tubuh kami.

"Baiklah, Sayang. Mari kita sama-sama belajar dan saling mengingatkan agar kita meraih cinta Alloh."

Melati mengangguk. Kurapatkan pelukanku. Aku bersyukur atas kehadiran Ridho tadi. Karena rasa cemburu, aku jadi memiliki keberanian untuk mengungkapkan rasa cintaku.

"Aku mencintaimu, Sayang," bisikku di telinganya.
Dia tidak menjawab hanya mempererat pelukannya. Indahnya malam ini. Kenapa baru sekarang aku menyadari betapa Melati sangat berharga bagiku, wanita cantik sholekhah 

Kepeluk bia, bisa kurasakan napas kami yang kian tak beraturan. Selanjutnya kali ini kupastikan kami tidak akan lupa membaca doa sebelumnya....
"Bismillah allahumma jannibnas syaithaan wa jannibis syaithaana maa razaqtanaa"
("Dengan nama Allah, ya Allah; jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami)" (HR. Bukhari)

TUTUP LAYAR TANCEP KAYON, CERITA CUNTHEL ALIAS TAMAT... Happy Ending!
_________

Saudaraku, jangan hanya canda tawa dan romannya yang diingat. Tapi cari dan ingat hikmah pelajaran yang bisa dipetik dari Cerbung ini, yang bisa diteladani, diaantaeanya :
Ternyata taat dan menjaga nama baik orang tua itu akan beakhir baik. Pilihlah istri yang sholehah atau jadilah istri sholehah, dia akan menuntun kita dan keluarga menjadi orang sholeh juga, dan in syaa Allah akan terbina keluarga yang SAMAWA, aamiin. INGAT :
"Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan  sebaik baik perhiasan dunia adalah wanita salihah"
(HR. Muslim) 

WASALLAM, sampai ketemu lagi di lain Cerita. MOHON MAAF kalau kurang berkenan


Cerita Bersambung Romantis 
Selingan Dan Hiburan Untuk Sahabat

PERNIKAHAN MELATI DIRA 
Karya Rohana Rambe

Hak cipta dimiliki oleh author masing-masing. www.kompetensimedia.com hanya membantu membudayakan gemar membaca. Menciptakan kemampuan kompetensi literasi.