Neuschwanstein and Linderhof Castle

Translate this page:

Pernikahan Melati Dira

dii-ferry

         Cerita Bersambung Romantis 
Selingan Dan Hiburan Untuk Sahabat

        PERNIKAHAN MELATI DIRA 
               Karya Rohana Rambe

Bagian (01)

Aku gemetar menghadapi semua ini. Jantungku berdetak sangat... sangat kencang.

"Kenapa harus Dira sih Ma yang gantikan pengantin prianya," bisikku pada Mama, "kan masih banyak yang lain."
"Sudahlah Dir. Kamu gak akan rugi menikah dengan Melati. Dia gadis yang baik. Kasihan Om Sholeh. Undangan sudah pada datang. Bayangin gimana malunya mereka kalau sempat pestanya gak jadi. Penghulunya sudah nunggu dari tadi. Ayo pakai jasmu!" 

Ibu meyakinkan ku untuk menggantikan pengantin pria yang tidak jadi datang karena kecelakaan dalam perjalanan ke mari.
Aku merasa seperti tidak menapak bumi. Sebagian undangan tercengang kok pengantinnya ganti. 

Mendadak kakiku seperti sulit digerakkan. Lemas. Jantungku terlalu cepat berpacu. Keringat mulai membanjiri tubuhku.

"Ayo maju Dir!" desak Mama.
Aku maju juga memasuki ruangan. Duduk di tempat yang telah disiapkan.
"Gimana? Kamu sudah siap?" tanya penghulu.

Aku tidak bisa menjawab. Lidah keluh. Mama menyenggol lenganku mengisyaratkan agar aku menjawab pertanyaan yang diajukan penghulu. Ingin rasanya aku kabur. Berlari sekencang mungkin. 
Kulirik mempelai wanita. Matanya berkaca-kaca dan berusaha menahan tangisnya. Aku jadi kasihan.

"Bagaimana? Sudah siap?" Penghulu bertanya sekali lagi.
Dengan ragu aku menjawab, "Saya siap pak."
"Anda sudah siap?" tanya penghulu pada pengantin wanita yang agak jauh dariku.
"Siap pak," sahutnya. Suaranya begitu berat.

"Saya terima nikahnya Aisyah Melati binti Sholeh dengan mahar lima gram emas dan seperangkat alat shalat dibayar tunai."
"Gimana saksi?"
"Sahhh...."

Aku sepertinya mau pingsan tapi gak bisa. ALLAHU AKBAR! pekik sebagian undangan kaget mengetahui apa yang terjadi.

Setelah akad nikah dilanjutkan dengan resepsi. Banyak tamu bertanya heran kenapa pengantin prianya berganti. 

Aku sendiri tidak percaya dengan apa yang kualami sekarang. Andai waktu bisa diulang, aku tidak akan menghadiri pernikahan putri teman Papa itu. Bagaimana aku menjelaskan semua ini pada Mira, wanita yang sudah kupacari lebih dari setahun. Aku mencintainya.

Acara yang melelahkan itu pun selesai. Kami membawa Melati dengan berurai air mata. Om Sholeh dan istrinya tidak dapat menahan tangis melepas kepergian Melati.

"Terima kasih Feri atas bantuannya. Bagaimana aku membalas jasamu?" kata Om Sholeh sambil memeluk Papa.
"Sudahlah. Tidak usah berterima kasih seperti itu. Aku senang bisa membantumu," jawab Papa.
"Aku tidak bisa bayangkan bagaimana malunya kami jika putramu tidak menggantikan pengantin prianya."

*
Kamarku berantakan sekali. Aku memberesinya. Lalu mempersilahkan istriku masuk. Dia duduk di tepi ranjang. Aku duduk di sofa. Dia menangis. Aku terdiam tidak tau mau berbuat apa. Lama-lama aku kesal lihat dia menangis terus. Dia pikir aku juga senang dengan pernikahan dadakan ini. Aku juga korban. Aku tak tahan lagi.

"Hei..., siapa namamu? Hentikan tangisanmu! Bising tau...."
Bukannya diam malah tangisannya tambah kencang. Aku paling tidak bisa melihat wanita menangis. Kasihan bercampur kesal. Dia melihat ke arahku. Tatapannya itu. Akhh..., membuat emosiku melemah. Lalu aku duduk di dekatnya.

"Udah dong. Jangan nangis terus."
"Maafin aku bang."
"Udahlah. Gak perlu minta maaf gitu."
"Abang boleh ceraikan aku besok. Terima kasih sudah mau menyelamatkan nama baik Papaku."
Aku menarik napas dalam-dalam.

"Kita tidak mungkin bercerai besok. Apa kata orang-orang nanti. Lagian udah jelas orangtua kita tidak setuju."
"Jadi bagaimana bang?"
"Kita jalani aja selama beberapa bulan. Lepas tu baru kita bercerai."
"Tapi...."
"Tenang aja. Aku tidak akan menyentuhmu. Aku juga punya pacar. Sebenarnya kami akan segera menikah."

"Maafin aku bang."
"Ya sudahlah. Gak usah dibahas. Oh ya siapa nama kamu?"
"A'isyah Melati bang."

WUUIIIH!, kok ada ya  pengantin Cowok  diganti? dan kok pada mau ya? Cantik nggak ya Ceweknya? Tapi yang pasti perempuan tho@... masak banci jadi pengantin!
Terus bagaimana malam pengantinnya? Tunggu saja sambungannya besuk di nomor 02 ya Sobat


Bagian (02)

Hari ini aku dan Melati pergi ke KUA untuk mengambil buku nikah. Karena pernikahan kami mendadak dan tidak ada persiapan dariku, penghulu tidak bisa mengeluarkan buku nikah kami pada saat pernikahan.

Sepanjang perjalanan aku dan Melati diam saja. Kami langsung menemui pak Toha begitu sampai. Dia pun menyerahkan buku nikah itu.

"Pak bolehkah pasangan yang baru menikah bercerai?" tanya Melati.
Pertanyaan Melati membuat aku dan pak Toha terkejut.
"Kenapa kalian ingin bercerai?" pak Toha balik bertanya.

"Pernikahan ini bukan keinginan kami pak. Seperti yang bapak ketahui dari awal bukan bang Dira calon suami saya."

"Hmmm..., begini Melati, tidak semua keinginan kita itu baik untuk kita. Saya sangat terkejut ketika Orang tuamu membisikkan ke telinga saya calon mempelai pria kecelakaan. Saya katakan baik kita tunggu dulu kabar apakah pria tersebut masih hidup. Lalu Kakak kandungnya menelpon yang mengatakan calon suamimu sudah meninggal."

Pak Toha berhenti sejenak. Lalu melanjutkan kata-katanya.
"Orangtuamu panik. Yang hadir pada saat itu belum ada yang tau kecuali Ayahnya nak Dira. Lalu dia berbisik pada saya. Dia tanyakan bagaimana kalau Dira saja yang menggantikan mempelai pria agar tidak kacau. Saya katakan apakah anak bapak setuju. Dia bilang setuju. Saya masih ragu."

"Lalu Ayah nak Dira dan nak Melati berkata dari awal sebenarnya mereka berniat menjodohkan kalian. Tapi sebelum niat itu terlaksana, seorang pria baik datang melamar nak Melati. Jadi Ayahmu menyetujui lamaran itu dan batallah perjodohan kalian. Dan tidak disangka-sangka calon nak Melati meninggal pada saat ijab kabul akan dilaksanakan. Jadi ini semua skenario Alloh. Dia sudah atur semua. Kalian emang berjodoh dengan jalan seperti ini."

"Tapi pak, kami tidak bisa menjalaninya," sambung Melati. Aku diam saja. Malas berkomentar.
"Kenapa tidak bisa?"
"Sebelumnya kami tidak saling kenal."

"Kan bisa kenalan setelah menikah. Ayah kalian berteman baik. Perceraian itu halal tapi dibenci Alloh. Apalagi kalian ingin bercerai tanpa alasan yang bisa diterima. Kenapa tidak kalian jalani saja sebagai pasangan suami istri? Cobalah menerima takdir yang Alloh berikan. Yakinlah Alloh selalu memberi apa yang terbaik untuk kalian."

Melati terdiam. Aku mulai bosan.
"Ya sudah kami permisi dulu pak," aku menyela.
"Baiklah. Perbanyak shalat malam. Minta petunjuk dari Alloh," sambung pak Toha.
"Iya pak. Terima kasih sebelumnya," sahut Melati.

Kami keluar. Langsung menuju parkiran. Dan mobil yang kubawa meluncur.
"Hei Melati..., aku kan sudah bilang, kita tidak bisa bercerai sekarang. Bukan karna aku suka padamu. Tapi coba pikirkan kembali orangtua kita. Mereka pasti kecewa jika kita bercerai sekarang," kataku sambil mengemudi.

"Aku tidak siap jadi istri abang."
"Aku juga tidak siap tuk jadi suamimu. Kenapa kamu egois sekali. Kamu pikir aku senang dengan semua ini?  Aku juga punya pacar yang kucintai. Aku sampai gak berani angkat telpon dia. Aku gak bisa bayangkan bagaimana sedihnya dia jika tau aku sudah menikah."

"Jadi bagaimana?"
"Ya kita jalani aja dulu. Aku tidak mau buat Orangtuaku bersedih dengan perceraian kita. Dan kita juga tidak punya alasan kan untuk bercerai? Asal kau tau aku sudah janji besok akan melamar Mira, pacarku."
"Aku sudah jadi penghalang kebahagiaan abang."
"Makanya setidaknya kau jangan buat Orangtuaku bersedih. Kenapa kau tidak menghargai pengorbananku?"

Melati terdiam. Matanya berkaca-kaca. Aku benci ini. Aku paling tidak bisa melihat wanita menangis.
"Kita jalani aja dulu sampai 6 bulan. Bagaimana?"
"Baiklah bang. Tapi...."
"Aku tidak akan menyentuhmu." Aku memotong ucapan Melati. Aku tau arah pembicaraannya. 
"Satu lagi, aku tidak bisa meninggalkan Mira. Jadi aku tetap akan menemuinya."

"Itu tidak masalah bang."
"Bagaimana kalo kita pindah rumah saja?"
"Kenapa harus pindah rumah?"
"Emangnya kau mau tidur satu ranjang denganku? Kalo kita lain rumah dengan Papa dan Mama, kan bisa lain kamar."
"Iya juga. Aku tak jamin pria bisa menahan napsunya jika tidur berduaan dengan wanita. Apalagi kau cantik begitu"
"Kau....."

Aku kesal dengan ucapan Melati. Emang kuakui dia cantik. Tapi aku bukan type lelaki yang mau tidur dengan wanita yang tidak kucintai. Emang dia pikir aku lelaki murahan?

*

"Apa...? Bulan madu?" aku dan Melati serentak bertanya ketika Mama menyuruh kami berbulan madu ke Bali.
"Loh..., kenapa? Kalian kan sudah menikah jadi supaya hubungan kalian semakin dekat, kalian harus berbulan madu. Mama sudah siapkan semua," jawab Mama.

"Tapi Ma...?" aku protes.
"Gak ada tapi-tapian."
"Kapan Ma?" tanyaku kembali.
"Besok."
"Ya udah. Terserah Mama saja. Oh ya Ma, Dira dan Melati ingin pindah rumah."
"Kenapa?"

"Ya... supaya... supaya kami bisa berduaan terus. Iya kan Mel?" aku melirik ke arah Melati. Berharap dia juga meyakinkan Mama dengan keputusan kami.
"I... i... iya Ma," jawabnya gugup. "Kami kan butuh pendekatan Ma supaya kami saling mengenal lebih dalam."

"Biarkan saja Ma supaya mereka lebih leluasa saling mengenal," Papa menyela. Dia setuju dengan keputusan kami.

*

Aku dan Melati berangkat ke Bali untuk berbulan madu. Walaupun aku tidak menginginkannya. Kami menginap di Hotel Candi Beach Resort and Spa di kamar Ocean View Suite. Dari balkon bisa melihat pemandangan laut Bali yang jernih. Romantis sekali untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Tapi tidak menurutku. Semua ini Mama yang atur. Kalau saja aku bulan madunya denga Mira pasti sangat menyenangkan.

"Apa sebelumnya kau sudah pernah ke Bali?" tanyaku pada Melati ketika sudah sampai di kamar.
"Belum bang. Aku tidak pernah pergi kemana-mana."
"Oh ya?"
"Iya. Tempat tidurnya cuma satu. Gimana dong?"
"Ya udah. Kita tidur di situ."
"Berdua?"
"Ya iyalah. Kita kan suami istri."
"Tapi...."

Wajah Melati berubah. Terlihat tidak senang. Aku tersenyum melihatnya.
"Aku hanya becanda. Kau tidur saja di tempat tidur itu biar aku tidur di sofa," jawabku.
"Aku aja yang tidur di sofa. Abang tidur di tempat tidur."
"Lelaki jadi harus ngalah sama perempuan."

Aku keluar meninggalkan Melati. Aku berniat ingin menemui temanku di sini. Aku kembali masuk ke dalam kamar ingin ganti baju lalu pergi.

Aku melihat Melati menangis. Aku kasihan padanya. Jadi tidak tega meninggalkannya sendiri di dalam kamar.
"Jalan-jalan yuk!" ajakku.
"Kemana?" tanya Melati sambil menyeka air matanya.
"Kemana aja yang penting menyenangkan. Masak kau udah jauh-jauh datang ke Bali cuma bengong aja di kamar. Yang ada kau nanti malah tambah sedih. Ntar bunuh diri pula. Aku yang repot."

Melati kesal mendengar ucapanku. Tapi dia tetap mengikut kemana aku pergi. Kami jalan-jalan ke pantai. Lalu duduk di sebuah bangku.

"Kenapa kau menangis tadi?" tanyaku.
"Aku teringat Ridho, calon suamiku. Dia berjanji kalo kami sudah menikah bulan madunya ke Bali. Tapi...."

Melati terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Dan mewek lagi dah. Kenapa sih dia gampang kali nangis? Aku menghapus-hapus pundak Melati. Dan menyandarkan kepalanya di pundakku.

Selama di Bali, Mira terus menelpon tapi tidak ku angkat. Aku bingung mau jawab apa jika dia menanyakan aku ada dimana.

Pulang dari Bali, aku dan Melati langsung menempati rumah baru. Kami tidur di kamar yang berbeda.
Aku bangun tidur pukul 06.00 dan langsung mandi. Selesai mandi dan berpakaian, aku menuju dapur. Kulihat Melati duduk termenung di meja makan. Kulihat makanan sudah terhidang.

"Cepat sekali kau bangun," kataku padanya.
"Aku udah terbiasa bangun cepat. Tadi aku ingin bangunkan abang tapi gak jadi."
"Kenapa?"
"Hmmmm.... Abang mau makan?"
"Aku udah terlambat nih, gak sempat."
"Oh...."
"Aku pergi."
Sepeninggalku, Melati sarapan sendiri. Setelah itu dia membersihkan rumah.

Sampai di kantor, aku menelpon Mira tapi tidak di angkat. Lalu kucoba lagi dan lagi tapi tidak pernah diangkat. Perasaan jadi tidak enak. Jadi tidak konsentrasi bekerja. Aku menemui sekretarisku.

"Rani..., saya mau keluar," kataku.
"Tapi bapak ada meeting hari ini," sahut Rani.
"Batalin aja. Aku lagi ada urusan"

Aku langsung menuju Restaurant Mira. Sampai di sana, aku langsung menuju ruangannya.
"Hai sayang..., sapaku pada Mira. Aku ingin memeluknya tapi dia menghindar.
"Jangan sentuh aku," balas Mira dengan tatapan penuh amarah.
"Kamu kenapa sayang?" tanyaku heran.
"Kok malah nanya kenapa."

Jangan-jangan Mira sudah tau aku menikah. Tapi darimana dia tau. Tidak ada yang tau kalau aku sudah menikah.
"Sayang, tenang dulu ya. Kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Keluar sebelum aku menyuruh scurity menyeretmu dari sini."
"Oke aku keluar. Besok aku datang lagi buat jelasin semua."
Aku meninggalkan Mira dan segera pulang ke rumah.

Sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan berbaring di atas ranjang.
"Pasti Mira sudah tau kalau aku menikah," aku bicara sendiri. 

Aku mandi. Selesai mandi, perutku terasa lapar. Aku segera menuju meja makan. Tidak ada makanan di sana. Aku menemui Melati yang sedang menonton.

"Kau gak masak?" tanyaku.
"Nggak. Emangnya abang belum makan ya?"
"Belum."
"Tapi makanan tadi pagi masih ada. Gimana kalo abang makan itu saja?"
"Apa? Yang benar aja dong."
"Aku kira abang pulang sore makanya aku gak masak. Kan gak apa-apa abang makan makanan tadi pagi. Masih bagus kok. Sebentar ya aku ambilkan."

Melati menuju dapur. Aku mengikutinya. Lalu aku duduk. Melati menghidangkan makanan di meja. Nasi goreng.

"Nah..., silahkan makan bang," Melati mempersilahkan.
Aku tidak selera tapi karena perutku sudah lapar, terpaksa kumakan juga. Aku menyuap satu sendok dan..., aku membuangnya dari mulutku.

"Makanan apa sich ini?" tanyaku.
"Masak abang gak tau ini nasi goreng," jawab Melati.
"Aku tau ini nasi goreng tapi rasanya aneh. Lagian mana ada orang makan siang pakai nasi goreng."
"Ya apa salahnya."

"Sebenarnya kau pandai masak atau nggak?" aku kesal melihatnya.
"Ya pandai. Baru belajar kemarin."
"Apa? Kemarin? Pantas rasanya aneh."
"Jujur sebenarnya aku gak pernah masak."
"Jadi kenapa kau bilang pandai masak waktu Mama tanya?"
"Kalau aku bilang gak pandai, Mama gak akan ngijinin kita pindah rumah."

"Dasar.... Aku kira wanita berpenampilan seperti kau tau segalanya."
"Emangnya harus, orang pandai berhijab? Aku berhijab karena ini perintah dari Alloh. Pandai atau tidak memasak tetap wajib pakai hijab. Tidak ada hubungannya antara hijab dengan masak. Hanya karna aku tak pandai masak, abang jadi mempersoalkan penampilanku," Melati marah.

Dia berlari sambil masuk ke kamarnya. Nangis lagi dia. Aku salah bicara lagi. Padahal tadi bukan itu maksutku. Aku jadi merasa bersalah walaupun sebenarnya kesal.

Ooo Melati yang cantik ternyata sholekhah, Dia pakai jilbab... Tapi sayang ya cantik-cantik tapi nggak bisa masak! Ya sudah besuk kursus masak dulu atau bayar pembantu.
Tunggu ya Kawan sambungannya besuk  di nomor 03... Masih tidak disentuhkah itu si Cantik Melati?

Bagian 03

Sampai malam hari, Melati tidak keluar dari kamar. Sebentar-sebentar Aku menatap ke arah pintu kamarnya berharap dia keluar dari sana. Aku tidak tahan lagi. Segera saja kuketuk pintu kamar itu.

"Melati..., kamu ngapain? Masih marah ya?" tanyaku dari luar.
"Udah tau nanya," jawabnya.
"Iya deh. Aku minta maaf. Lagian kau sich gak mau jujur. Kalo emang gak pandai masak bilang aja. Aku kan bisa ngajari kamu."

Kepala Melati nongol dari balik pintu.
"Emang abang pandai masak?" tanyanya.
"Ya pandai. Aku kan dah biasa hidup mandiri. Bagaimana kalau kita makan malam di luar?"
"Hmmmm..., gimana ya?"

"Sebagai permintaan maafku."
"Boleh. Kalo gitu aku ganti pakaian dulu."
"Jangan lama! Aku tunggu di bawah."

Restaurant yang kami kunjungi lumayan ramai.
"Apa pacar abang sudah tau soal pernikahan kita?" tanya Melati.
"Sepertinya sudah. Bukan aku yang ngasih tau. Mungkin Mama."
"Dia marah?"
"Iya. Dia gak mau bertemu denganku."
"Gimana kalo aku yang jelaskan semuanya?"
"Gak usah. Ini urusanku. Biar aku yang nyelesaikan sendiri."

"Tapi kan semua gara-gara aku."
"Ntar juga baikan lagi kalo dia sudah tau semua."
"Gimana kalo dia gak percaya sama abang terus nyari pacar baru?"
Aku jadi kesal lihat Melati nyerocos aja dari tadi.

"Kalo kau merasa bersalah lebih baik kau diam aja. Gak usah ikut campur. Itu udah cukup."
"Ya sudah kalo gak mau dibantu. Gitu aja marah."
Akh..., dia benar-benar menyebalkan. Mimpi apa aku bisa menikah dengan wanita seperti dia.

Aku terkejut melihat kedatangan Mira dan Dafa. Mira hendak pergi, melihat aku dan Melati ada di sini. Aku segera menghampirinya.
"Kita pindah aja Daf!" ajak Mira pada Dafa.
"Tunggu Mir. Kamu jangan pergi." Aku menarik tangan Mira.

"Mau apa lagi kamu?" tanyanya sinis.
"Kita harus bicara biar jangan ada kesalah pahaman."
"Kamu mau jelaskan kalo kamu sudah menikah secara diam-diam. Gitu...? Jadi itu istri kamu? Cantik.... Ayo Daf kita pergi dari sini!"
Mira menarik tangan Dafa keluar.

"Maksud kamu apa Mir? Emangnya Dira sudah menikah ya?" tanya Dafa heran.
"Iya. Dia menikah diam-diam," jawab Mira. Air matanya sudah menetes.
"Kamu tau darimana?" tanya Dafa balik.
"Hape Dira gak pernah diangkat saat kutelpon. Lalu aku datang ke rumahnya. Dan Mamanya bilang, dia lagi berbulan madu ke Bali."

*

Seperti biasa, jam 05.00 subuh, Melati sudah bangun dari tidurnya. Dia mandi dan shalat Subuh. Setengah jam kemudian baru aku bangun. Olahraga sebentar lalu segera mandi. Aku bergegas ke kantor.
"Bang..., sarapan dulu!" ajak Melati.
"Nasi goreng lagi?" tanyaku.
"Nggak. Abang mau selai apa? Coklat, kacang, atau strawbery? Aku beli roti tadi."
"Itu lebih baik daripada nasi goreng buatanmu. Tak layak dimakan manusia."

Melati cemberut. Aku duduk lalu memakan roti yang ia berikan.
"Aku berangkat dulu," pamitku setelah selesai sarapan.
"Bang..., dasinya kurang rapi. Aku rapikan ya?"
"Kamu apa-apaan sich? Gak usah."
"Emang kenapa? Aku kan pengen jadi istri yang baik."
"Pernikahan kita bukan sungguhan. Kau lupa ya? Jadi kau tak perlu jadi istri yang baik."

"Ya baguslah kalo gitu. Jadi aku tak perlu masak, nyuci pakaian dan membersihkan rumah."
"Terserah...."
"Aku gak suka lihat rumah berantakan jadi gak apa-apalah kalo rumah tetap kubersihkan."
Aku mendekatkan wajahku ke wajah Melati.
"Terserah.... Oke...?"

Aku meninggalkan Melati. Masih sempat ku dengar ocehannya. 
"Dasar lelaki menyebalkan. Aku pikir dia itu pria yang baik dan lembut. Ternyata salah," katanya. Aku hanya tersenyum melihat dia marah.
Melati masuk ke kamarku.

"Ihh..., jorok banget," dia berkomentar, "berantakan lagi." Lalu dia membersihakan dan merapikannya semua isi kamarku.

Setelah selesai, Melati berbaring di sofa depan TV. Karena kecapaian, dia tertidur.

Aku pulang dari kantor. Kulihat di lemari dapur tidak ada makanan. Aku membangunkan Melati.
"Heiii..., bangun."
Melati terbangun.
"Aku tertidur ya?" tanyanya.
"Nggak. Kau tadi lagi jalan-jalan."
Dia cemberut.

"Masak ditanya lagi tidur apa nggak. Kalo mau tidur TV dimatikan dulu. Bukannya nonton malah TV yang nonton kau."
"Cerewet."
"Aku lapar tapi tidak ada makanan."
"Aku kan bukan istri sungguhan jadi ngapain aku masak."
Aku mulai kesal lihat Melati.

"Jadi kau makan apa kalo lapar?"
"Aku beli di Restaurant dekat pos depan sana."
"Ya udah cepat beli sana! Aku lapar."
"Kita makan di sana aja!"
"Malas. Udah..., beli aja. Bawa ke mari!"
"Aku juga malas jalan kaki ke sana. Capek."
"Bawa mobil."
"Emm... aku... aku gak pandai bawa mobil."
"Apa??"

Aku tertawa. Melati cemberut lagi.
"Kenapa ketawa?" tanyanya kesal.
"Masak kau gak bisa bawa mobil? Kan lucu."
"Papa gak ijinkan aku belajar nyetir. Dia takut aku jatuh."
"Itu karna kau bodoh makanya gak diijinin."
"Abang yang bodoh."
"Kau...."
"Abang...."
"Kau..., dasar Melati bodoh."
Melati memukul kepalaku pakai remot.
"Kau...." suaraku meninggi karena kesal.
"Apa..." dia malah nantang.
"Dasar Melati bodoh."

Dengan wajah cemberut, Melati meninggalkanku. Lucu kalau dia cemberut gitu. Dia duduk di teras depan. Aku mendatanginya.
"Ya udah. Ayo kita makan di sana!" ajakku.
"Nggak.... Abang aja yang pergi." Dia buang muka dengan wajah cemberutnya.
"Gitu aja marah. Buruan...! Aku lapar."
"Kan sudah kubilang nggak."
"Benar nih? Ya udah. Aku pergi. Selamat berlapar-lapar."

Aku berjalan menuju mobil lalu naik. Melati berlari mengejar.
"Tunggu..., aku ikut," katanya lalu dia naik ke mobil.
Aku tersenyum. Sampai di sana, kami langsung pesan makanan. Setelah pesanan datang, kami langsung menyantapnya.
"Gimana masakannya? Enak kan bang?" tanya Melati.
"Nggak."
"Nggak enak tapi kok habis."
"Lapar."
"Hmmm..., bilang aja enak. Dasar...."

*

Aku hampir tertidur kalau tidak karena suara Melati memanggil-manggil. Dengan malas aku membuka pintu.
"Apa sih? tanyaku, "Aku hampir tertidur tapi gara-gara suara jelekmu itu, jadi terbangun."

"Mamaku tadi nelpon. Dia khawatir karena kita gak pernah datang setelah menikah. Ngasih kabar pun gak pernah."
"Itu sih salahmu kenapa kau gak pernah nelpon."
"Besok kita ke sana ya bang!"
"Iya tapi tunggu aku pulang kerja dulu."
"Jangan lama pulangnya!"
"Iya. Udah cepat keluar. Aku ngantuk."

Melati keluar. Aku mengunci pintu kamarku lalu menghempaskan tubuh di ranjang.

*

Teguran Adam mengejutkanku ketika aku sampai di kantor.
"Kau jahat banget ya Dir, nikah gak ngundang-ngundang," kata Adam.
"Apa?" Aku heran karena Adam mengetahui pernikahanku.
"Dari mana kau tahu?"
"Dari Mamamu lah. Mau sampai kapan kau sembunyikan? Dasar kau gak setia kawan. Gak mau berbagi kebahagiaan."

"Pernikahanku bukan seperti yang kau bayangkan. Aku tidak menginginkannya."
"Kenapa? Bukankah menikah dengan Mira adalah impianmu?
"Tapi...."

Belum sempat aku menjelaskan, Adam sudah berteriak.
"Teman-teman..., dengarkan aku. Dira sudah menikah."
"Apa...? Menikah?" tanya teman-teman yang lain. Mereka terkejut. Adam mengangguk. Semua staf dan pegawai menyalami aku dan memberi ucapan selamat. Pak Dira nikah kok gak bilang-bilang? Kok pernikahannya dirahasiakan? Begitulah pertanyaan mereka.

"Apa...? Pengganti pengantin pria?" Begitulah tanggapan Adam ketika aku menariknya masuk ke ruanganku dan menjelaskan semua padanya.
"Aku gak ada pilihan. Mama dan Papa terus mendesak agar aku mau menggantikan calon suaminya."
"Kau benar-benar seorang kesatria."
"Apaan sih...."

"Kasihan juga ya istrimu."
"Yang harus kau kasihani itu aku Adam begok."
"Lebih kasihan istrimu. Dia kehilangan orang yang dicintai dan terpaksa menikah dengan orang yang tidak dikenalnya."
"Kan sama juga dengan nasibku."
"Terus Mira gimana?"
"Dia marah padaku. Aku belum bisa menjelaskan semuanya."

Kita tinggalkan dulu teman teman Dira di Kantor yang rame tahu kalau Dira sudah nikah tapi bukan dengan Mira pacarnya selama ini.
Besuk kita ikuti lagi sambungan ceritanya di nomor 4 ya Sobat


Bagian 04

Hari ini aku bertemu dengan relasi di Restaurat Mira. Membicarakan kontrak kerja.

Setelah semua selesai, aku menyuruh sekretarisku balik ke kantor. Aku tidak langsung balik karena ingin menemui Mira dulu.Tanpa permisi, aku langsung nyelonong masuk ke ruangan Mira dan mengunci pintu. 

Mira terkejut melihat kedatanganku.
"Kamu apa-apaan sih Dir? tanya Mira gusar.
"Dengan begini baru aku bisa bicara denganmu," jawabku.
"Aku gak mau dengar apa pun."
"Mir..., aku menikah kerena terpaksa."

"Mamamu yang maksa kan? Emangnya kau gak bisa menolak?"
"Sayang..., dengar dulu. Saat itu aku menghadiri pernikahan putri teman Papa. Ketika akad nikah akan dimulai, datang kabar bahwasanya calon suaminya tabrakan dan meninggal. Bayangkan gimana kacaunya kalau sempat acara pernikahan itu batal. Undangan sudah ribuan yang datang. Lalu Papa dan Mama mendesak aku supaya menggantikan calon suaminya."

"Lalu?" tanyanya penasaran.
"Dengan sangat terpaksa aku mengikuti saran Mama."
Mira terdiam mendengar penjelasanku. Dia mulai melemah. Perlahan air matanya mengalir. Aku mendekat lalu memeluknya.

"Sayang..., kamu tenang aja. Kami sudah buat kesepakatan dalam waktu 6 bulan, kami akan bercerai," sambungku.
"Tapi hubungan kalian.?"
"Kami juga sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing dan tidak ada hubungan fisik."

Aku mencium kening Mira sambil berucap.
"Aku hanya mencintaimu, sayang."
"Kenapa harus 6 bulan?" tanyanya.
"Aku gak mau hubungan keluarga kami retak kalo kami langsung cerai. Kan yang penting aku masih bisa menemuimu."
"Hmmmm...."
"Udah jangan sedih lagi. Aku merindukanmu sayang."

Sementara Melati mulai gelisah menunggu aku pulang. Dia sudah siap-siap untuk mengunjungi rumah orangtuanya. Sudah beberapa kali dia mencoba menelpon, tapi tidak kuangkat. Aku asik bermesraan dengan Mira.
Telponku terus berdering. Dengan kesal aku mengangkat telpon dari Melati.

"Apa sih? Dari tadi nelpon-nelpon?" tanyaku kesal.
"Abang di mana?" tanya Melati.
"Bersama Mira."
"Abang lupa ya?"
"Apaan? Sudahlah..., jangan menggangguku. Aku baru baikan dengan Mira."
Aku memutus telpon dari Melati.

Melati pergi ke rumah orangtuanya tanpa aku. Sampai di sana, dia pasang wajah cemberut. Ketika ditanya tante Wina, mamanya Melati, apa yang membuat dia cemberut, dia bilang tidak ada apa-apa. Dan ditanya kenapa aku tidak ikut, dia katakan aku lagi sibuk.

Sampai malam, Melati tidak pulang. Tante Wina mulai curiga. Dia masuk ke kamar Melati.
"Sebenarnya ada apa Mel? Kenapa kau gak pulang?" tanya tante Wina.
"Melati gak mau lagi balik ke rumah itu Ma. Melati balik aja kemari," jawabnya
"Kalian bertengkar ya?" selidik tante Wina.
"Iya.... Aku benci Dira."

Tante Wina mengelus rambut Melati.
"Sayang..., Mama ngerti pernikahan ini mendadak. Kalian belum saling mengenal dan memahami. Butuh waktu untuk kalian. Tapi cobalah untuk menerimanya sebagai suami."
"Bagaimana kalo kami bercerai aja Ma?"

"Melati..., Alloh sangat membenci perceraian walaupun itu diperbolehkan."
"Ma..., kami selalu bertengkar."
"Ya kamu harus ngalah dong. Sayang, Papa dan Mama saja menikah atas keinginan kami terkadang ada juga pertengkaran. Apalagi kalian. Mama paham. Tapi cobalah untuk lebih bersabar. Sebenarnya Dira itu lelaki baik."

Melati tidak berkomentar lagi. Dia hanya menarik napas. Dia dari kecil tidak pernah membantah semua ucapan Mamanya. Tante Wina merasa lega. Dia tau, Melati akan menuruti semua yang dia ucapkan.

"Ma..., malam ini Melati tidur sini ya? Besok baru pulang," pinta Melati.
"Ya sudah. Gak apa-apa. Asal jangan minta cerai."

Aku jadi gelisah karena Melati tidak pulang sampai malam. Bukan karena aku merindukannya tapi aku gak mau aja dimarah Mama kalau sampai Melati hilang. 

Kucoba tuk menelponnya tapi tidak diangkat. Lalu kucoba lagi tapi tetap tak diangkat. Aku tidak putus asa. Terus kutelpon. Akhirnya diangkat juga.

"Kau di mana?" tanyaku.
"Apa peduli abang aku di mana?" jawabnya ketus.
"Gak masalah kau mau tidur di mana yang penting kasih tau aku."
"Nggak...." Suara Melati meninggi.
"Heiii..., Melati...." Aku mulai kesal.
"Kita kan udah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing."

"Dengar ya Melati, aku tidak mencampuri urusanmu. Aku gak peduli kau di mana pun. Aku hanya gak mau orangtuamu khawatir kalo kau hilang. Aku pasti dimarah mamaku," suaraku juga meninggi.
"Kalo abang gak mau mamaku khawatir seharusnya abang ingat janji kita tuk datang ke tempat mama."
"Apa....?"

Astaga.... Aku lupa janji untuk ke rumah orangtua Melati. Pantesan Melati marah-marah dari tadi.
"Mel..., aku benar-benar lupa. Maaf ya?" mohonku, " aku datang sekarang ya?"
"Gak perlu. Aku mau tidur."
Melati memutus panggilan kami.

Aku menuju garasi. Mobilku langsung meluncur menuju kediaman orantua Melati. Sampai di sana pintu pagar sudah dikunci. Sepi....
Aku melompat dari atas pagar. Lalu memencet tombol bel masuk. Berulang-ulang. Lalu pintu terbuka. Ternyata yang buka tante Wina, mamanya Melati.

"Loh..., Dira. Kan sudah larut malam. Gak perlu datang ke mari. Besok juga Melati balik," kata tante Wina.
"Gak apa-apa kok tante. Tadi aku sibuk banget sampai lupa janji tuk datang ke mari."
"Pantas Melati gak mau pulang. Mari masuk!"
"Sebentar Tan..., mobil saya masih di luar."
"Security ketiduran tu. Ya sudah."

Aku memasukkan Mobilku. Lalu segera masuk ke dalam rumah.
"Jangan panggil tante. Panggil mama aja!" kata mama mertuaku.
"Baik Ma."
"Melati tu paling gampang memaafkan kesalahan orang lain. Ntar juga dia lupa tu kalo kamu lupa ma janji. Mari mama antar ke kamar Melati!"

Aku mengikuti Mama dari belakang. Sampai di depan kamar Melati, dia mengetuknya. Tapi ternyata kamar Melati tidak dikunci.
"Kebiasaan tu anak dari dulu gak pernah ngunci pintu kamarnya. Selalu lupa." sambung Mama, "masuk aja Dir!"
"Iya Ma."

Mama pergi. Melati tertidur pulas. Baru kali ini aku melihat dia tidak memakai jilbab. Cantik, ayu. Rambutnya hitam dan panjang.
Entah mengapa aku sudah berada di samping Melati. Seolah terhipnotis melihat kecantikan Melati tidur seperti anak-anak.

Melati terbangun. Dia kaget melihat aku berdiri di sampingnya.
"Abang ngapain dekat-dekat?" tanyanya, "jangan macam-macam ya!"
Aku menunduk. Melati semakin ketakutan. Semakin dekat dan.... Aku menarik bantal yang ada di sampingnya lalu menghempaskan tubuh di Sofa.

"Gak usah gr deh. Kau itu bukan tipe cewek yang kusuka," sahutku
"Lelaki itu ibarat kucing. Gak akan menolak jika dikasih ikan jenis apa pun. Keluar dari kamarku" Melati mengusirku.
"Apa kata Mama nanti kalo aku tidur di luar? Kau mau kesepakatan kita terbongkar?"
Melati diam.
"Jangan brisik. Aku mau tidur," sambungku.

Adzan subuh berkumandang. Melati membangunkanku.
"Apa sih?" tanyaku
Bangun!" jawab Melati
"Masih ngantuk."
"Papa menyuruh aku bangunin abang. Ayo shalat subuh."
"Tapi...."
"Gak ada tapi-tapian. Buruan mandi bang. Papa dan Mama sudah menunggu tu. Di sini emang gitu. Shalat berjamaah."

Dengan malas aku beranjak. Ke kamar mandi. Untuk pertama kalinya aku shalat subuh. Shalat berjamaah bersama Mertua dan istriku. Sebenarnya aku shalat karena segan dengan mertua.
Setelah selesai, kulihat Mama mencium tangan Papa. Aku pun menyodorkan tanganku pada Melati. Dengan canggung Melati menciumnya mengikuti apa yang dilakukan Mamanya.

Kami pulang setelah selesai sarapan bersama. Aku mengantar Melati ke rumah sedangkan aku langsung berangkat ke kantor. Sampai di kantor baru aku ingat labtop ketinggalan di rumah. Mau balik gak sempat. Masih ada pekerjaan lain yang harus kukerjakan. 

Aku memutuskan untuk menelpon Melati. Cari kontak atas nama Melati dan tersambung. Dia mengangkatnya.
"Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Mel..., aku boleh minta tolong?" tanyaku balik.
"Minta tolong ke kantor polisi sana!"
"Aku serius nih Mel. Tolong ambilkan labtop di kamarku dan antar ke mari!"
"Aku lagi sibuk," jawab Melati.

Aku tersenyum geli dengar alasan Melati karena tau paling kerjanya cuma nonton.
"Sibuk apaan?" tanyaku.
"Buruan ya! Ntar aku beliin es krim."
"Emangnya aku anak-anak dijanjiin es krim?"
"Kali aja."

"Tapi aku malu."
"Malu kenapa?" tanyaku.
"Malu sama teman-teman abang."
"Seharusnya yang malu itu aku. Malu kalo teman-teman lihat istriku sejelek kau."
"Dasar menyebalkan. Ya sudah..., kalo malu punya istri kayak aku, ngapain aku datang?" Melati mulai kesal. Aku paling senang melihat dia kesal.

"Jangan gitu dong Mel. Aku cuma becanda. Kau itu istri yang sangat cantik kayak bidadari yang turun dari pohon jengkol. Aku tunggu ya istriku yang cantik."

Aku tertawa dan memutus panggilan. Aku tau pasti Melati lagi kesal. Tapi aku yakin dia akan datang.

Dan benar saja. Setengah jam kemudian, Melati sudah sampai. Sialnya dia datang pas Adam berada di ruanganku.
"Kok lama?" tanyaku.
"Mau masuk ke sini aja pakai ditanya-tanya sudah buat janji atau gak sama abang. Makanya lama. Terpaksa deh aku ngaku istri abang," jawabnya.

"Jadi ini istri kamu Dir?" tanya Adam berbisik, "cantik sekali."
"Biasa aja."
"Oh ya mbak, kenalin aku Adam, temannya Dira," kata Adam sambil mengulurkan tangan.

"Maaf bang, aku gak bisa bersalaman dengan abang," balas Melati.
Aku tertegun mendengar jawaban Melati. Bersalaman dengan pria saja dia tidak mau, sementara aku, sudah sering bercumbu dengan Mira walau tidak sampai melakukan hubungan suami istri.

"Ya udah aku pulang bang," pamitnya.
"Tunggu dulu!" Adam menyela. 
"Jangan cepat-cepat pulang mbak. Karena sudah di sini, bagaimana kalau kita makan dulu di kantin?"
"Boleh."
"Ayo Dir!" ajak Adam.
"Malas. Kalian saja," sahutku
"Ya sudah. Mari mbak!"

Melati dan Adam keluar dari ruanganku. Aku lirik jam sudah waktunya istirahat. Aku menyusul. Mereka sudah duduk dan aku pun duduk dekat Melati.
"Katamu malas tapi kok nyusul? Cemburu ya?" tanya Adam.
"Apaan sih? Aku gak peduli Melati mau jalan ma siapa saja. Terserah...."

"Kalo gitu ngapain abang ikut ke sini?" tanya Melati.
"Aku lapar. Emang salah aku makan di kantin ini?" tanyaku balik.

"Gak salah sih tapi abang kan bisa nyari bangku lain. Jangan di sini!"
"Terserah aku dong mau duduk di mana."
"Oke abang duduk di sini. Ayo bang Adam kita cari bangku lain!" ajak Melati pada Adam.
Mereka pindah ke bangku lain.

Pesanan mereka datang. Mereka makan sambil becanda. Sesekali terdengar tertawaan mereka. Pesananku pun datang. Aku jadi tidak selera makan. Ntah kenapa aku gak suka lihat Melati tertawa bersama Adam. Aku mendatangi mereka.

"Kalo udah siap makannya ayo aku antar pulang," ajakku.
Aku tidak yakin Melati si keras kepala itu mau kuajak pulang. Dan benar saja.
"Aku masih mau di sini. Abang pulang aja sendiri. Nanti aku naik taxi. Atau diantar bang Adam."
"Benar tu Dir," sambung Adam.

Aku menarik tangan Melati dan meyeretnya. Dia berusaha melepas tangannya tapi aku semakin mempererat cengkramanku.
Aku terus menariknya menuju parkiran mobil. Kubuka pintu dan mendorongnya masuk.

Belum sebulan, Dira mulai cemburu ketika melihat Melati dekat-dekat Adam. Bagaimana ya apa kuat itu kucing nggak colek-colek ikan di rumahnya selama 6 bulan?... HALAL LAGI!
Ditunggu yo Konco, sesuk nomor 5 diterusaké manèh cemburuné Diro yo

Bagian 05

Aku masuk ke dalam mobil dan bersiap menjalankannya tapi tidak jadi karena Melati menangis. Aku memperhatikan dia menangis.

"Kenapa nangis?" tanyaku.
"Lihat nih tanganku merah," jawab Melati.
"Gitu aja udah nangis. Ntar juga hilang."
"Sakit tau...."
"Dasar cengeng."
"Dasar menyebalkan. Sakit sekali," jawabnya.

Tangis Melati semakin kuat. Aku jadi merasa bersalah. Emosiku langsung hilang.
"Coba lihat!" pintaku.

Aku ingin meraih tangan Melati tapi dia menepisnya. Segera saja kujalankan mobil dan meluncur di jalanan. Mobil kami berhenti di depan sebuah klinik milik Dafa temannya Mira.

"Ayo turun!" perintahku.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Ya ngobatin tangan kamulah. Katanya sakit."

Aku keluar dan membukakan pintu untuk Melati. Lalu dia mengikuti langkahku masuk.
"Dafa ada?" tanyaku pada salah satu perawat.
"Di ruangan pak. Lagi ada pasien di dalam. Bapak menunggu saja." sahut perawat tersebut.
Aku tidak memperdulikan ucapan perawat itu. Kami langsung menuju ruangan Dafa.

Kulihat Dafa lagi memeriksa seorang pasien. Melihat kedatanganku dan Melati, dia menghentikan kegiatannya.
"Ada apa Dir?" tanyanya.
"Tu..., tangan Melati sakit. Tolong obati!" jawabku ketus. Aku tidak pernah suka dengan Dafa karena aku tau dia mencintai Mira.

"Sebentar ya, aku selesaikan dulu pemeriksaanku," jawabnya.
"Duduk dulu Dir, mbak Melati."

Dafa kembali memeriksa pasiennya. Lalu memberikan penjelasan dan arahan. Setelah itu dia memberikan resep obat. Lalu pasiennya pun keluar.
"Coba saya lihat dulu tangannya mbak Melati," kata Dafa.

Melati mengulurkan tangannya yang sakit.
"Maaf ya mbak. Saya lihat dulu," sambung Dafa lalu memegang tangan Melati, "ini kenapa mbak?"
"Gara-gara dia," jawab Melati sambil menunjuk aku, "dia tarik dan cengram kuat sekali."

Dafa melihat ke arahku. Aku memalingkan wajah ke arah lain. Pura-pura tidak dengar.
"Bagaimana pak dokter?" tanya Melati.
"Ini tidak apa-apa kok mbak. Hanya lecet sedikit. Dikasih anti septik ntar juga baik."
"Kan sudah aku bilang nggak apa-apa. Kau aja yang cengeng," sahutku.

Dafa memberi beberapa obat pada Melati.
"Mel..., kau keluar duluan. Ada yang mau aku bicarakan dengan Dafa,"
"Jangan lama!" sahut Melati sambil keluar.
"Istrimu cantik Dir. Kamu beruntung dapat istri secantik dia," kata Dafa.

"Beruntung apanya? Oh ya apa Mira sudah cerita padamu soal pernikahanku?"
"Sudah. Dia bilang kau menikahi Melati karena calon suaminya meninggal ketika ijab kabul akan dilaksanakan."
"Baguslah kalo kau sudah tau. Jadi kau jangan coba-coba rayu Mira karena aku akan segera bercerai."

"Dir..., kamu kan tau aku dan Mira cuma sahabat. Sahabat dari kecil."
"Aku juga tahu kalo kau mencintai Mira."
"Bagiku kebahagiaan Mira adalah segalanya."
"Ya bagus kalo gitu. Udah ya..., aku permisi."

Aku dan Melati meninggalkan klinik Dafa. Sampai di rumah, Melati langsung membersihkan rumah. Dia paling gak tahan melihat rumah berantakan.

"Hei Melati, kau setiap hari membersihkan rumah tapi kamarku gak pernah kau sapu."
"Loh..., itukan kamar abang jadi abanglah yang bersihkan," jawabnya enteng.
"Itukan pekerjaanmu."
"Waktu itu abang yang bilang kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing."

"Apa hubungannya dengan membersihkan kamar?" tanyaku heran.
"Kamar itukan tempat pribadi abang berarti aku dilarang masuk."
"Jangan banyak alasan. Mulai sekarang kau harus membersihkannya."
"Kalo sempat."
"Ya jelas sempatlah. Kau kan gak punya kerja."
"Iya...iya."

Hari sudah malam. Sepertinya akan turun hujan. Aku hendak mematikan televisi karena khawatir akan ada petir.
Duaarrr....
Benar dugaanku. Petir berbunyi. Kulihat Melati berlari ke arahku dan langsung memelukku yang sedang berdiri.

"Ada apa?" tanyaku heran.
"Aku takut sekali bang. Petirnya kuat. Cepat matikan TV nya!"
"Iya tapi lepaskan dulu pelukanmu supaya aku bisa matikan TV."

Melati melepas pelukannya. Kulihat wajahnya memerah, hatiku berdesir, betapa cantiknya Dia. 
Dia duduk di sofa. Aku mematikan TV dan duduk di dekat Melati.
"Jadi kau takut suara petir?" tanyaku.
Dia mengangguk. Aku tersenyum. Galak tapi kok takut sama suara petir. Tiba-tiba muncul dipikiranku untuk mengerjai Melati.

"Aku ngantuk. Mau tidur dulu," kataku.
"Jangan tidur dulu. Abang sini aja."
"Kalo mau ikut ke kamarku, boleh... Kita tidur bersama." 

Aku tersenyum. Aku yakin Melati pasti kesal.
Aku berjalan menuju kamar. Dengan ragu Melati mengikutiku dari belakang.
Duaarrr....
Suara petir terdengar kembali. Kuat sekali. Melati berlari ke arahku. Melihat dia berlari mendekat aku pun berlari menjauh darinya. Dia tampak ketakutan dan pucat. Dan...,
Braakkk!.

Melati terjatuh. Dia menagis. Aku berlari mendekat dan mengangkatnya ke sofa.
"Udah jangan nangis. Aku hanya becanda," bujukku.
"Kenapa abang jahat kali padaku. Senang ya buat orang menangis?" tanyanya sambil terus menangis.

"Ya maaf deh. Udah jangan nangis lagi."
"Aku benci abang... benci... benci."

Dia memukuli dadaku pelan. Suara petir terdengar sahut-sahutan. Gerimis mulai turun. Melati memelukku, tangannya halus dingin. 

Hujan turun dengan derasnya. Cuaca bertambah dingin. Aku balas pelukan Melati. Aku merasa nyaman dengan pelukan hangatnya.
"Aku takut bang," katanya.
"Kan ada aku. Tenang saja."
Aku mengelus-elus kepalanya agar dia tenang. 

Lama seperti ini. Kulihat Melati sudah tertidur dalam pelukanku. Dia istriku, tidur manja dalam pelukanku, tercium bau perempuan, harum, dan ada rasa berdesir mengalir di dada.
Dua jam sudah duduk sambil berpelukan seperti ini. 

Hujan sudah reda dan petir tidak terdengar lagi. Aku menepuk-nepuk bahu Melati agar dia terjaga. Tapi dia tidak terbangun. Tidurnya pulas sekali. Aku jadi tidak tega membangunkannya. Rasa kantuk mulai menyerangku. Aku pun tertidur berpelukan dengan Melati istriku.

Adzan subuh berkumandang. Aku terbangun karena Melati mendorong tubuhku agar terlepas. Aku heran kenapa kami bisa tidur berbaring di sofa sambil berpelukan.
"Kok aku tidur di sini? Abang kesempatan ya?" tanya Melati.
"Enak aja. Yang duluan peluk itu kau."
"Iya tapi kenapa abang gak lepasin pas aku sudah tertidur?"
"Aku sudah bangunin tapi kau tidur pulas sekali. Aku gak bisa melepas pelukanmu."
"Alasan...."

"Gak tau berterima kasih. Masih baik aku mau nemenin. Kalo gak kau bisa pingsan karena ketakutan." Aku mulai kesal.
"Jangan-jangan tadi malam abang ngambil kesempatan waktu aku tidur. Ayo ngaku..., apa yang abang lakukan waktu aku tidur?"

"Heiii Melati.... Kau itu bukan tipe cewek yang kusuka. Kalo aku mau, kau udah dari dulu aku perkosa. Kau itu selalu lupa ngunci pintu kamar kalo mau tidur. Kau gak akan mampu melawan kalo aku paksa. Kita itu sah pasangan suami istri jadi gak masalah kalo aku memperkosamu. Dasar wanita gak tahu terima kasih. Selalu bikin kesal." sahutku dengan nada tinggi. 

Aku begitu emosi.
Aku mandi dan bergegas berangkat kerja tanpa sarapan dulu. Aku malas bertemu dengan Melati.

*

Aku heran melihat Melati dan Adam berdiri berjauhan tepat di depan pintu ruanganku. Aku mendekat.

"Ngapain kalian di sini? tanyaku.
"Eh..., abang. Tadi aku gak lihat abang di dalam, aku keluar dan bang Adam datang. Nih..., aku bawain Soto Medan."
"Apa..., soto Medan? Dari mana kau tahu aku suka soto Medan?" tanyaku.
"Dari mama Rani. Tadi aku ke sana dan temenin Mama pergi ke pameran lukisan."

"Aku sudah makan siang."
"Oh ya? Trus gimana dong sotonya?"
"Buat aku aja," seru Adam.
Adam ingin meraihnya dari tangan Melati. Dengan cepat aku menghalanginya dan langsung mengambil soto itu dari tangan Melati. Aku menarik tangannya masuk ke ruanganku.

"Abang suka kali narik-narik tanganku. Sakit...." seru Melati.
"Kenapa kau datang ke mari?" tanyaku.
"Ya buat ngantarin soto lah."
"Tumben."
"Kan gak apa-apa. Sesekali."
"Pasti ada sesuatu."
"Sesuatu apa sih? Dasar aneh. Kalo gak mau ya sudah.... Aku kasih bang Adam aja."
"Enak aja."

Aku membuka bungkusan yang dibawa Melati dan memakannya dengan lahap.
"Katanya udah makan tapi kok lahap?" tanya Melati.
"Sebenarnya aku belum makan."
"Jadi kenapa tadi bilang udah makan?"
"Supaya kau marah."
"Apa???"
Aku tertawa melihat wajah kesal Melati. Aku suka bikin dia marah. Lucu.... 

Sekretarisku datang. Wajahnya kelihatan pucat.
"15 menit lagi bapak ada meeting dengan klien di Restaurant Mira Food," katanya.
"Ya sudah persiapkan semuanya."
"Maaf pak..., perut saya sakit sekali."
"Udah minum obat?" tanyaku khawatir.
"Udah tapi sakitnya belum hilang."

"Ya sudah, kau istirahat saja biar saya sendiri ke sana."
"Pak..., bagaimana kalo bapak ditemani bu Melati saja?" tanyanya.
"Apa...? Dia...?" aku menunjuk Melati, "tu gak mungkin."

"Kenapa gak mungkin, pak? Semua udah siap kok. Saya terangkan sedikit pasti bu Melati bisa," jawab Merry sekretarisku.
"Dia gak akan bisa."
"Aduhhh.... Maaf pak saya permisi dulu ke kamar mandi."

Mery setengah berlari pergi meninggalkan kami menuju kamar mandi.
"Aku kuliah jurusan sekretaris dulu," kata Melati.
"Tapi aku gak yakin kau bisa. Masak aja gak bisa."
"Gak ada hubungannya jadi sekretaris sama masak?"

"Jelas ada dong. Untuk hal gampang seperti masak aja kau gak bisa apalagi jadi sekretaris."
Tidak berapa lama, Mery datang.

Dira sudah peluk-peluk Melati dan Dia suka nggodain Melati Dia senang lihat Melati cemberut... apa Dia mulai senang sama istrinya ya?
YO WIS, besuk saja di nomor 06, disimak  perkembangan hati mereka... terus gimana donk Mira?

Bagian 06

Ada saja hal-hal yang membuat aku dan Melati bertengkar. Rasanya tiada hari tanpa bertengkar dengannya.
Selesai meeting dengan klien, Mira menghampiri kami.

"Hai..., Dir. Udah siap meetingnya?" tanyanya.
"Sudah Mir."
"Ke ruangan aku yuk! Aku kangen. Akhir-akhir ini kau jarang mampir ke sini."

"Melati...." aku memanggil Melati, "kau pulang aja duluan. Aku ada perlu dengan Mira."
"Mel..., maaf ya? Dira ikut aku. Gak apa-apa kan?" tanya Mira.
"Gak apa-apa kok. Baiklah kalo gitu. Aku permisi." balas Melati.

Dia meninggalkan aku dan Mira. Lalu kami masuk ke ruang kerja Mira.
"Tahu gak Dir? Aku tu cemburu kalo aku ingat kamu satu rumah dengan Melati. Kalian pasti tiap saat ketemu. Bangun tidur ketemu, sarapan bersama," kata Mira.

"Udah dong sayang..., jangan diingat terus soal itu."
"Gak bisa Dir. Aku kepikiran terus."
"Jadi aku harus gimana?" tanyaku, "sayang..., aku hanya mencintamu."
Aku meraih tangan Mira lalu mengecupnya.

"Aku takut Dir."
"Takut kenapa?"
"Suatu saat kamu tu jatuh cinta sama Melati. Bukankah cinta itu bisa tumbuh karena sering bersama?"

"Hmmm..., jangan mikir macem-macem. Oke...? Aku akan berusaha supaya jarang ketemu dengan Melati."

"Emang bisa?"
"Bisa dong. Aku pulang disaat Melati sudah tidur dan pergi pagi sekali supaya kami gak ketemu."
"Baiklah."
"Senyum dong! Biar kelihatan cantiknya."
Mira tersenyum.
"Makan yuk! Lapar nih," ajakku.
"Ayo."

*

Aku pulang ke rumah larut malam. Kulihat lampu kamar Melati sudah mati. Dia pasti sudah tidur.
Dan pagi sekali aku sudah berangkat ke kantor tanpa permisi padanya. Mobil meluncur menuju Restaurant Mira Food. Restaurat itu belum buka. Ku lihat ada beberapa office boy sedang melakukan pekerjaannya. Aku ambil duduk di pojokan. 

Doni, salah satu office boy menyapa.
"Kok pagi sekali pak? Belum buka loh," tanyanya. Dia mengenalku karena sering datang ke mari.
"Gak apa-apa. Mau nunggu Mira."
"Mau saya buatkan teh atau kopi pak?" tanyanya lagi.
"Boleh. Teh aja ya Don!"

Dia mengangguk lalu pergi ke dapur. Tidak berapa lama dia datang membawakan secangkir teh. Bersamaan dengan itu Mira datang.

"Dira..., kok pagi sekali sudah datang?" tanyanya heran.
"Kan aku sudah janji tuk menghindari bertemu dengan Melati.
"Kamu serius?" tanyanya lagi.
"Emang aku pernah main-main dengan ucapanku?" tanyaku balik.

"Udah sarapan?"
"Belum."
"Ya udah. Aku bikinin ya?"
"Boleh. Makasih ya sayang...."

Setelah sarapan, aku berangkat ke kantor. Malamnya aku pulang larut malam setelah yakin Melati sudah tidur. Aku terus menghindari Melati. Walau aku tidak yakin dengan ucapan Mira bahwa cinta bisa tumbuh karena sering bertemu.

Terkadang muncul keinginan untuk menyapa Melati tapi aku tahan. Biarlah kami tidak pernah bertemu. Bahkan hari Minggu pun aku berangkat ke kantor. Aku melihat Melati menatapku. Mungkin dia heran lihat aku pakai pakaian kerja di hari minggu. Langkahku terhenti karena Melati memanggil.

"Kan minggu bang kok ke kantor?" tanyanya.
"Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."
"Abang pulang jam berapa?"
"Belum tahu."
"Bang..., cepat pulang ya!"

Aku menatapnya. Heran kenapa dia menyuruh cepat pulang. Sudah seminggu aku menghindar terus darinya tapi sepertinya dia gak peduli.

"Mama dan Papa mau datang ke sini bang. Aku gak mau mereka bertanya kenapa hari minggu pun abang gak di rumah. Takut mereka curiga." sambung Melati.

Aku terdiam dan menatap manik matanya. Aku tak bisa mengartikan tatapan itu. Ingin rasanya ku bilang tidak tapi...
"Jam berapa mereka datang?" tanyaku.
"Mama gak bilang jam berapa. Nanti aku telpon kalo mereka sudah sampai."
"Baiklah."

Aku berjalan keluar. Setelah sampai di depan mobil, aku berubah pikiran. Ntah kenapa rasanya aku ingin di rumah saja. Tapi aku ingat janjiku pada Mira agar menghindar dari Melati.
Aku buka pintu mobil dan... kembali menutupnya. Aku masuk ke rumah menuju kamar.

Aku berganti pakaian. Tiba-tiba pintu terbuka disaat aku belum sempat memakai celana. Melati hinteris melihat aku hanya memakai celana dalam.

"Ngapain masuk ke kamarku?" tanyaku pada Melati sambil memakai celana. Aku yakin dia masih di depan pintu.

"Aku mau membersihkan kamar Abang. Kok Abang gak jadi pergi?"
"Tiba-tiba aja malas."
Aku keluar dari kamar diam-diam. Dan...

"Duarrr..., aku menjerit tepat di dekat telinga Melati.
Dia kaget dan menjerit. Aku tertawa.
"Kangen..., pengen buat kau marah," kataku
"Huhhh..., dasar."

Senang rasanya melihat Melati cemberut. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak membuat Melati marah tapi ntah kenapa begitu melihatnya, langsung muncul ide jahilku. 

Terdengar bel berbunyi. Melati membuka pintu. Yang datang Mama Wina. Mereka berpelukan. Aku pun mendekat dan menyalam Mama Wina. Lalu kami masuk dan duduk di kursi.

"Kok sendiri Ma? Papa mana?" tanya Melati pada Mamanya.
"Mendadak ada urusan ke luar kota," jawab Mama.

"Mama sudah makan?" tanyaku, "bagaimana kalo kita makan di luar aja Ma?"
"Gak usah Dira. Mama pandai masak kok. Mama masakin makanan kesukaanmu. Kau suka apa?"
"Dira suka makan soto Medan Ma?" seruku.
"Nanti Mama masakin."

"Tapi kok Melati gak pandai masak Ma? Pasti dia malas iya kan, Ma?"
Mama tersenyum lalu berkata.
"Melati emang tidak pernah belajar masak. Kami yang memanjakannya."
Kulihat rona wajah Melati berubah. Mungkin dia malu. Tapi ntahlah.

"Dir..., kamu pasti kecewa karna Melati gak pandai masak," sambung Mama.
"Mama kok ngomong gitu sih? Dira sudah menikahi Melati berarti harus nerima semua kekurangannya," jawabku.

Aku berbohong soal perasaanku pada Mama. Terkadang kita terpaksa berbohong untuk menyenangkan orang lain. Padahal jika sampai mereka tau apa yang sebenarnya terjadi, pasti rasanya dua kali lebih sakit daripada tahu di awal.

Malamnya terpaksa Melati tidur di kamarku dan kamarnya ditempati Mama. Aku tidur di ranjang dan Melati tidur di sofa. Kuperhatikan Melati, sepertinya dia tidak bisa tidur. Aku mendekat ke arahnya.

"Kenapa belum tidur?" tanyaku.
"Eh..., abang juga belum tidur."
"Udah tidur tadi tapi terbangun. Apa karna tidur di sofa makanya kau gak bisa tidur?" tanyaku.

"Nggak kok bang. Bukan karna itu."
"Lalu...?"
"Tiba-tiba aja aku ingat Ridho."
"Hmmmm..."

Aku ikut sedih melihat Melati tapi gak tau mau berbuat apa. Ternyata dia belum bisa melupakan calon suaminya yang sudah meninggal.
"Kau tidur di tempat tidurku aja biar aku di sofa!" tawarku.
"Gak apa-apa kok aku tidur di sini."

Aku menarik tangan Melati dan membawanya ke tempat tidur. Dia berbaring sambil terus menatapku. Aku menyelimutinya.

"Bang... terima kasih...."
"Terima kasih untuk apa?" tanyaku
"Karna abang sudah baik pada Mamaku. Dia terlihat bahagia sekali."

Aku duduk di sisi tempat tidur. Melati menggeser tubuhnya agar aku punya tempat duduk.
"Aku suka Mama. Dia manis gak kayak kamu," balasku.
"Hmmm...."
Melati cemberut.

"Aku gak bisa bayangkan gimana kecewanya Mama kalo kita bercerai nanti," sambungnya.
"Mamaku juga pasti kecewa." Aku menarik napas. 
"Dia juga menyukaimu."

Entah kekuatan apa yang menggerakkan tanganku menyentuh rambut Melati. Dia juga tidak berontak. Aku membelai rambutnya. Melihat Melati dengan jarak yang begitu dekat, membuatku tidak bisa berpaling untuk tetap menatapnya....
Dia cantik sekali. Serrr..., aku merasakan debaran jantungku kian cepat. Ingin rasanya aku cium bibirnya yang merah itu. Aku yakin bibir itu belum pernah ada yang menjamahnya. Akh... andai saja pernikahan kami berjalan normal aku pasti sudah melampiaskan hasratku padanya.

Melati sudah tidur. Aku ingin berdiri tapi tidak jadi karena dia memeluk pinggangku. Dia kelihatan nyenyak. Tanganku gemetar menyentuh pipinya. Halus sekali. Perlahan ku dekatkan wajahku ke wajahnya. 

Tiba-tiba saja bayangan wajah Mira muncul dibenakku. Aku mengurungkan niatku untuk mengecup bibir Melati. Lalu beranjak dari sisinya dan merebahkan tubuh di sofa.

*

Aku sudah selesai berpakaian kerja dan segera menuju dapur. Kulihat Mama dan Melati sudah menunggu di meja makan.
"Sarapan dulu Dir...," ajak Mama.
"Iya Ma."
"Kenapa barang-barang Melati ada di kamar yang Mama tempati?"

Aku kaget. Melati melihat ke arahku. Bingung mau bilang apa.
"Gini Ma...," Melati gugup.
"Jadi kamu belum pindahin lagi barang-barangmu ke kamar Mel?" tanyaku pura-pura.
"Apa...? Oh iya.... Aku lupa," jawabnya.
"Ada apa ini?" tanya Mama heran.

"Ma..., kemaren itu Melati marah padaku lalu dia angkat semua barangnya ke kamar itu dan dia tidur di sana." Aku berbohong.
"Iya Ma. Melati lupa mindahinnya lagi."

"Pertengkaran itu biasa terjadi dalam rumah tangga. Apalagi pernikahan kalian tidak direncanakan. Mama ngerti kalian butuh waktu untuk saling memahami dan mengerti. Lain kali kalo selisih paham jangan pakai pisah kamar!" seru Mama.

"Iya Ma," aku dan Melati menjawab serentak.
"Oh ya Ma, Dira berangkat kerja dulu," pamitku.
"Hati-hati di jalan."
Aku menyalam Mama lalu hendak pergi tapi dihalangi Mama.
"Kok kamu gak salam tangan suamimu Mel?" tanya Mama.
Aku dan Melati saling tatap.

"Iya Ma... biasanya di pintu nyalamnya."Melati berbohong.
Mama dan Melati mengantarku ke depan pintu. Dia menyalam dan mencium tanganku. Spontan aku mencium keningnya. Dia kaget lalu menginjak kakiku.

"Auuu...." Aku menjerit kesakitan.
"Ada apa?" tanya Mama.
"Maaf bang..., gak sengaja."
"Kamu ada-ada saja Mel. Ya sudah Mama mau ke dapur," pamit Mama.
Mama pergi meninggalkan kami.

"Kau pasti sengaja kan?" tanyaku kesal.
"Ngapain tadi pake cium-cium kening segala?"
"Supaya Mama gak curiga."

Sobat-Sobat semua, besuk saja ya di nomor 07 sandiwara kepura-puraan Melati-Dira di depan Mama Melati kita teruskan. Akan terbongkarkah sandiwaranya?... Sabar saja ditunggu besuk ya Sobat