Translate this page:

Industri Hijau


Optimalkan Limbah Jadi Nilai Tambah
Juara II IFCA 2020 Kategori Fesyen, Saparo

kompetensimedia

Kemenperin.go.id. Saparo adalah studio desain di Semarang yang fokus merespons limbah sebagai media eksplorasinya. Inovasi yang diciptakannya melalui penggabungan konsep art ke dalam berbagai macam alternatif produk, baik itu fesyen maupun kerajinan.

Saparo mulai terbentuk di awal tahun 2016. Kata saparo memiliki arti yang sama dengan separuh,
setengah, atau sebagian. Selama kurang lebih dari dua setengah tahun sejak didirikan, sang pemilik Jemi Nikolaus Rahangiar lebih cenderung untuk melakukan riset serta memantapkan niat dan tujuannya. 

“Pada tahun 2018 adalah titik balik kami untuk meyakinkan niat dan tujuan kami, dengan memulai
memproduksi,” ungkapnya. 

Berangkat dari latar belakangnya di bidang fesyen, Jemi menyadari bahwa limbah dari industry fesyen dapat dioptimalkan nilai tambahnya sebagai peluang usaha. “Untuk itu, kami mulai merespons dan experiment menggunakan limbah dan teknik khusus untuk diaplikasikan ke berbagai produk, seperti tas, topi, kemeja, celana, dan jaket,” sebutnya.

Kenapa harus limbah? “Semua adalah cerita tentang kebiasaan dan semangat untuk berkarya yang sudah lama kami lakukan terus menerus sejak sekolah dasar, yaitu merespons limbah yang kami kumpulkan dari tempat pembuangan sampah sebagai media untuk berkarya,” paparnya.

Melalui inovasinya, Saparo dinobatkan sebagai Juara II pada ajang Indonesia Fashion and Craft (IFCA) 2020. “Di IFCA 2020, kami merespons apa yang sedang terjadi dari dua buah konteks yang berbeda,
namun semangat yang sama. Pertama, yaitu pertempuran lima hari di Semarang tahun 1945 dan
di bangunnya Tugu Muda sebagai pengingatnya. Kedua, kondisi pandemi Covid-19 yang sedang kita
hadapi sekarang ini,” terangnya.

Jemi menjelaskan, semangat yang sama adalah ‘Bahu Membahu Bangkit dan Berjuang’ dengan semangat ‘Gotong Royong’.
“Semangat inilah yang kami aplikasikan, melalui penggabungan dari kain-kain perca dengan berbagi teknik experiment kami sehingga menjadi kesatuaan inovasi baru,” tuturnya.

Dalam proses penciptaan inovasi tersebut, Saparo mengajak dan melatih para warga sekitar di studio
serta menggandeng beberapa artisan brand yang ada di Semarang.
“Jadi, bersama sama saling bahu membahu merespons ide ini, yang kurang lebih dari satu bulan untuk
menyiapkan semuanya bisa tercipta. Semangat gotong royong menjadi kuncinya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Jemi mengemukakan, alasan mengikuti ajang IFCA adalah untuk memvalidasi konsep atau
ide-ide yang sedang dikerjakan dan dikembangkan. Selain itu sebagai ‘batu loncatan’ untuk meraih pengalaman dan network. 
“Pelaksanaan IFCA, seperti proses coaching sangat membantu kami dalam pemahaman banyak hal, di
antaranya ilmu desain, sustainable, dan bisnis,” sebutnya.

Selain pengembangan konsep produk untuk ajang IFCA, Saparo juga berinovasi dengan penggabungan
antara plastik kresek dan kain perca. Pendekatannya adalah art exhibition dengan konteks isu sosial dan human interest. 

“Yang juga sedang kami kembangan adalah membangun kelompok produksi dengan
memberdayakan warga sekitar dalam rangka pengembangan SDM, dengan mengusung kampanye
#conrolyourwaste dan ayoo berkarya dari limbah teman,’’ ungkapnya.

Saparo berharap, pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang probisnis, antara lain membangun
pop up market untuk produk ramah lingkungan baik fesyen maupun kerajinan sehingga memperluas
pasar pelakunya, kemudian lebih banyak lagi program edukasi dan pelatihan tentang tanggung jawab
dan pengolahan limbah, serta mempermudah perizinan dan modal usaha. 
=================

KEMENPERIN USUNG PEMBANGUNAN INDUSTRI BERKELANJUTAN DI HANNOVER MESSE 2021
Kemenperin.go.id. Kementerian Perindustrian sedang mengembangkan sebuah program terkait Smart-Eco Industrial Parks . Hal ini sejalan dengan upaya mewujudkan pembangunan industri yang berkelanjutan dan menerapkan prinsip industri hijau sehingga dapat meningkatkan daya saing.

kompetensimedia

“Smart-Eco Industrial Parks merupakan konsep pengembangan kawasan melalui transformasi digital dalam pengelolaan kawasan industri yang mendorong terciptanya kawasan industri hijau melalui pemanfaatan teknologi digital dan inovasi,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada saat membuka Pra-Konferensi Hannover Mese 2021 di Jakarta, Kamis (8/4).

Dalam pengembangan Smart-Eco Industrial Parks tersebut, menurut Menperin, terdapat beberapa aspek-aspek untuk dilaksanakan, di antaranya adalah smart energy management dan smart water management. “Kedua aspek ini sejalan dengan penerapan prinsip-prinsip industri hijau, yaitu efisiensi sumber daya melalui manajemen energi dan manajemen air,” jelasnya.

Agus menambahkan, langkah strategis tersebut juga sebagai wujud nyata dalam mengimplementasikan
program prioritas yang ada pada peta jalan Making Indonesia 4.0. “Karena menerapkan prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan termasuk pengurangan emisi karbon dan circular economy sebagaimana
kebijakan dunia seperti EU Green Deal serta implementasi kebijakan industry hijau,” imbuhnya.

Menperin pun mengemukakan, hingga saat ini Indonesia memiliki 128 kawasan industri yang sudah beroperasi. “Melalui Pra-Konferensi ini, diharapkan dapat mendorong seluruh kawasan industri di Indonesia untuk menerapkan konsep smart industrial park sehingga tercipta industry yang efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tegasnya.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Doddy Rahadi menuturkan,
untuk mendorong sinergi pembangunan industri yang berdaya saing dan pembangunan berkelanjutan, asas-asas pembangunan industri hijau terus menjadi komitmen dalam pembinaan dan pembangunan industri dalam negeri.

“Hingga saat ini, telah terdapat 28 Standar Industri Hijau (SIH) yang telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Perindustrian. Dalam pelaksanaannya, sampai saat ini telah ada 37 perusahaan industri yang telah memperoleh bantuan fasilitasi sertifikasi industry hijau,” paparnya.

Dalam upaya mengembangkan Sertifikasi Industri Hijau, Menteri Perindustrian telah menunjuk 16
Lembaga Sertifikasi Industri Hijau (LSIH) yang terdiri dari 10 balai di lingkungan Kemenperin dan 6 LSIH dari eksternal Kemenperin (swasta).

“Industri yang telah memiliki Sertifikat Industri Hijau, perlu diusulkan untuk mendapat insentif atas kontribusi dalam penurunan emisi Gas Rumah Kaca GRK,” ungkapnya. Selain itu, perlu juga dilakukan pembinaan terhadap perusahaan-perusahaan industri untuk mendapatkan peningkatan nilai proper sehingga sekurang kurangnya menjadi level biru.

Doddy mengemukakan, industry manufaktur berperan penting dalam mewujudkan ekonomi sirkular, salah satunya adalah peran produsen dalam memproduksi barang yang dapat di daur ulang dan  menggunakan bahan baku daur ulang. “Sektor industri daur ulang diharapkan dapat berkontribusi
dalam mendukung substitusi bahan baku impor,” tandasnya.

Doddy menambahkan, pihaknya terus aktif mendorong pelaku industry di Indonesia untuk bermitra  bersama pemerintah dalam upaya transformasi menuju industri 4.0. Untuk itu, BSKJI bersama 24 satuan kerja layanan teknisnya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia siap mendampingi perusahaan dalam menjalankan transformasi industri 4.0 mulai dari asesmen, konsultansi hingga sertifikasi.

“Dengan adanya perubahan dunia pasca-pandemi Covid-19 ini, kita dapat berperan dalam mendorong
transformasi ekonomi melalui Making Indonesia 4.0, sejalan dengan program Indonesia tumbuh, di mana peran teknologi informasi menjadi sangat penting di samping upaya percepatan perizinan, penyederhanaan birokrasi serta reformasi regulasi,” papar Doddy.

Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri Surabaya, salah satu satker di bawah BSKJI Kemenperin,
mempunyai fokus untuk peningkatan daya saing dan layanan jasa industri di wilayah Jawa Timur, juga
turut menyampaikan kesiapan layanan jasanya dalam mendukung transformasi industri 4.0.

“Sesuai amanat Kepala BSKJI, kami aktif mendukung transformasi industry 4.0 dari tahap asesmen, pendampingan, hingga sertifikasi industri dengan tools INDI 4.0 terkhusus bagi perusahaan industri di
wilayah Jawa Timur dan sekitarnya,” tutur Kepala Baristand Industri Surabaya, Aan Eddy Antana.

Media Kompetensi