Translate this page:

Pedang Kayu Harum

media kompetensi

Kiam-kok-san (Gunung Berlembah Pedang) merupakan sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun Lun San yang tidak pernah dikunjungi manusia seperti puncak-puncak lain dari Kun Lun-san. Bukan karena pemandangan di Kiam-kok-san kurang indah. Sama sekali bukan. Bahkan tamasya alam yang tampak dari puncak gunung ini amat indahnya.
Batu kapur yang mengeras dan mengkilap menjulang tinggi bagai menara bei menembus awan, tak nampak ujungnya seolah-olah bersambung dengan langit. Pantaslah kalau ada yang mengatakan bahwa puncak batu berawan itu adalah tempat kediaman dewa-dewa penjaga gunung.
Awan putih yang berarak bagai domba-domba kapas, yang tak pernah berhenti dihembus angin langit,
menjadi jinak setelah bertemu dengan Kiam-kok-san, berkumpul di sekeliling puncak seperti sehelai selimut bulu domba yang hangat. Dari puncak ini memandang ke bawah tampak awan putih mengambang di bawah kaki, menyusupi lembah-lembah bukit yang amat curam.
Indah, sukar dilukiskan dengan kata-kata keindahan tamasya alam yang dapat dinikmati dari puncak Kiam Kok-san. Betapa taman surga terbentang luas di bawah kaki gunung, suram-suram terselimut tirai halimun menciptakan sifat yang ajaib penuh rahasia.
Bukan karena kurang indah, namun kesukaranlah yang membuat tempat itu tidak pernah dikunjungi
manusia. Sesuai dengan namanya, puncak ini terdiri dari lembah-lembah yang penuh dengan batu gunung yang merupakan karang-karang meruncing dan tajam seperti pedang. Tidak terdapat jalan tertentu mendaki puncak, tidak ada pula jalan setapak bekas kaki manusia. Semuanya liar, lebat dan bahaya maut mengintai setiap saat bagi manusia yang berani mendatangi tempat itu.
Jurang-jurang yang amat curam, belukar tempat persembunyian binatang-binatang buas, rumput-rumput
hijau yang menjadi topeng bagi muara-muara dalam penuh lumpur dan ular berbisa, serta bahaya tersesat jalan. Jangankan orang biasa, bahkan mereka yang sudah memiliki ilmu kepandaian seperti para pertapa dan para pendekar masih akan berpikir masak-masak lebih dahulu untuk mendaki puncak berbahaya seperti Kiam-kok-san.
Pagi hari itu amatlah cerah. Halimun tidak setebal biasanya dan karenanya sinar matahari pagi dapat
menerobos di antara celah-celah daun pohon dan batu pedang, lalu mengusir halimun serta menerangi
tanah puncak yang penuh lumut dan rumput hijau. Tak terkira indahnya puncak Kiam-kok-san yang
bermandi cahaya keemasan matahari pagi itu, sunyi dan hening, aman tenteram.
Seperti itulah agaknya sorga sering kali disebut-sebut oleh para pendeta yang dijanjikan sebagai anugerah tempat tinggal bagi para manusia yang di dalam hidupnya menjauhkan diri dari pada segala kemaksiatan dan kejahatan.
Pada saat sinar matahari mencapai kaki batu hitam mengkilap yang ujungnya berselimut awan langit,
tampaklah seorang kakek tua renta duduk bersila di atas batu halus. Kakek ini sudah sangat tua, terbukti
dari kulit wajahnya yang dipenuhi keriput, dagingnya yang sudah tipis hingga tulang-tulangnya menonjol di balik kulit, rambutnya yang putih semua terurai panjang sampai ke punggung dan sebagian menutupi kedua pundaknya. Apa bila ditaksir, usia kakek ini tentu tidak kurang dari seratus tahun.
Pakaiannya yang sederhana hanya merupakan kain putih yang sudah agak menguning dibalut-balutkan ke tubuhnya, kakinya telanjang seperti kepalanya. Dia duduk bersila di bawah batu pedang yang tinggi itu dengan sepasang kaki dan kedua lengan menyilang, duduk tak bergerak-gerak dengan kedua mata
dipejamkan.
Dilihat dari jauh, dia seperti telah membatu, lebih menyerupai sebuah arca batu dari pada seorang manusia hidup. Namun sebenarnya dia bukanlah arca, karena bila diperhatikan, tampak betapa dada di balik kain putih itu bergerak perlahan seirama dengan pernapasan kakek itu yang halus dan panjang.

halaman 2
Di atas tanah, di depan kaki yang bersilang dengan bentuk teratai (kedua telapak kaki terlentang di atas
paha), terdapat sebatang pedang telanjang yang mengeluarkan sinar kehijauan sesudah tertimpa cahaya
matahari. Sebatang pedang yang indah bentuknya, namun amat aneh karena berbeda dari pada pedangpedang umumnya yang terbuat dari baja-baja pilihan, pedang yang terletak di depan kakek itu adalah sebatang pedang kayu!
Perlahan-lahan sekali, sedikit demi sedikit, sinar matahari seakan memandikan wajah tua keriputan itu. Di bawah sinar keemasan sang surya, wajah itu tampak sangat elok dan tak dapat diragukan pula bahwa
kakek ini dahulu tentunya seorang pria yang amat tampan. Bentuk dan raut wajahnya masih jelas
membayangkan ketampanan seorang pria.
Kehangatan sinar matahari yang sedap nyaman itu menyadarkannya dari semedhi. Dia membuka kedua
matanya dan orang akan heran kalau melihat sinar matanya. Orangnya jelas sudah amat tua, namun
sepasang matanya bening seperti mata seorang anak kecil yang masih bersih batinnya! Bagi seorang ahli kesaktian, hal ini saja sudah menjadi bukti bahwa kakek ini telah mencapai tingkat ilmu yang amat tinggi, karena hanya orang yang memiliki sinkang (hawa sakti) yang amat kuat saja yang bisa mempunyai sepasang mata seperti itu.

Dengan pandang mata penuh kagum kakek itu memandang ke depan, lalu ke kanan kiri, dengan sinar
matanya seolah-olah dia menyantap dan menikmati segala keindahan yang diciptakan oleh sinar keemasan sang surya itu. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dan bibirnya bergerak-gerak, mengeluarkan katakata lirih.
"Ya Tuhan Yang Maha Kasih! Sampai sedemikian besarkah kasihMu terhadap seorang penuh dosa seperti aku? Berhakkah aku menikmati semua ini? Aaaahhh, tidak mungkin! Thian (Tuhan) hanya melimpahkan ganjaran kepada orang yang sudah berjasa di dalam hidupnya. Guruku dahulu mengatakan dalam
pesannya bahwa aku harus berbuat jasa terhadap manusia dan dunia. Apakah jasaku selama aku hidup?
Tidak ada! Hanya mala petaka yang menjadi akibat dari semua perbuatanku! Dan semua itu karena aku
pandai ilmu silat, karena... karena Siang-bhok-kiam (pedang Kayu Harum) ini! Aaahhh, Tuhanku! Aku tidak akan mengelak dari pada kenyataan. Aku rela dan siap sedia untuk menerima hukuman-hukumannya. Tidak mungkin aku membebaskan diri dari pada belenggu karma. Aku tidak berhak menikmati kemurahan dan kasihMu, ya Tuhan...!"
Kata-kata terakhir kakek itu bercampur isak tertahan dan dia lalu memejamkan kembali kedua matanya
seolah-olah dia tak mengijinkan matanya memandangi segala keindahan yang terbentang luas di depannya.

Keadaan menjadi sunyi kembali. Sunyi sama sekali?
Tidak! Terdengar kicau burung pagi, riak air di belakang batu pedang, dan desau angin menghembus lewat mempermainkan daun-daun pohon. Paduan suara ini seakan-akan mengejek kakek itu, seolah-olah menertawakan kebodohan dan kebutaan manusia.
Tuhan Maha Kasih tidak membeda-bedakan. Siapa pun dia yang bersedia, pasti akan menerima uluran
kasihNya, seperti cahaya matahari pagi yang tidak memilih-milih siapa yang akan disinarinya. Kasih sayang Tuhan merata, tanpa perbedaan, tidak dikotori dosa manusia, besar kecilnya kasih yang dilimpahkan tergantung dari pada rasa penerimaan si manusia sendiri!
Tiba-tiba terjadi perubahan pada paduan suara itu. Kicau burung yang tadinya merdu, kini berubah
cecowetan penuh kejut dan takut, tanda bahwa terjadi sesuatu yang tak wajar di tempat itu. Kemudian
muncullah bayangan orang-orang yang berkelebat cepat. Gerakan mereka tangkas bagaikan burungburung raksasa dan dalam sekejap mata saja sembilan orang telah membentuk lingkaran kipas di hadapan kakek yang bersemedhi dalam jarak kurang lebih sepuluh meter.
Kenyataan bahwa sembilan orang ini dapat mendaki puncak, ditambah dengan gerakan mereka tadi, tentu saja mereka ini bukanlah orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Ketika mereka berlompatan di depan kakek itu, kaki mereka tidak menimbulkan suara seperti kaki burung hinggap di atas dahan.
Mereka berdiri tak bergerak, akan tetapi dalam keadaan siap siaga, memasang kuda-kuda dengan gaya
masing-masing, seluruh urat saraf menegang, pandang mata ditujukan ke arah kakek dan pedang yang
tergeletak di depannya. Pandang mata yang menyapu wajah kakek itu mengandung benci yang mendalam,

halaman 3
ada pun ketika pandang mata menyapu pedang, kebencian berubah menjadi rasa kepingin yang tak
disembunyikan.
Meski kedatangan sembilan orang sakti itu hanya ditandai dengan perubahan pada kicau burung, ternyata sudah diketahui oleh kakek tua renta yang sedang duduk bersemedhi. Dia membuka kedua matanya dan menyapu dengan pandang matanya ke arah sembilan orang yang berdiri mengurungnya dalam bentuk lingkaran kipas. Mulutnya tersenyum, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa heran seolah-olah kedatangan mereka itu memang telah diduganya.

Ada pun sembilan orang itu pada saat bertemu pandang sedetik dengan sapuan matanya, langsung
menjadi terkejut dan bergidik. Mereka temukan pandang mata itu saja cukup memperingatkan mereka
bahwa kakek yang mereka kunjungi ini makin tua makin ampuh kesaktiannya.
"Sie Cun Hong...! Aku datang untuk menerima pedangmu sebagai pengganti nyawamu yang semestinya
kukirim ke neraka agar dendam hatiku terhadapmu lunas!"
Kakek itu menoleh ke kanan karena yang berbicara ini adalah orang yang berdiri paling kanan dalam
lingkaran kipas itu. Bibirnya tersenyum lebar memperlihatkan mulut ompong tak bergigi lagi, seperti senyum seorang bayi yang belum bergigi.

Wanita yang menyebut namanya yang sudah bertahun-tahun tak pernah didengarnya itu adalah seorang
nenek yang usianya paling sedikit sudah tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah hampir putih semuanya,
digelung kecil ke atas dengan tusuk konde perak.
Wajahnya masih belum kehilangan raut dan bentuk yang manis, hanya mulut yang tentu dahulunya amat indah manis itu kini agak ‘nyamprut’ karena tidak bergigi lagi. Tubuhnya yang dahulunya pasti tinggi semampai itu kini agak membongkok dan kurus. Pakaiannya sederhana dan berwarna hijau. Dari depan, tampak gagang pedang tersembul dari balik pundak kanannya.

"Heiii, bukankah engkau Lu Sian Cu? Ahh, tubuhmu mungkin sudah menjadi tua, namun semangatmu
benar-benar masih muda, Sian Cu! Engkau mendendam kepadaku dan kini menghendaki pedang Siangbhok-kiam sebagai pengganti jiwaku? Eh, dalam hal apakah engkau mendendam kepadaku?"
"Keparat tua bangka! Jangan kau kira akan dapat mendesakku dengan pertanyaan untuk membikin aku
malu. Aku sudah tua, dan semua yang hadir itu adalah tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, tidak perlu
malu aku mengaku! Puluhan tahun yang lalu engkau telah mempergunakan kepandaianmu menggagahi
dan memperkosaku. Dendamku kepadamu setinggi langit!"
Kakek itu tertawa, kemudian mengangguk-angguk. "Benar, betapa cepatnya sang waktu meluncur. Pada
waktu itu engkau baru berusia kurang dari tiga puluh tahun, dan engkau terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang selain lihai juga amat cantik dan terutama sekali amat angkuh sehingga engkau menolak semua pinangan pria, membuatmu masih perawan dalam usia hampir tiga puluh. Aku pun ketika itu masih muda, belum lima puluh tahun. Aku tergila-gila kepadamu, menggunakan kepandaian memasuki kamarmu dan memperkosamu. Akan tetapi, heh,Lu Sian Cu! Lupakah engkau betapa engkau kemudian menerimaku dengan penuh kehangatan, betapa engkau menangis dan merengek-rengek ketika hendak kutinggalkan?

Lupakah engkau betapa engkau sama sekali tidak menaruh dendam atas perbuatanku yang juga
menyenangkan hatimu itu? Mengapa kini engkau membalik dan memutar lidah?"
"Cih, laki-laki tak berjantung! Setelah perbuatan kejimu itu, bagaimana aku masih dapat menerima pria lain?
Aku telah menyerahkan raga dan jiwa, akan tetapi engkau menolak dan meninggalkanku pergi! Engkau
sudah mempermainkan cintaku. Seharusnya engkau menjadi suamiku, akan tetapi engkau bahkan
mengejek dan minggat. Keparat, dendamku sedalam lautan setinggi langit!"
"Ha-ha-ha, engkau mau menang sendiri, Sian Cu. Dahulu pun kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang
yang selalu ingin bebas, bebas dari golongan, bebas dari segala ikatan termasuk ikatan rumah tangga!
Memang aku telah berbuat jahat, memperkosamu, namun kita berdua, engkau dan aku, telah menikmatinya bersama dan hal yang menyenangkan orang lain mana bisa kau sebut sebagai hal yang menyakitkan hati orang itu?"
"Sie Cun Hong! Tidak perlu banyak cakap lagi. Serahkan pedangmu itu atau serahkan nyawamu!" Sambil berseru demikian, nenek itu kemudian mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan.

halaman 4
Senjata ini berupa cambuk warna hitam, akan tetapi bukan sembarang cambuk karena pada ujungnya
terpecah menjadi sembilan dan di setiap ujung diberi baja pengait seperti mata kail. Inilah senjata cambuk sembilan ekor yang sudah membuat nama nenek ini tersohor di dunia kang-ouw, karena jarang ada lawan yang dapat bertahan menghadapi senjatanya yang istimewa itu.

Dan senjata itu pulalah yang membuat nenek ini dijuluki Kiu-bwe Toanio (Nyonya Besar Berekor Sembilan), sebuah nama besar yang ditakuti para penjahat, seorang pendekar wanita tua yang ganas dan keras hati terhadap penjahat. Telah puluhan tahun lamanya ia dikenal sebagai Kiu-bwe Toanio dan baru sekarang tokoh-tokoh lain yang hadir di sana mendengar namanya disebut oleh kakek itu, yaitu Lu Sian Cu! "Tar-tar-tar...!" Cambuk hitam itu melecut-lecut di udara dan mengeluarkan suara nyaring meledak-ledak.

"Sie Cun Hong! Apakah engkau masih membandel dan tetap tidak mau menyerahkan pedangmu?"
"Ha-ha-ha, engkau masih bersemangat dan galak. Tubuhku sudah tua, semangatku pun sudah melempem, apa bila kau hendak menolongku bebas dari tubuh tua dan dunia ini, nah, lakukanlah, Lu Sian Cu!"
Nenek itu mengeluarkan suara teriakan melengking panjang, lengking yang memekakkan telinga, yang
mengandung rasa duka, kecewa, menyesal dan benci karena cinta ditolak. Cambuknya menyambar ke
depan sehingga tiga buah di antara sembilan ekor itu sudah meluncur ke arah sepasang mata dan ubunubun
kepala kakek itu masih duduk bersila, kini tangan kirinya diangkat, jari-jari tangannya bergerak
menyentil tiga kali.
"Tring-tring-tringgg...!"
"Aiiihhh...!" Kiu-bwe Toania menjerit dan hampir saja ia melepaskan cambuknya karena tiga buah ekor
cambuk yang terkena sentilan kuku jari tangan kakek itu secara mendadak membalik dan menerjangnya
pada tiga buah tempat, yaitu ke arah buah dada dan pusar.

Selain ini, juga senjata itu keras sekali, membuat telapak tangannya yang memegang gagang cambuk
terasa panas dan pedas. Dengan loncatan ke belakang sambil memutar cambuknya, nenek ini berhasil
menyelamatkan diri. Wajahnya menjadi merah sekali dan ia memaki sambil menudingkan cambuknya.
"Sie Cun Hong, dasar engkau tua-tua keladi makin tua makin... cabul!"
Kakek itu hanya tertawa-tawa saja, akan tetapi ketawanya berhenti ketika dari sebelah kiri terdengar suara yang menggetar penuh tenaga. "Omitohud...!"

Pada saat melihat bahwa yang kini maju adalah dua orang hwesio gundul yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, kakek itu memandang dengan sikap tenang tetapi penuh pertanyaan karena sesungguhnya dia tidak mengenal dua orang pendeta ini.
"Locianpwe betul-betul telah membuktikan betapa julukan Sin-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Sakti) adalah tepat karena tangan Locianpwe benar sakti!" kata seorang di antara dua orang pendeta yang alisnya putih dan tubuhnya kecil kurus.

Hwesio ke dua yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar hanya merangkap kedua tangan di depan
dada sambil berulang-ulang memuji, "Omitohud...!”
Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong masih duduk bersila dan kini dia pun merangkap kedua telapak tangan di depan dada sebagai pemberian hormat. Menghadapi dua orang pendeta yang begitu lemah lembut, yang bersikap merendahkan diri sehingga mau menyebutnya locianpwe sebagai sebutan terhadap golongan tua tingkat atas, dia menjadi waspada dan hati-hati. Orang yang sombong takabur tidak perlu dikhawatirkan atau ditakuti, akan tetapi terhadap orang-orang yang lemah-lembut dan sikapnya halus, haruslah hati-hati karena orang-orang yang kelihatannya lemah sesungguhnya merupakan lawan yang berat.
"Ahh, berat sekali menerima pujian ji-wi (tuan berdua) yang sesungguhnya kosong penuh angin. Aku yang tua menjadi sadar akan usiaku yang sudah terlalu tua, karena biasanya kedatangan para hwesio seperti jiwi adalah untuk menyembahyangi orang yang sudah mau mati atau orang yang sudah mati agar nyawanya dapat diterima di tempat yang baik. Siapakah gerangan ji-wi dan apa maksud kehadiran ji-wi ini di Kiam-koksan?"

halaman 4
Senjata ini berupa cambuk warna hitam, akan tetapi bukan sembarang cambuk karena pada ujungnya
terpecah menjadi sembilan dan di setiap ujung diberi baja pengait seperti mata kail. Inilah senjata cambuk sembilan ekor yang sudah membuat nama nenek ini tersohor di dunia kang-ouw, karena jarang ada lawan yang dapat bertahan menghadapi senjatanya yang istimewa itu.

Dan senjata itu pulalah yang membuat nenek ini dijuluki Kiu-bwe Toanio (Nyonya Besar Berekor Sembilan), sebuah nama besar yang ditakuti para penjahat, seorang pendekar wanita tua yang ganas dan keras hati terhadap penjahat. Telah puluhan tahun lamanya ia dikenal sebagai Kiu-bwe Toanio dan baru sekarang tokoh-tokoh lain yang hadir di sana mendengar namanya disebut oleh kakek itu, yaitu Lu Sian Cu!

"Tar-tar-tar...!" Cambuk hitam itu melecut-lecut di udara dan mengeluarkan suara nyaring meledak-ledak. "Sie Cun Hong! Apakah engkau masih membandel dan tetap tidak mau menyerahkan pedangmu?"

"Ha-ha-ha, engkau masih bersemangat dan galak. Tubuhku sudah tua, semangatku pun sudah melempem,
apa bila kau hendak menolongku bebas dari tubuh tua dan dunia ini, nah, lakukanlah, Lu Sian Cu!"

Nenek itu mengeluarkan suara teriakan melengking panjang, lengking yang memekakkan telinga, yang
mengandung rasa duka, kecewa, menyesal dan benci karena cinta ditolak. Cambuknya menyambar ke
depan sehingga tiga buah di antara sembilan ekor itu sudah meluncur ke arah sepasang mata dan ubunubun kepala kakek itu masih duduk bersila, kini tangan kirinya diangkat, jari-jari tangannya bergerak menyentil tiga kali.

"Tring-tring-tringgg...!"

"Aiiihhh...!" Kiu-bwe Toania menjerit dan hampir saja ia melepaskan cambuknya karena tiga buah ekor cambuk yang terkena sentilan kuku jari tangan kakek itu secara mendadak membalik dan menerjangnya pada tiga buah tempat, yaitu ke arah buah dada dan pusar.

Selain ini, juga senjata itu keras sekali, membuat telapak tangannya yang memegang gagang cambuk
terasa panas dan pedas. Dengan loncatan ke belakang sambil memutar cambuknya, nenek ini berhasil
menyelamatkan diri. Wajahnya menjadi merah sekali dan ia memaki sambil menudingkan cambuknya.

"Sie Cun Hong, dasar engkau tua-tua keladi makin tua makin... cabul!"

Kakek itu hanya tertawa-tawa saja, akan tetapi ketawanya berhenti ketika dari sebelah kiri terdengar suara yang menggetar penuh tenaga. "Omitohud...!"

Pada saat melihat bahwa yang kini maju adalah dua orang hwesio gundul yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, kakek itu memandang dengan sikap tenang tetapi penuh pertanyaan karena sesungguhnya dia tidak mengenal dua orang pendeta ini.

"Locianpwe betul-betul telah membuktikan betapa julukan Sin-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Sakti) adalah tepat karena tangan Locianpwe benar sakti!" kata seorang di antara dua orang pendeta yang alisnya putih dan tubuhnya kecil kurus.

Hwesio ke dua yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar hanya merangkap kedua tangan di depan dada sambil berulang-ulang memuji, "Omitohud...!”

Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong masih duduk bersila dan kini dia pun merangkap kedua telapak tangan di depan dada sebagai pemberian hormat. Menghadapi dua orang pendeta yang begitu lemah lembut, yang bersikap merendahkan diri sehingga mau menyebutnya locianpwe sebagai sebutan terhadap golongan tua tingkat atas, dia menjadi waspada dan hati-hati. Orang yang sombong takabur tidak perlu dikhawatirkan atau ditakuti, akan tetapi terhadap orang-orang yang lemah-lembut dan sikapnya halus, haruslah hati-hati karena orang-orang yang kelihatannya lemah sesungguhnya merupakan lawan yang berat.

"Ahh, berat sekali menerima pujian ji-wi (tuan berdua) yang sesungguhnya kosong penuh angin. Aku yang tua menjadi sadar akan usiaku yang sudah terlalu tua, karena biasanya kedatangan para hwesio seperti jiwi adalah untuk menyembahyangi orang yang sudah mau mati atau orang yang sudah mati agar nyawanya dapat diterima di tempat yang baik. Siapakah gerangan ji-wi dan apa maksud kehadiran ji-wi ini di Kiam-koksan?"

halaman 5
"Omitohud...! Kami berdua hanyalah hwesio-hwesio kecil tak berarti yang menjadi utusan Siauw-lim-pai untuk menemui Locianpwe."

"Ah, kiranya dari perguruan tinggi Siauw-lim-pai...! Sungguh merupakan kehormatan yang besar sekali!" Kakek itu berkata tercengang.

"Pinceng Thian Ti Hwesio dan dia ini adalah Sute (adik seperguruan) Thian Kek Hwesio, mewakili suhu yang menjadi ketua Siauw-lim-pai untuk mohon kepada Locianpwe supaya suka menyerahkan Siang-bhokkiam kepada kami. Suhu mohon agar Locianpwe ingat betapa Siauw-lim-pai telah bersikap sabar dan tidak menuntut ketika Locianpwe pada tiga puluh tahun yang lalu mencuri kitab-kitab Seng-to Ci-keng (Kitab Perjalanan Bintang) dan I-kiong Hoan-hiat (Kitab Pelajaran Memindahkan Jalan Darah). Mengingat akan itu suhu pecaya bahwa Locianpwe kini dalam saat terakhir akan membalas kebaikan Siauw-lim-pai dan menyerahkan Siang-bhok-kiam supaya semua ilmu yang tersimpan di dalamnya tidak akan terjatuh ke tangan yang sesat dan dipergunakan untuk mengacau dunia!"

"Aha, ternyata ji-wi adalah murid-murid Tiong Pek Hosiang? Kalau begitu ji-wi merupakan tokoh-tokoh tingkat dua dari Siauw-lim-pai! Kehormatan besar sekali bagiku. Guru ji-wi memang sejak dahulu halus dan sopan santun, namun cerdik sekali. Memang aku telah mengambil dua buah kitab yang ji-wi maksudkan, dan hal itu kulakukan karena Tiong Pek Hosiang terlalu pelit untuk meminjamkannya kepadaku. Siauw-limpai agaknya telah lupa bahwa pada waktu mendiang Tat Mo Couwsu yang bijaksana menyalin dan memperbaiki kitab-kitab dari barat, adalah dengan maksud agar kitab-kitab itu dapat dipelajari semua manusia hingga umat manusia dapat menjadi kuat lahir batinnya. Akan tetapi oleh pihak Siauw-lim-pai ilmuilmu itu dipendam dan disembunyikan, hanya sebagian dari ilmu-ilmu yang dimiliki oleh guru lalu diturunkan kepada murid-murid. Dengan demikian, bukankah ilmu-ilmu itu semakin lama semakin berkurang dan menjadi rendah nilainya? Walau pun dua buah kitabnya kuambil, namun Siauw-lim-pai telah memiliki ilmunya. Kitabnya hanya merupakan catatan saja, dengan pindahnya kitab ke tanganku, Siauw-lim-pai sebenarnya tidak kehilangan apa-apa. Ilmu kepandaian dapat dibagi-bagikan sampai kepada selaksa orang manusia tanpa mengurangi sumbernya. Mengapa begitu pelit dan ji-wi menuntut tentang dua buah kitab pelajaran? Tidak, aku tidak dapat memberikan Siang-bhok-kiam, kecuali kepada dia yang berjodoh."

"Omitohud!" Hwesio tinggi besar Thian kek Hwesio melangkah maju sambil membentak keras.

Sekarang hwesio itu membelalakkan matanya memandang Sin-jiu Kiam-ong, dan ternyata kedua matanya lebar sekali. Wajahnya membayangkan kekasaran dan kejujuran seperti wajah Thio Hwie, tokoh pahlawan dalam cerita Sam Kok.

"Locianpwe agaknya menghendaki kami pun menggunakan cara Locianpwe sendiri. Tidak boleh meminjam kitab-kitab lalu mempergunakan kepandaian mendapatkan kitab-kitab itu. Kini kami minta baik-baik tidak Locianpwe berikan, apakah berarti bahwa kami juga harus menggunakan kepandaian untuk mendapatkan pedang Siang-bhok-kiam itu?"

Sin-jiu Kiam-ong memandang hwesio itu sambil tersenyum, pandang matanya bersinar gembira. Orang
yang keras dan jujur selalu mendapatkan rasa suka di hatinya, karena orang yang demikian itu lebih mudah dihadapi. Ia mengangguk dan menjawab,

"Kalau seperti itu wawasanmu, maka benarlah demikian agaknya."

"Hemm, bagus! Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebagai ahli pedang ahli lweekang, tapi pinceng sedikit-sedikit juga telah berlatih selama puluhan tahun!" Setelah berkata demikian, Thian Kek Hwesio membalikkan badannya dan dengan gerakan kokoh kuat, lengan kanannya yang besar itu lalu mendorong dengan pukulan ke depan, ke arah sebatang pohon yang jaraknya ada tiga meter dari tempat dia berdiri.

Sambaran angin pukulan yang dahsyat membuat batang pohon tergetar, daun-daunnya seperti dilanda
angin topan, dan berhamburanlah daun-daun yang rontok ke atas tanah seperti hujan! Andai kata manusia diserang dengan pukulan jarak jauh seperti ini, pastilah tulang-tulangnya akan remuk, dan rontok isi dadanya!

Namun Sin-jiu Kiam-ong tersenyum lebar menyambut demonstrasi tenaga sinkang yang mencapai tingkat tinggi itu. "Ha-ha-ha! Membangun itu amat sukar, tapi merusak amatlah mudahnya. Memang manusia adalah perusak terbesar di antara segala makhluk! Thian Kek Hwesio, untuk merusak dan merobohkan pohon itu sampai ke akar-akarnya adalah hal yang mampu dilakukan semua orang, akan tetapi dapatkah

halaman 6
engkau membuat sehelai daun saja? Hemm, biarlah kucoba mengembalikan daun-daun itu ke tempatnya, sungguh pun tak mungkin dapat kembali seperti asalnya karena kekuasaan itu hanya dimiliki oleh Thian!"
Sin-jiu Kiam-ong yang masih duduk bersila itu menggerakkan kedua tangannya ke depan, ke arah daundaun yang jatuh berhamburan ke atas tanah tadi dan... bagaikan ada angin puyuh, secara tiba-tiba semua daun itu bergerak, berputar-putar dan terbang naik ke atas pohon kemudian menempel sejadinya pada cabang-cabang dan ranting-ranting, ada yang gagangnya menancap, ada yang melekat pada batang
pohon, akan tetapi tidak ada yang rontok lagi ke bawah!

Melihat ini, Thian Kek Hwesio, menjadi agak pucat wajahnya dan maklumlah dia bahwa tingkat kekuatan sinkang kakek tua renta itu jauh lebih tinggi dari padanya. Ia melangkah mundur sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada dan menggumam,
"Omitohud...!"
"Maaf, sute-ku dan pinceng melupakan kebodohan sendiri!" kata Thian Ti Hwesio dan si hwesio kurus ini sekarang menggerakkan kedua tangan ke depan, ke arah pedang kayu yang tergeletak di depan kaki Sin-jiu Kiam-ong dan... pedang itu tiba-tiba melayang naik seperti tersedot besi sembrani lalu terbang ke arah kedua tangan tokoh Siauw-lim-pai itu.

Semua tokoh yang berada di situ tahu belaka bahwa kekuatan sinkang hwesio alis putih ini jauh lebih tinggi dari pada kekuatan sute-nya. Sin-jiu Kiam-ong bahkan mengeluarkan suara memuji,
"Bagus! Siang-bhok-kiam, sebelum kuijinkan, kau tidak boleh berganti majikan. Sekarang kembalilah!"
Dia menggapaikan tangan kirinya dan... pedang kayu yang sudah terbang ke arah kedua tangan Thian Ti
Hwesio itu tiba-tiba berputaran lalu membalik, melayang ke arah Sin-jiu Kiam-ong!
Thian Ti Hwesio menjadi penasaran sekali. Dia segera menambah kekuatan pada kedua lengannya,
bahkan tubuhnya agak merendah ketika dia menggerakkan kedua tangan ke arah pedang. Siang-bhok-kiam kembali berputaran di udara seolah-olah bimbang hendak terbang kemana, akan tetapi akhirnya terbang kembali ke Sin-jiu Kiam-ong dan jatuh ke depan kakek itu di tempatnya yang tadi.
Thian Ti Hwesio mengusap peluh pada keningnya, lalu menjura sambil merangkap kedua tangan di depan dada.
"Sin-jiu Kiam-ong makin tua semakin gagah, tepat seperti apa yang sudah diperingatkan suhu kami.
Siancai...siancai...!"
"Thian Ti Hwesio terlalu memuji," kata Sin-jiu Kiam-ong.
"Orang she Sie! Kalau lain orang menghormatimu, aku Sin-to Gi-hiap tidak! Aku sudah mengenal isi
perutmu! Aku adalah seorang dari golongan pendekar, termasuk kaum benar dan bersih, bagaimana aku
dapat berdiri sederajat dengan engkau seorang tokoh sesat dan kotor? Aku bilang bukan untuk minta-minta diberi Siang-bhok-kiam, melainkan untuk memenggal kepalamu dan merampas pedangmu!"
Sin-jiu Kiam-ong memandang orang yang berbicara dengan suara keras itu. Dia adalah seorang kakek
berusia tujuh puluh tahun lebih, namun tubuhnya masih berdiri tegak dan tegap, wajahnya membayangkan kegagahan dan ketampanan. Sebatang golok telanjang mengeluarkan cahaya berkeredepan berada di tangan kanannya, pakaiannya ringkas dan sederhana, berwarna kuning bersih.
"Ehhh, kiranya Sin-to Gi-hiap (Pendekar Budiman Bergolok Sakti) yang datang? Bagiku, tidak ada
permusuhan dengan seorang pendekar budiman seperti engkau. Kenapa engkau datang-datang memaki
orang?"
"Lidah ular! Isteriku telah meninggal dunia, namun dendamnya dan dendamku kepadamu tidak akan lenyap sebelum golokku berhasil memenggal lehermu! Biarlah disaksikan oleh para orang gagah di sini yang mendengarkan pengakuanku, karena aku bukan seorang pengecut. Pada lima puluh tahun yang lalu, dengan kepandaianmu merayu engkau sudah mengganggu isteriku dan memaksanya melakukan hubungan perjinahan denganmu. Lima puluh tahun yang lalu memang aku kalah terhadapmu, akan tetapi sekarang coba-coba kita buktikan! Bangkitlah dan lawan golokku!"


Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
E-book : dunia-kangouw.blogspot.com
hak cipta dimiliki oleh author masing-masing. www.kompetensimedia.com hanya membantu membudayakan gemar membaca. Menciptakan kemampuan kompetensi literasi