Translate this page:

Seputar dan Kisah Daerah


Indonesia, Asia
kompetensimedia

KALIMANTAN

Gerbang Toll Dimensi Waktu
Peta Zaman Belanda bertajuk “Kaart van de Kust-en Binnenlanden van Banjermassing behoorende tot de Reize in het zuidelijke gedeelte van Borneo” oleh naturalis asal Jerman, Salomon Muller pada tahun 1845. Muller adalah anggota des Genootschaps en Natuurkundige Komissie in Nederlands Indie atau Dinas Kehutanan Hindia Belanda. Menulis sebuah kawasan yang bernama Tandjong Sarandjana, secara administratif pada masa sekarang d kawasan tersebut berada di wilayah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Indonesia.

Kepercayaan masyarakat
Kepercayaan masyarakat lokal, kawasan atau kota gaib itu hanya bisa didatangi oleh orang-orang pintar yang paham dengan ilmu hikmah atau gaib. Karena mencarinya di peta modern Indonesia maka kota tersebut tidak ada. Meski banyak tulisan yang menceritakan kota tersebut walau tidak tercantum dalam peta modern. Kota tersebut dinamakan Kota Saranjaya diyakini terletak di bagian selatan pulau tepatnya di Desa Oka-Oka, Kecamatan Pulau Laut, Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Sejarah Kotabaru 
Pada masa sebelum masuknya agama Islam, suku Dayak yang mendiami Kotabaru masih menganut kepercayaan animisme, mereka hidup berkelompok. Diperkirakan keberadaan Kota Saranjana di wilayah dari suku Dayak Samihim, sebelum 1660. Berdasarkan catatan sejarawan Goh Yoon Fong yang menyatakan Pulau Laut menjadi hadiah atau tanah apanage. Hadiah ini diberikan oleh Kesultanan Banjar kepada Pangeran Purabaya sebagai penghormatan dan imbalan perdamaian. Sebelumnya, bangsawan Banjar telah mengangkat Raden Bagus menjadi Sultan Banjar yang memerintah dari 1660 hingga 1663. 
Secara terminologi, jika dengan kosa kata India yaitu saranjana berarti tanah yang diberikan.

Catatan Budaya
Sumber lisan lewat nyanyian Orang Maanyan bahwa kerajaan mereka yaitu Nan Sarunai
Orang Maanyan terusir dan mengungsi ke sejumlah tempat di Kalimantan, termasuk orang Dayak Samihim yang tinggal di beberapa tempat di antaranya Pulau Laut atau wilayah yan diperkirakan lokasi kota Saranjaya.
Secara historis, ada lagu masyarakat Dayak Maanyan diyakini memiliki keterkaitan  dengan  suatu  peristiwa  yang  dialami  oleh  suku  Dayak  Maanyan  pada  zaman dulu.  Lagu tinga  janyawai bersentuhan  dengan  cerita  rakyat,  yaitu  perpisahan  orang Nansarunai  di  tepian  sungai  Tabalong. Lagu  Laisomena merupakan lagu yang berisikan nyanyian menceritakan   kesedihan   karena   ditinggal   oleh   cucunya   yang bernama Laisomena.  Mungkin  telah  menjadi  janjinya  untuk  pergi  merantau  sehingga  neneknya tidak mengetahui  kemana  arah  dan  tujuan.
Bait   ketujuh  lagu  Tinga   janyawai  dengan Pendekatan Hermeneutika berisi   ungkapan   berkenaan   dengan   peran   serta dari   seluruh masyarakat  dalam  memperbaiki  kualitas  kehidupannya.  Namun  semuanya  diserahkan kepada individu masing-masing, meskipun kalau masih ada yang berkekurangan bukanlah kehendak hatinya. Karena kita sudah berusaha.
Catatan budaya ini memberikan hipotesa. Umumnya masyarakat dahulu menamakan sesuatu, keturunan (anak) atau wilayah akan didasari oleh sejarah dan akan memiliki kemiripan penamaan. Jika naturalis Jerman mencatumkan wilayah Tandjong Sarandjana tentu dengan info masyarakat daerah tersebut, karena tidak ada kosa kata yang mendekati bahasa Jerman. Memperkirakan dasar nama orang Nansarunai  atau Kerajaan Nan Sarunai. 
Kajian: Saranjaya/ Tandjong Sarandjana suku kata Saran tidak jauh dengan Saruna dari kata Sarunai. Suku kata Jaya mungkin sama maknanya seperti saat ini jaya bermakna menang/lebih baik/maju seperti harapan dalam lagu Tinga   janyawai   memperbaiki  kualitas  kehidupannya.


Info Saat Ini
Dikutip dari kanal YouTube @YouTube @Zona Project Channel nama sebenarnya adalah Pua Bela. 
Pua Bela mengaku awal dirinya bisa keluar masuk kota Saranjaya, lantaran sering dibawa sang paman. 
"Setelah meninggal baru saya dikasih itu anunya (wasiat),"ujar dikutip Jurnal Palopo dari YouTube @YouTube @Zona Project Channel.  Dia mengaku sudah lama bersama dengan penghuni Kota Saranjana. Lewat penuturan Pua Bela diketahui, jika penduduk Saranjana miliki agama. 
"Ada yang islam ada yang tidak, suku disana banyak. Campuran Jawa, Mandar, Bugis pokoknya banyak,"terang Pua Bela. Umumnya bekerja di laut (sebaga nelayan?)

Kajian: ada catatan historis sejarah Kotabaru berdasarkan catatan sejarawan Goh Yoon Fong yang menyatakan Pulau Laut (sekitar wilayah perkiraan kota Saranjaya) menjadi hadiah atau tanah apanage. Hadiah ini diberikan oleh Kesultanan Banjar kepada Pangeran Purabaya sebagai penghormatan dan imbalan perdamaian. Pangeran Purbaya dari Mataram atau jawa. Sehingga kemungkinan penduduk kota Saranjaya juga berasal dari pengikut Pangeran Purbaya. Jika Pua Bela menuturkan masyarakat Kota Saranjaya campuran Jawa, Mandar dan Bugis.

Konsep kebebasan dari siklus reinkarnasi
Istilah moksa sering disebut dalam kepercayaan Hindu dan Buddha. Konsep ini secara sederhana memiliki artian melepaskan diri dari segala ikatan duniawi, serta perputaran reinkarnasi kehidupan

Historis Kotabaru sebagai imbalan perdamaian. Pangeran Purbaya dari Mataram atau jawa. Meskipun kerajaan Islam. Kesultanan Mataram merupakan simbol berdirinya kekuatan sosial-politik Islam di Jawa yang menjadi titik peralihan sekaligus masa transisi dari masa Hindu-Buddha ke masa Kajawen (Ka-jawi-an). Mataram diakui mampu menyiarkan Islam secara kultural yang ditandai dengan perubahan besar pada masa Sultan Agung dalam mengadaptasikan agama dengan budaya lokal.

Kajian: Informasi Pua Bela penduduk Saranjana miliki agama. Ada yang beragama  Islam maupun bukan beragama Islam. Mendekati dengan gambaran kesultanan Mataram yang turut andil dalam wilayah tersebut terkait agama. Kerajaan Islam namun ada masa kultural Hindu-Buddha. Dari kultural Hindu-Buddha diperkirakan konsep moksa berperan sehingga Kota Saranjaya menjadi gaib seperti gambaran informasi saat ini.

kompetensimedia


Time Dimension Toll Gate
Map of the Dutch Age entitled "Kaart van de Kust-en Binnenlanden van Banjermassing behoorende tot de Reize in het zuidelijke gedeelte van Borneo" by German naturalist Salomon Muller in 1845. Muller was a member of the des Genootschaps en Natuurkundige Komissie in Nederlands Indie or Forestry Service Dutch East Indies. Writes an area called Tandjong Sarandjana, administratively at the present time the area is in the Kotabaru Regency, South Kalimantan, Indonesia.

Community trust
The belief of the local community, the area or the magical city can only be visited by smart people who understand wisdom or the occult. Because looking for it on a modern map of Indonesia, the city does not exist. Although there are many writings that describe the city, even though it is not listed on modern maps. The city, called Saranjaya City, is believed to be located in the southern part of the island, precisely in Oka-Oka Village, Pulau Laut District, Kotabaru, South Kalimantan.

History of Kotabaru
In the period before the entry of Islam, the Dayak tribes who inhabited Kotabaru still adhered to animist beliefs, they lived in groups. It is estimated that the existence of Saranjana City in the territory of the Samihim Dayak tribe, before 1660. Based on the records of historian Goh Yoon Fong who stated that Laut Island was a gift or land of apanage. This gift was given by the Sultanate of Banjar to Prince Purabaya as a tribute and reward for peace. Previously, Banjar nobles had appointed Raden Bagus the Sultan of Banjar who ruled from 1660 to 1663.
In terms of terminology, if the Indian vocabulary, namely Saranjana, means land that is given.

Cultural Notes
Oral sources through the songs of the Maanyan people that their kingdom is Nan Sarunai
The Maanyan people were expelled and fled to a number of places in Kalimantan, including the Samihim Dayak who lived in several places including Pulau Laut or the area where the city of Saranjaya was thought to be located.
Historically, there are songs from the Maanyan Dayak community that are believed to have a connection with an event experienced by the Maanyan Dayak tribe in ancient times. The song tinga janyawai is in touch with folklore, namely the separation of the Nansarunai people on the banks of the Tabalong river. Laisomena's song is a song that contains songs telling the sadness of being left by her grandson named Laisomena. Maybe it was his promise to go abroad so that his grandmother didn't know where he was going.
The seventh stanza of the song Tinga janyawai with a Hermeneutic Approach contains expressions regarding the participation of the entire community in improving the quality of their lives. However, everything is left to each individual, although if there are still shortcomings it is not the will of his heart. Because we've tried.
This cultural record provides a hypothesis. Generally, people used to name something, descendants (children) or areas would be based on history and would have similar naming. If a German naturalist lists the Tandjong Sarandjana area, of course with information from the people of the area, because there is no vocabulary that comes close to German. Estimating the basis of the name of the Nansarunai or Nan Sarunai Kingdom.
Study: Saranjaya/ Tandjong Sarandjana The syllable Saran is close to Saruna from the word Sarunai. The syllable Jaya may have the same meaning as today, jaya, which means to win/better/advance, as the hope in the song Tinga janyawai improves the quality of life.

Current Information
Quoted from the YouTube channel @YouTube @Zona Project Channel, her real name is Pua Bela.
Pua Bela admitted that he was able to go in and out of Saranjaya at first, because his uncle often brought him.
"After I died, I was given the anu (will)," said the Palopo Journal from YouTube @YouTube @Zona Project Channel. He admitted that he had been with the residents of Saranjana City for a long time. Through Pua Bela's narrative, it is known that the residents of Saranjana have a religion.
"Some are Muslim, some are not, there are many tribes. There are a lot of Javanese, Mandar, Bugis mixtures," explained Pua Bela. Generally work at sea (as a fisherman?)

Study: there is a historical record of Kotabaru history based on the historian Goh Yoon Fong's record which states Pulau Laut (around the approximate area of Saranjaya city) as a gift or land of apanage. This gift was given by the Sultanate of Banjar to Prince Purabaya as a tribute and reward for peace. Prince Purbaya from Mataram or Java. So it is possible that the residents of Saranjaya also came from the followers of Prince Purbaya. If Pua Bela said that the people of Saranjaya City were a mixture of Javanese, Mandar and Bugis.

The concept of freedom from the cycle of reincarnation
The term moksha is often used in Hindu and Buddhist beliefs. This concept simply means breaking away from all worldly ties, as well as the cycle of reincarnation of life

Historically Kotabaru in exchange for peace. Prince Purbaya from Mataram or Java. Even though the Islamic empire The Sultanate of Mataram is a symbol of the establishment of the socio-political power of Islam in Java which is a point of transition as well as a transitional period from the Hindu-Buddhist period to the Kajawen (Ka-jawi's) period. Mataram is recognized as capable of broadcasting Islam culturally which was marked by major changes during the time of Sultan Agung in adapting religion to local culture.

Study: Information on Pua Bela, the residents of Saranjana, have a religion. There are Muslims and non-Muslims. Approaching the description of the Mataram sultanate who took part in the region related to religion. The Islamic kingdom but there was a Hindu-Buddhist cultural period. From the Hindu-Buddhist culture, it is estimated that the concept of moksha plays a role so that the city of Saranjaya becomes magical like the current information picture.


JAWA BARAT
 kompetensi
Sekilas Sejarah Kota Tasikmalaya
portal.tasikmalayakota.go.id. Sejarah berdirinya Kota Tasikmalaya sebagai daerah otonomi tidak terlepas dari sejarah berdirinya kabupaten Tasikmalaya sebagai daerah kabupaten induknya. Sebelumnya, kota ini merupakan ibukota dari kabupaten Tasikmalaya, kemudian meningkat statusnya menjadi kota administratif tahun 1976, pada waktu A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya, dan kemudian menjadi pemerintahan kota yang mandiri pada masa Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya dipimpin oleh bupatinya saat itu H. Suljana W.H.

Sang Mutiara dari Priangan Timur itulah julukan bagi kota Tasikmalaya. Kota Tasikmalaya adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Barat. Kota ini terletak pada 108° 08? 38? – 108° 24? 02? BT dan 7° 10? – 7° 26? 32? LS di bagian Tenggara wilayah Propinsi Jawa Barat. Kota ini dahulu adalah sebuah kabupaten, namun seiring dengan perkembangan, maka terbentuklah 2 buah bentuk pemerintahan yaitu Pemerintahan Kabupaten dan Pemerintahan Kota Tasikmalaya.

Tonggak sejarah lahirnya kota Tasikmalaya, mulai di gulirkan ketika Kabupaten Tasikmalaya di pimpin oleh A. Bunyamin, Bupati Tasikmalaya periode tahun 1976 – 1981. Pada saat itu melalui peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1976 diresmikanlah Kota Administratif Tasikmalaya oleh Menteri Dalam Negeri yang pada waktu itu dijabat oleh H. Amir Machmud. Walikota Administratif pertama adalah Drs. H. Oman Roosman, yang dilantik oleh Gubernur Jawa barat, H. Aang Kunaefi.

Pada awal pembentukannya, wilayah kota Administratif Tasikmalaya meliputi 3 Kecamatan yaitu Cipedes, Cihideung dan Tawang dengan jumlah desa sebanyak 13 desa. Kemudian pada tahun 2001, dirintislah pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya oleh Bupati Tasikmalaya, Kol. Inf. H. SuIjana Wirata Hadisubrata (1996 – 2001), dengan membentuk sebuah Tim Sukses Pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya yang diketuai oleh H. Yeng Ds. Partawinata SH. Melalui proses panjang akhirnya dibawah pimpinan Bupati Drs. Tatang Farhanul Hakim, pada tanggal 17 Oktober 2001 melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001, Pembentukan pemerintahan Kota Tasikmalaya sebagai pemerintahan daerah otonom ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden RI di Jakarta bersama-sama dengan kota Lhoksumawe, Langsa, Padangsidempuan, Prabumulih, Lubuk Linggau, Pager Alam, Tanjung Pinang, Cimahi, Batu, Sikawang dan Bau-bau. Selanjutnya pada tanggal 18 Oktober 2001 pelantikan Drs. H. Wahyu Suradiharja sebagai Pejabat Walikota Tasikmalaya oleh Gubernur Jawa Barat dilaksanakan di Gedung Sate Bandung.

BALI
Barong Brutuk
disparda.baliprov.go.id. Barong Brutuk is a traditional art of heritage which still preserve until now in the village of Trunyan, Kintamani. As the culture and tradition which is possessed by the inhabitant of Trunyan village, this place becomes the unique tourist destination. In addition, the Trunyan village has  an ancient art known as Barong Brutuk even the ancient art is predicated has existed previous coming in effect of Hindu to Bali.

It is not all of people recognize the ancient art of Barong Brutuk which is inherited from generation to generation by ancestor of local people. Barong Brutuk is very ancient dance of barong and only exist in the village of Trunyan from hundreds years ago inhabited by the original of Balinese people. This dance describes the life of ancestors in the old time.

In fact, the island of Bali is not only offering the beautiful nature of tourist objects, however, its culture and tradition in some places can be the main attraction. Bali is actually rich due to the culture and tradition, therefore, it becomes the central attraction for foreigners who spending time to the island of Gods of Bali.

Location : Trunyan Village, District of Kintamani, Bangli Regency
kompetensimedia

SUMATERA
Suku Koto Di Tanah Minang, Sumatera Barat

Oleh: Aditya Janta Anugrah
jamberita.com. Suku Koto merupakan satu dari empat suku yang terdapat dalam dua klan induk dalam etnis Minangkabau.  Etnis Minangkabau memiliki dua klan (suku dalam bahasa orang Minang) yaitu klan atau suku Koto Piliang dan klan atau suku Bodi Chaniago.

Asal Usul Suku Koto
Sastrawan sekaligus penulis A.A. Navis dalam bukunya berjudul Alam Terkembang Jadi Guru, menyatakan bahwa nama suku Koto berasal dari kata 'koto' yang berasal dari bahasa Sanskerta 'kotta' yang artinya benteng, di mana dahulu benteng ini terbuat dari bambu.

Di dalam benteng ini terdapat pula pemukiman beberapa warga yang kemudian menjadi sebuah 'koto' yang juga berarti kota, dalam bahasa Batak disebut 'huta' yang artinya kampung.

Dahulu Suku Koto merupakan satu kesatuan dengan Suku Piliang,  tetapi karena perkembangan populasinya ,maka paduan suku ini dimekarkan menjadi dua suku yaitu suku Koto dan suku Piliang.

Suku Koto dipimpin oleh Datuk Ketumanggungan yang memiliki aliran Aristokratis Militeris, di mana falsafah suku Koto Piliang ini adalah "Manitiak dari Ateh, Tabasuik dari bawah, batanggo naiak bajanjang turun" Datuk Ketumanggungan gadang dek digadangan "Besar karena diagungkan oleh orang banyak). Sedangkan Datuk Perpatih Nan Sebatang "tagak samo tinggi, duduak samo randah" Suku Koto

Suku Koto emiliki sejumlah gelar kebangsawanannya, di antaranya :
Datuk Tumangguang, gelar ini diberikan kepada Ir. Tifatul Sembiring oleh warga suku Koto Kanagarian Guguak-Tabek Sarojo, Bukittinggi

Datuk Bandaro Kali, gelar ini pernah akan dinobatkan kepada Mentri Pariwisata Malaysia, Dr. Rais Yatim yang berdarah Minang, tetapi dia menolaknya lantaran akan sulit baginya untuk terlibat dalam kegiatan suku Koto nagari Sipisang setelah dia dinobatkan.

Datuk Sangguno Dirajo
Datuk Panji Alam Khalifatullah, gelar ini dinobatkan kepada Taufik Ismail karena dia seorang tokoh berdarah Minangkabau suku Koto yang telah mempunyai prestasi di bidang seni dan kebudayaan.

Datuk Patih Karsani
Datuk Rangkayo Basa, gelar datuk suku Koto di kenagarian Pakandangan, VI Lingkung, Padang Pariaman

Datuk Palindangan Nan Sabatang gelar yang diberikan kepada tokoh masyarakat bungo yang bernama farid anthonya  yang sekarang ini bertugas di sahabat ukm cabang muara bungo

Suku Koto dalam perkembangannya mengalami pemekaran dalam banyak suku, di antaranya: Tanjung Koto, Koto Piliang di nagari Kacang, Solok, Koto Dalimo, Koto Diateh, Koto Kaciak,Koto Kaciak 4 Paruik Solok Selatan, Koto Tigo Ibu di Solok Selatan, Koto Kampuang,Koto Kerambil,Koto Sipanjang,Koto Sungai Guruah di Nagari Pandai Sikek (Agam),Koto Gantiang di Nagari Pandai Sikek (Agam),Koto Tibalai di Nagari Pandai Sikek (Agam), Koto Limo Paruik di Nagari Pandai Sikek (Agam), Koto Rumah Tinggi di nagari Kamang Hilir (Agam), Koto Rumah Gadang, di nagari Kamang Hilir (Agam),Koto Sariak, di nagari Kamang Hilir (Agam),Koto Kepoh, di nagari Kamang Hilir (Agam),Koto Tibarau, di nagari Kamang Hilir (Agam), Koto Tan Kamang/Koto nan Batigo di nagari Kamang Hilir (Agam),Koto Tuo di Kenegerian Paranap, Inderagiri Hulu,Koto Baru di Kenegerian Paranap, Inderagiri Hulu,Koto Musajik di Kenegerian Sungai Pua

Dahulu suku Koto merupakan satu kesatuan dengan Suku Piliang, tetapi karena perkembangan populasinya maka paduan suku ini dimekarkan menjadi dua suku yaitu suku Koto dan suku Piliang. Suku Koto dipimpin oleh Datuk Ketumanggungan yang memiliki aliran Aristokratis Militeris, di mana falsafah suku Koto Piliang ini adalah "Manitiak dari Ateh (menetes dari atas), Tabasuik dari bawah (muncul dari bawah), batanggo naiak bajanjang turun, merupakan filosofi bagaiman suku Koto mencoba menyelesaikan masalah. Datuk Ketumanggungan gadang dek digadangan(Besar karena diagungkan oleh orang banyak).

Menariknya, beberapa tokoh besar di Indonesia juga banyak yang bersuku Koto, Pengusaha Basrizal Koto, Mantan Mentri Tifatul Sembiring, Penyair Taufiq Ismail, Wartawan Hardimen Koto bahkan Jendral Boy Rafli Amar juga bersuku Koto. Apakah tokoh-tokoh besar di atas juga mengalami cerita bahwasanya buaya tidak memangsa orang suku Koto?

Cerita keistimewaan ini, pasti pernah mampir ke telinga anak minang yang bersuku Koto, biasanya sebagai dongeng pengantar tidur sewaktu kecil atau remaja. Di minang sendiri, suku diwariskan dari ibu bukan dari bapak, atau lebih terkenal dengan istilah matrilineal.

Anehnya, dua orang konco palangkin (teman akrab) saya yang juga sama-sama bersuku Koto, Hendro koto (32) dan Handri (32), mereka juga pernah mendapat cerita buaya dan suku Koto ini dari orangtuanya, artinya, tidak mungkin para orangtua berbohong tentang keistimewaan suku ini.

Di Minangkabau, berbicara sejarah, seni, budaya dan cerita rakyat, memang kental dan erat kaitanya dengan ajaran agama Islam. Adat basandi sarak sarak basandi kitabullah (ABSSBK), secara ringkas semua-semua maslah dirunut kepada kitabullah atau kitab suci Al-Quran. ABSSBK merupakan falsafah hidup orang Minangkabau

Jika dikaitkan cerita ini dengan budaya orang minang yang memang dekat dengan ajaran agama, jelas tersirat pesan moril untuk supaya hidup sesuai tuntunan agama. Jika manusia ciptaan Tuhan yang paling sempurna, hidup sesuai ajaran dan perintah, maka makhluk lain akan semakin tunduk dan hormat. Tidak terkecuali pada binatang, pasti binatang akan tunduk juga sesuai kodratnya. Poin pentingnya, buaya pasti tidak akan memangsa manusia yang hidup sesuai tuntunan agama.

Belum ada literatur atau ulasan resmi tentang cerita suku Koto dan buaya. Namun, jika memang memiliki makna secara tersirat dan tersurat.


Media Kompetensi